Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Hari Kelulusan


__ADS_3

"Rara, akhirnya kita lulus." Setelah melihat papan pengumuman, kedua sahabat ini saling berpelukan. Berbahagia karena perjuangan mereka selama 3 tahun akhirnya terbayar sudah.


"Selamat buat kita semua.." Seluruh murid kelas XII saling mengucap selamat dan berpelukan. Mereka ber-euforia bersama. Tak lupa juga pilox warna-warni untuk mencoret seragam para sahabat, stabillo juga untuk tanda tangan kenang-kenangan.


"Eh, bu bos seragamnya masih bersih aja. Mari kita serang."


"Gak usah." Andini tak bisa mengelak, dia kini sudah diserang teman-temannya. Seragam putihnya sudah berubah warna-warni dan lengkap dengan beberapa tanda tangan dari teman-temannya.


"Selamat atas kelulusannya." suara itu berhasil membuat Andini membalikkan badannya.


"Mas Eza kok di sini?" tanya Andini yang langsung mendapat satu pelukan dari Eza sesaat.


"Special for you. Mau ikut ngerayain hari kelulusan kamu."


"Ih, kayak Mas Eza gak pernah SMA aja." Itulah Andini, sekarang justru dia merasa malu saat harus menerima perlakuan mesra Eza di depan teman-temannya.


"Kita makan-makan yuk?"


"Makan-makan?"


"Iya. Ayo semua yang mau ikut ke cafe, kita makan-makan sampai puas di sana!" ajak Eza kepada semua murid yang ada di sana.


"Widih, gratis Pak?"


"Iya. Gratis. Kita rayakan euforia kita di sana. Yuk?" Eza kini beralih menatap Irvan yang hanya terdiam. Mereka bersitatap beberapa saat. Kemudian Eza berjalan menghampirinya. "Selamat atas nilai terbaik kamu." Eza mengajak Irvan berjabat tangan.

__ADS_1


"Iya Pak. Terima kasih."


"Benar-benar calon penerus Putra Group." setelah berjabat tangan Eza menepuk pundak Irvan sesaat. "Yuk, ikut kita makan-makan."


"Tapi Pak, saya..."


"Tidak apa-apa. Lupakan tentang masa lalu." Mereka berbincang sesaat sambil bejalan keluar dari sekolah.


Andini yang kini berjalan di samping Rara menatap mereka sambil tersenyum. Hidupnya sekarang terasa sangat bahagia. Semoga sampai esok dan seterusnya.


...***...


Malam itu, Andini merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia menatap suaminya yang sedang tersenyum berjalan ke arahnya.


Eza merebahkan dirinya di atas ranjang lalu meraih tubuh Andini dalam pelukannya. "Hmm, bisa gak mikirnya gak ke arah sana terus."


"Yee, kan udah jadi kebiasaan Mas Eza."


Eza terkekeh mendengar tuduhan istrinya yang memang benar adanya.


"Dua hari ini simpan tenaga baik-baik ya."


"Emang kenapa, Mas?" Andini mendongak menatap wajah Eza yang terus mengulum senyum.


"Lusa kita berangkat ke Bali. Nih, aku udah pesan tiket pesawatnya. Kamu belum pernah ke sana kan?"

__ADS_1


Seketika Andini duduk dan melihat dua tiket pesawat yang ada di tangan Eza. "Ini beneran Mas?"


"Iya. Sebenarnya mau aku ajak ke luar negeri, tapi pasti kamu juga belum pernah kan jalan-jalan di kawasan wisata Indonesia."


"Iya, aku belum pernah kemana-mana Mas." Andini mengembalikan dua tiket itu yang kemudian diletakkan Eza di atas nakas.


"Makanya itu, nanti tiap beberapa bulan sekali kita liburan ya. Kita tuntasin dulu destinasi wisata di Indonesia baru keluar negri."


Andini kembali menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan Eza. "Kita ke sana mau honeymoon atau liburan Mas?"


"Dua-duanya." Sesaat kemudian Eza kembali tertawa. "Kita jalan-jalan di sana. Kalau honeymoon kan udah tiap hari di apartemen. Besok kita ke mall belanja buat keperluan kita."


"Memang ke sana harus pakai baju baru?"


Pertanyaan Andini membuat Eza semakin gemas saja. Selama menjadi istrinya, Andini selalu berpikir dulu setiap ingin membeli sesuatu. Padahal tinggal beli dan gesek kartu, beres sudah. Selama ini Eza bekerja juga buat membahagiakan istrinya.


"Kamu kalau diajak belanja, selalu nolak ya. Masak kartu kamu saldonya masih banyak. Aku kerja itu buat kamu. Sekali-kali kamu habisin saldo ATM kamu itu gak papa." kata Eza seraya mengusap rambut halus Andini.


"Hah? Saldo sebanyak itu gak mungkin bisa aku habisin Mas. Ya udah besok belanja pakai kartu aku aja ya."


Eza masih saja tertawa kecil. Andini memang tergolong wanita yang langka.


Eza mengecup puncak kepala Andini sebagai pengantar tidurnya. "I love you. We will be together forever...."


...***...

__ADS_1


__ADS_2