Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Klarifikasi


__ADS_3

Setelah semua murid berkumpul di lapangan, kini Eza dan Pak Wijaya berdiri di depan lapangan. Mereka akan menyelesaikan semua berita simpang siur yang membuat kegaduhan di seluruh sekolah pagi hari itu.


"Memang sama kan yang ada di foto. Sama-sama Pak Eza." bisik-bisik dari beberapa murid yang kini tengah berdiri.


"Wah, kita bisa kena hukuman nih. Jangan-jangan kita disuruh berdiri di lapangan sampai pulang sekolah."


"Kurang ajar tuh Clarissa nyebar berita gak bener. Kita yang kena dampaknya. Mana tadi gue ikut nyumbang hina Andini lagi."


Beberapa murid masih saja berbisik-bisik.


"Tolong diam, saya minta waktunya sebentar."


Mendengar suara Eza seketika seluruh murid yang sedang berbaris itu terdiam. Mereka kini fokus ke depan untuk mendengarkan klarifikasi seperti apa yang akan disampaikan Eza.


"Perkenalkan saya Eza Handoko, pemilik dari sekolah ini."


Bisik-bisik mulai terdengar lagi.


"Iya, saya memang menyamar sebagai guru Matematika dan mengajar kalian. Sekarang, saya berdiri di sini ingin meminta maaf pada kalian semua atas berita yang telah menyebar itu. Di dalam foto itu memang saya, semuanya. Tidak ada orang lain selain saya. Tapi, kalian jangan menganggap Andini seperti apa yang berada di tulisan itu. Hubungan saya dan Andini bukan seperti seorang penjual dan pembeli. Kalian jangan termakan berita hoax seperti itu."


"Tapi Pak, apa hubungan bapak dengan Andini? Kalau tidak ada hubungan apa-apa, jelas Bapak salah melakukan hal itu di luar batas wajar." Tanya salah satu murid yang mewakili seluruh pertanyaan murid lain.


"Baik. Saya akan jawab sejujurnya. Saya dan Andini memiliki hubungan yang sah. Sah sebagai suami dan istri. Secara agama dan negara."


Satu pernyataan yang membuat seluruh murid terkejut. Bisik-bisik kembali terdengar lagi.


"Jangan ada yang berpikir negatif terlebih dahulu. Kita menikah bukan karena MBA atau semacamnya tapi atas dasar perasaan dan karena saya ingin menjadi bagian dari hidup Andini yang... Ya, Andini hidup sendiri, dia yatim piatu. Jadi saya tidak mungkin membiarkan hidup dia terus seperti itu."


Mereka akhirnya terdiam dan mulai bisa memahami situasi.


"Baik, jika ada yang keberatan atau tidak terima dengan status Andini di sekolah ini, saya akan membawa Andini keluar dari sekolah ini. Saya tidak mau lagi ada perundungan dan keributan lainnya karena status ini." Begitu bijaksananya Eza mengambil keputusan. Walau dia mempunyai kekuasaan tapi dia tidak mau bertindak semena tanpa memikirkan pendapat orang lain.


"Kami semua tidak keberatan, Pak. Tapi bagaimana hukuman untuk Clarissa? Dia yang menyebabkan kita menjadi memanas karena berita-berita yang tidak benar itu. Bukan kita yang bully Andini tapi Clarissa."


"Iya, betul!!"


"Iya, iya. Clarissa akan keluar dari sekolah ini. Saya berharap, setelah ini jangan ada lagi keributan. Tetap berteman dengan Andini seperti biasanya, jangan menganggap dia spesial atau jangan lagi rendahkan dia seperti sebelumnya."


"Iya, Pak." jawab mereka serempak.


"Terima kasih atas waktunya. Saya pamit undur diri. Setelah ini, Pak Ridho akan kembali mengajar kalian, bukan saya lagi. Hmm, Pak Wijaya mungkin mau menambahkan satu atau dua kata."


"Baik, terima kasih Pak Eza ...."

__ADS_1


...***...


Eza masuk ke dalam UKS, dia kini tersenyum melihat Andini yang sedang tertidur di atas bed UKS yang ditemani Rara. Rara juga tertidur sambil menangkup kepalanya di tepi bed.


Eza berjalan mendekat dengan satu tangan yang menenteng satu kantong plastik berisi makanan. Spesial untuk Andini.


"Sayang..." Eza sengaja mengusap lembut pipi Andini agar terbangun dari tidurnya.


"Hem," Andini bergeliat sambil menguap kecil.


"Mau menginap di sini? Ini udah malam loh." Goda Eza yang seketika membuat mata Andini terbuka dengan sempurna.


"Udah malam?" Andini terbangun dan menatap Eza yang sedang tertawa melihat ekspresi Andini yang sangat menggemaskan. "Ih, Mas Eza. Kirain beneran udah malam."


"Nyenyak banget tidurnya?"


"Iya, gak ada nyamuknya di sini." Andini tertawa, karena nyamuk yang dia maksud adalah tanda kutip.


"Oo, nyamuk yang biasanya gigit kamu itu. Jadi pengen gigit tapi ada Rara yang sedang tidur."


"Rara?"


"Tuh.." Eza menunjuk Rara yang masih saja tertidur nyenyak sampai ileran.


"Astaga, Rara. Ih, kalau tidur kebisaan banget. Ra..." Andini mengguncang tubuh Rara agar segera terbangun. "Ra,.." Tapi Rara tak bangun juga.


Andini menghentikan gerak tangannya mengguncang Rara. Kini tangan itu beralih mengenggam tangan Eza yang sedari tadi mengusap rambutnya. "Hmm, Mas gimana masalah tadi?"


"Loh, kamu gak dengar suara aku klarifikasi?"


Andini menggelengkan kepalanya yang membuat Eza menjadi semakin gemas.


"Ya sudah. Pokoknya semua sudah beres. Mulai besok kamu bisa sekolah dengan tenang. Gak ada lagi yang namanya perundungan. Dan satu lagi, Clarissa sudah tidak bersekolah di sini."


"Mas Eza yang ngeluarin."


"Bukan. Tapi Papanya yang memindahkannya ke sekolah lain."


Andini tersenyum lalu sedetik kemudian dia meraih tubuh Eza dan memeluknya. "Makasih ya, Mas."


"Sama-sama. Mulai sekarang hubungan kita udah tidak dirahasiakan lagi."


Seketika Andini mendongak menatap Eza. "Maksudnya?"

__ADS_1


"Iya, aku sudah klarifikasi hubungan kita. Dan teman-teman kamu gak keberatan sama status kamu."


"Terus?"


"Ya, kamu tinggal sekolah aja seperti biasa. Tapi aku sudah tidak jadi guru lagi di sini. Aku kembali kerja di kantor."


Andini tersenyum. Dia lega karena masalahnya telah usai.


"Sayang." Eza melepaskan pelukannya lalu meraih kantong yang dia letakkan di meja nakas. "Kamu makan dulu ya, aku beliin hamburger sama french fries."


"Ini sih, kesukaannya Rara. Mas beliin buat Rara juga kan?"


"Iya."


Andini kembali mengguncang tubuh Rara agar bangun. "Ra, bangun Ra. Ra..."


Akhirnya Rara mengerjapkan matanya dan menegakkan kepalanya.


"Nih, lo mau gak?" Andini sengaja menyodorkan hamburger di depan Rara yang masih belum sepenuhnya sadar.


Aroma hamburger yang lezat seketika membuat rasa kantuk Rara menguar. "Enak banget baunya."


"Nih, buat lo."


Senyum Rara merekah. Dia menerima hamburger itu dengan sukacita. "Makasih ya, tahu aja kalau gue lapar habis ketiduran." Rara langsung melahap hamburger itu dengan rakus.


Eza dan Andini hanya tersenyum.


"Kamu makan juga." Eza mengambilkan lagi hamburger dari kantong kertas lalu menyuapi Andini.


"Ih, Mas Eza juga dong." Andini meraih hamburger itu lalu beralih menyuapi Eza.


"Duh, so sweet banget..." kata Rara sambil tersenyum lebar. "Aku keluar dulu aja ya."


"Tidak usah. Kamu di sini aja. Nih, masih ada french fries. Anak-anak sudah pada pulang. Saya kasih bonus pulang cepat hari ini."


"Pak Eza ini baik banget ya. Beruntungnya Andini." kata Rara sambil meraih french fries dan memakannya lagi.


"Nanti kalau udah saatnya kamu pasti dapat jodoh yang tepat, Ra." kata Andini sambil sesekali menerima suapan dari Eza. "Mas, kalau aku ajak Rara ke apartemen, boleh ya?"


"Ya boleh dong. Gak papa. Biar kamu ada temannya. Lagian kalau aku udah balik kerja di kantor pasti pulangnya sore."


Setelah semua makanan habis, mereka keluar dari UKS dan segera pulang.

__ADS_1


...***...


...✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨...


__ADS_2