Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Rendi.. Rendi..


__ADS_3

"Sayang lagi ngerjain tugas apa?" tanya Eza sambil duduk di samping Andini yang sedang membuka buku-buku pelajarannya di atas meja belajar.


"Lagi, belajar aja."


"Tumben banget." jawaban Eza memang sedikit nyelekit tapi tidak apalah memang itu kenyataannya.


"Kurang beberapa bulan lagi kan udah UNBK."


"Mana yang gak ngerti? Sini aku ajarin."Eza mendekatkan dirinya sambil menatap tulisan-tulisan yang sedang dipelajari Andini.


"Ajarin apa?" Andini mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Eza yang berada di sampingnya dengan senyum menggodanya.


"Jangan goda gini." Eza sedikit mencubit hidung Andini. "Kan lagi istirahat. Apa mau aku ajarin senam lima jari."


Awalnya Andini tidak mengerti tapi beberapa saat kemudian dia mengerti dengan maksud suaminya itu. "Ih, Mas Eza omes banget."


"Biarin, kan sama istri sendiri." Eza melingkarkan tangannya di pinggang Andini lalu menenggelamkan dirinya di leher Andini. "Setelah lulus kamu mau kuliah dimana?"


Andini terdiam sesaat. "Masih bingung."


"Ngapain bingung. Kamu tinggal pilih aja. Jangan bilang kalau malas buat kuliah. Gak papa sih, nanti kamu di rumah aja jagain anak-anak kita." Eza semakin menenggelamkan dirinya sambil mengendus dalam aroma harum leher Andini.


"Aku masih bingung mau ambil fakultas apa? Otak aku ini kan pas-pasan banget."


"Itu sih gampang. Kamu sukanya apa? Langsung masuk aja. Atau..." Eza menegakkan kepalanya walau tanpa melepas tangan yang melingkar. "Kamu ambil jurusan tata boga aja. Kamu kan suka masak."


"Emang ada? Di kampus mana?"


"Di kampus negeri ada. Nanti coba aku cek lagi."


Andini tersenyum merekah. "Makasih ya Mas." lalu dia mengeratkan pelukannya.


"Sama-sama." Eza mendekatkan dirinya.


Ingin merasakan manisnya madu yang menjadi candu itu. Menyusurinya dengan hisapan kecil yang mampu membuat gelora kembali muncul.


"I love you." ucap Eza setelah melepaskan dirinya.


"I love you too..."


...***...


Pagi itu, Eza menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah Andini.


"Kayaknya nanti ada meeting di kantor. Nanti biar Rendi saja yang jemput kamu ya."


"Aku bisa naik grab car, Mas."


"Jangan! Pokoknya nanti biar Rendi jemput kamu."

__ADS_1


"Ya sudah. Terserah Mas aja." Andini mencium punggung tangan Eza. Setelah mendapat ciuman di keningnya dia turun dari mobil.


Dia langkahkan kakinya tanpa ragu masuk ke dalam gerbang sekolah. Meski sebenarnya dadanya cukup berdebar-debar karena ini hari pertama dia bersekolah dengan status yang sudah diketahui seluruh teman-temannya.


Setiap dia berpapasan dengan temannya, dia selalu mendapat sapaan hormat.


"Pagi Bu Andini.."


Mendengar sapaan itu, Andini mengernyitkan dahinya. Ini terlalu berlebihan.


"Pagi nyonya."


Nyonya? Andini semakin menggelengkan kepalanya. Mendapat perlakuan istimewa seperti itu, Andini semakin merasa malu.


Dia kini masuk ke dalam kelasnya. Masih tetap sama. Dia diperlakukan seolah dia adalah atasan yang sangat agung.


"Aduh, kalian ini kenapa sih? Biasa ajalah. Jangan lebay gini." kata Andini sambil duduk di bangkunya.


"Kan, Bu Andini istri pemilik sekolah ini."


"Kok dipanggil Bu, sih. Gue masih muda kali. Udahlah kayak biasanya aja. Jangan pandang status atau apapun."


Mereka semua akhirnya mengiyakan sambil tertawa.


Ada seseorang yang memandangnya sambil tersenyum kecil. Satu hal yang membuatnya menyesal, mengapa dia tidak lebih dulu membahagiakan Andini daripada memikirkan egonya. Irvan membuang napas kasar. Dia kini hanya bisa menatapnya tanpa lagi bisa menyentuh atau bahkan mengobrol.


"Ra, nanti pulang sekolah ke tempat gue yuk? Lo gak ada acara kan?"


"Tenang aja. Nanti gue orderin apa aja yang lo mau."


"Percaya deh sama istrinya Bu bos." Mereka tertawa.


Beberapa saat kemudian, pelajaran dimulai.


Waktu berlalu begitu cepat. Dua orang sahabat ini bergandengan tangan sambil berjalan menuju gerbang sekolah.


"Loh, Kak Rendi katanya tadi udah jemput tapi kemana ya?" Andini bergumam sendiri. Beberapa saat kemudian Eza kembali menghubunginya.


"Hallo Mas, Kak Rendi belum jemput? Gak ada di depan gerbang."


"Udah jemput dari tadi, sayang. Dia pakai mobil kantor warna silver."


"Mobil silver? Iya ada mobilnya tapi orangnya gak ada."


"Coba cari. Mungkin si player lagi cari mangsa."


"Ya udah, Mas."


Setelah mematikan ponselnya, Andini mengedarkan pandangannya. Dari kejauhan nampak teman-teman gadisnya sedang bergerombol. "Masak sih di sana? Hmm, Ra kamu tunggu sini ya. Aku cari Kak Rendi dulu."

__ADS_1


"Iya."


Andini berjalan menuju teman-temannya. Benar dugaannya, ada Rendi yang sedang tebar pesona di sana. "Kak Rendi, di cariin dari tadi ternyata di sini."


"Eh, sorry Bu bos." Rendi bercengir kuda lalu berjalan sambil melambaikan tangannya. "Besok saja ya..."


Mereka berjalan menuju mobil. "Kalau kayak gini sih gak papa gue di suruh jemput Bu Bos tiap hari. Pemandangannya seger-seger oey. Jadi pengen pilih satu buat dijadiin istri."


Andini hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Memang Rendi si player.


"Ayo, Ra." ajak Andini.


Seketika Rendi menghentikan dirinya di dekat mobil. Dia menatap dengan seksama tubuh Rara yang gimbul itu. "Eh, gak salah temennya? Nanti kalau ban mobilnya kempes gimana?"


"Kak Rendi, jangan bilang gitu."


"Siapa sih dia? Sopir aja sombong banget."


"Sopir? Eh, gue itu assisten pribadinya Eza. Bu Bos, yakin mau ajak dia?"


"Dia kan sahabat aku. Ya udahlah, kalau Kak Rendi gak mau biar aku pesen grab aja."


"Jangan. Nanti gue dimarahi sama Pak Bos. Barusan cuma bercanda. Yuk!" Rendi masuk ke dalam mobil.


Setelah Andini dan Rara masuk ke dalam mobil, Rendi segera melajukan mobilnya menuju apartemen Eza.


Sesekali Rendi melirik mereka berdua yang sedang asyik bercanda dari rear spion.


Sayang, temen Andini gimbul. Coba kalau cantik dan sexy kayak Andini, bisa kesempatan banget kan. Gara-gara si bos nih, gue jadi penasaran juga sama anak SMA.


Rendi menghentikan mobilnya di parkir apartemen.


"Kak Rendi langsung balik ke kantor?"


"Nggak. Mau tidur dulu di apartemen."


Andini mengernyitkan dahinya mendengar kalimat Rendi.


"Eh, maksud gue. Gue mau tidur di apartemen baru gue. Baru aja di beliin Bos, bonus karena menang beberapa tender. Baik ya, suaminya Bu Bos."


Andini hanya tertawa kecil. "Kak, jangan manggil Bu Bos terus. Panggil Andini aja."


"Loh, jangan. Gue panggil Bu Bos itu biar tahu dirilah. Nanti kalau gue manggil Andini, bisa ngelunjak gue nya. Dan satu lagi nanti bisa kena hukuman gantung sama Pak Bos bucin."


Mereka keluar dari mobil, saat sudah berjalan sekitar dua meter, tiba-tiba Rara berhenti. "Hp gue ketinggalan di mobil Din."


"Ketinggalan? Hmm, Kak tolong ambilin hp Rara dong ketinggalan di mobil."


Rendi berdengus kesal. Lalu dia membalikkan badannya dan kembali ke mobil. Dia buka pintu belakang lalu mengambil ponsel yang memang tergeletak di kursi belakang.

__ADS_1


Setelah itu dia membalikkan badannya. "Astaga.." Rendi sangat terkejut ketika badan tegapnya bertabrakan dengan badan gimbul Rara.


....


__ADS_2