Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Dimana??


__ADS_3

Andini turun dari mobil lalu segera masuk ke dalam perusahaan yang sangat megah itu. Mulai dari lantai satu banyak karyawan di sana yang menyapa Andini dengan hormat.


Dia memang sudah tiga kali ke kantor Eza jadi beberapa karyawan sudah tahu tentang dirinya.


Andini masuk ke dalam lift dan menuju lantai 11, dimana ruangan suaminya berada. Setelah sampai di lantai 11, dia keluar dan masuk ke dalam ruangan. Ada Asri, sekretaris Eza yang menempati ruangan di depan ruangan Eza.


"Mbak Asri, Mas Eza ada kan di dalam?" tanya Andini.


Asri terdiam beberapa saat. Dia cukup terkejut dengan kedatangan istri bosnya itu. "I-iya, ada Bu.. Tapi.."


"Baik. Terima kasih." Andini memotong perkataan Asri yang terbata itu. Dia masih tersenyum kecil menatap kotak yang ada di tangan kanannya dengan tangan kiri yang kini mendorong gagang pintu yang tidak terkunci itu.


Pandangan matanya kini menangkap dua orang yang sedang berpelukan. Hatinya bagai tersayat. Sakit tapi tak berdarah. Air mata sudah tidak mampu dia bendung lagi. "Mas Eza..." Seketika kotak yang ada di tangannya terjatuh. Dia balikkan badannya dan berlari meninggalkan ruangan Eza.


Andini masuk ke dalan lift, dia turun ke lantai dasar. Saat dia keluar dari lift dia berpapasan dengan Rendi.


"Bu Bos kenapa nangis?"


"Gak papa.." jawab Andini sambil berlalu dan semakin mempercepat langkahnya. Dia hapus asal air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir.

__ADS_1


Rendi menggaruk rambutnya sesaat lalu dia naik ke lantai atas. Saat dia keluar dari lift, dia bertemu dengan Stefi yang sedang uring-uringan.


Rendi tidak mau tahu masalah Stefi, sekarang dia harus mencari tahu sendiri pada Eza. Dia menghentikan langkahnya saat melihat Eza sedang berlari ke arahnya.


"Rendi, lo tahu Andini kemana?"


"Gue tadi ketemu di bawah. Dia nangis. Bos udah ngapain? Selingkuh sama Stefi?"


"Jangan asal kalau ngomong. Ini salah paham." Eza akan masuk ke dalam lift tapi pintu lift tak juga terbuka. Sampai Eza memencet tombol beberapa kali.


"Kasihan Bos. Tahu gitu gue cegah ya tadi."


"Daripada berisik. Ikut gue cari Andini."


"Pak, lihat istri saya? Apa dia sudah keluar dari sini?"


"Nyonya sudah keluar. Udah beberapa menit lalu. Dia berjalan ke tepi jalan. Coba saya lihat lagi ya, Pak. Barang kali masih menunggu mobil di sana."


"Iya Pak. Terima kasih." Eza mencoba menghubungi ponsel Andini tapi tidak dia angkat. Sampai mengulanginya lagi tapi tetap sama tidak dia angkat.

__ADS_1


"Mungkin pulang ke apartemen Bos."


"Iya, mungkin aja." Eza kembali menghubungi ponsel Andini sambil berjalan menuju mobilnya tapi lagi-lagi tidak diangkatnya. Perasaan Eza menjadi tidak tenang. Dia takut terjadi apa-apa dengan istrinya.


"Pak, apa ini tas nyonya?" kata Pak Satpam sambil memberikan sebuah tas pada Eza.


Eza melihat tas itu lalu memegangnya. "Iya, ini tas istri saya. Bagaimana bisa ada di Bapak?" Eza membuka tas itu, ada ponsel dan juga dompet di dalamnya.


"Tadi saya menemukannya di pinggir jalan Pak."


Seketika jantung Eza berdetak lebih cepat. Pikiran buruk kini menyelimutinya. "Astaga, Andini kamu kemana?"


"Waduh bos, jangan-jangan istri bos diculik."


Kini harapan Eza satu-satunya berada pada gps di jam tangan Andini. Semoga saja Andini memakai jam itu. Dengan tangan yang gemetar Eza membuka map di ponselnya. Dia sudah sangat tidak sabar menunggu proses yang terus bergerak melingkar. "Ayo... Cepat.."


Posisi Andini berhasil ditemukan. Dia sudah lumayan jauh dari tempat Eza. Di map posisi Andini masih terus berjalan.


Eza berdengus kesal. "Ini pasti kerjaannya Stefi. Rendi lo lapor polisi sama bawa semua orang keamanan kita. Gue sharelok terkini, lo ikuti kemana gue pergi."

__ADS_1


"Iya bos."


Eza masuk ke dalam mobilnya lalu segera melajukan mobilnya cukup kencang menuju lokasi Andini. "Semoga gak terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kita sayang..."


__ADS_2