Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Definisi Sakit Tapi Tak Berdarah


__ADS_3

Andini berusaha melangkahkan kakinya di sisa tenaganya, tapi tiba-tiba tubuhnya limbung. Dengan sigap Arka menahan tubuh Andini agar tidak sampai jatuh. Dia tahan tubuh itu dengan kedua tangannya dan setengah memeluknya.


"Andini!!" Eza segera berlari lalu meraih tubuh Andini dalam pelukannya. Kedua pria ini saling bertatapan beberapa saat, saling terkejut tanpa berkata.


"Makasih, Ka." ucap Eza beberapa detik kemudian.


"I-iya, Pak Eza." Arka masih berdiri mematung melihat wajah khawatir Eza dan rengkuhan eratnya pada Andini. Ada apa dengan mereka sebenarnya?


"Sayang, kamu pucat banget." Dengan rengkuhannya Eza mengajak Andini duduk di dekat pos satpam terlebih dahulu. Dia usap lembut rambut yang agak berantakan itu.


Sayang? Sebutan itu jelas Arka tidak salah dengar. Apa sebenarnya hubungan mereka? Kekasih atau apa? Arka menerka-nerka nya sendiri. Seharusnya dia selidiki dulu status gadis yang menjadi incarannya itu. Bukan menaruh hati dulu lalu dipatahkan sebelum bisa mengungkapkannya. Niat hati ingin mendekati Andini, memberi perhatian lebih untuknya agar bisa mendapatkan hatinya tapi sekarang justru rasa itu terbakar, hangus, lalu tertiup angin tanpa bekas. Hanya menyisakan perih yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Badan aku lemas banget Mas." Andini semakin menyandarkan dirinya di dada Eza.


"Kamu muntah berapa kali barusan?"


"Dua kali."


"Astaga sayang, kamu nanti bisa dehidrasi." Eza kini melihat Arka yang masih saja berdiri mematung. "Ka, kamu ada kelas?"


Arka hanya menggelengkan kepalanya. Dia masih saja spechless melihat Andini dan Eza. Dia kini merasakan patah hati sebelum cintanya benar-benar berkembang.


"Kamu bawa mobil aku ya. Antar kita ke rumah sakit," perintah Eza selayaknya bos pada anak buahnya.


Arka meloading beberapa saat. Tapi sedetik kemudian dia mengiyakan perintah Eza.


"Ini kuncinya." Eza memberikan kunci mobil pada Arka.


Arka segera berlalu dan masuk ke dalam pengemudi.


"Mas, kok kenal sama Arka?" tanya Andini untuk menghilangkan rasa penasarannya. Karena sejujurnya barusan dia sempat takut kalau suaminya itu salah paham.


"Arka itu anaknya Pak Wawan." Eza membantu Andini berdiri. "Bisa jalan gak? Kalau gak kuat aku gendong."


"Bisa Mas."

__ADS_1


Masih tetap dengan rengkuhannya, mereka berjalan mendekati mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, kedua pria ini masih saja beradu tatap beberapa saat.


Eza tanggap dengan tatapan Arka, pasti dia ingin tahu hubungannya dengan Andini. "Arka, ini Andini istri aku. Setelah aku nikah, kamu memang belum pernah ke rumah kan."


Kalimat singkat itu begitu meluluh lantah hatinya. Sepertinya inilah definisi sakit tapi tak berdarah. Bukan hanya patah hati yang dia rasakan, tapi dia kini merasa terhempas ke tempat asalnya. Dia harus tahu diri, dia hanya anak dari sopir di keluarga Eza, bisa-bisanya dia menaruh hati pada istri bosnya itu.


"Iya Pak, maaf saya baru tahu. Selamat ya, Pak."


"Iya. Terima kasih." Eza semakin merengkuh tubuh istrinya yang kini duduk di kursi belakang.


"Kita ke rumah sakit mana Pak?" tanya Arka yang mulai menghidupkan mesin mobil itu.


"Ke RSIA Melati Husada ya."


Andini yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di dada Eza sedikit mendongak menatapnya. "Mas kok ke rumah sakit ibu dan anak?" Ya, setahu Andini rumah sakit itu memang rumah sakit khusus untuk ibu dan anak, tidak untuk penyakit umum.


Arka segera melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Dia sesekali masih melirik rear spion untuk melihat pasangan yang menurutnya sangat serasi itu. Tapi terasa sangat mengenaskan untuk hatinya sendiri.


"Ya mau periksa sayang." jawab Eza sambil mengusap lengan Andini dengan tangan kiri yang merengkuhnya, sedangkan tangan kanannya kini mengenggam erat tangan Andini yang terasa dingin itu.


"Iya. Sayang kamu masih belum sadar juga?" tangan Eza kini beralih mengusap lembut perut Andini. "Kayaknya udah ada calon anak kita di sini."


Mendengar itu hampir-hampir saja Arka tersedak ludahnya sendiri. Tangannya yang sedari tadi memegang pengemudi terasa berkeringat. Barusan dia salah memberikan perhatian lain pada istri orang, bahkan sudah berandai yang tidak-tidak. Sudah hatinya terasa sakit, ditambah kini dia merasa berdosa telah mencintai istri orang.


Andini terdiam. Dia mengingat-ingat kembali kapan terakhir masa periodenya, sepertinya memang sudah terlambat. "Tapi Mas kalau ternyata tidak?"


"Ya, tidak apa-apa." Eza mengecup singkat puncak kepala istrinya. Dia mengerti bagaimana perasaan Andini, pasti masih terbesit rasa trauma setelah mengalami keguguran.


"Aku takut Mas, kejadian itu terulang lagi."


"Gak usah takut. Yang penting sekarang kita harus benar-benar menjaganya. Aku akan selalu ada buat kamu."


Andini mengangguk pelan. Dadanya kini berdebar membayangkan hasilnya. Apakah benar yang dikatakan suaminya itu?


Rupanya rasa berdebar itu kembali membuat Andini mual. "Mas, ada air putih?"

__ADS_1


"Kenapa? Kamu mual lagi? Sebentar sayang." Tangan Eza mengulur mengambil kantong plastik yang ada di jok depan. "Ini, tadi aku beli air putih sama manisan mangga kering. Kata Mama itu bisa menghilangkan rasa mual." Eza memberikan botol air mineral yang telah terbuka sealnya, setelah Andini meminumnya, kemudian dia menyodorkan manisan mangga kering yang berada dalam jar dan telah dia buka.


Andini memakannya. Perpaduan rasa manis dan asam sangat cocok di lidahnya. Rasa mual itu berangsur hilang. "Enak Mas. Mau?"


Eza menggelengkan kepalanya. "Kamu makan aja. Kalau kamu cocok dengan rasanya nanti kita beli lagi." Eza tersenyum menatap wajah istrinya yang sudah tidak terlalu pucat seperti tadi.


Pantaslah, Andini selalu menghindar setiap aku dekati. Pak Eza benar-benar suami yang sangat perhatian. Lain kali aku harus lebih hati-hati, aku gak mau terjebak cinta dengan istri orang lagi. Arka masih saja sesekali melihat mereka dari rear spion.


Kali ini Eza bisa menangkap tatapan Arka. Dia tersenyum kecil. Ternyata benar Arka menaruh hati pada istrinya. Untuk kali ini dia menangani kasus ini bukan dengan kekerasan tapi dengan cara halus seperti ini. Dia sengaja menyuruh Arka menjadi sopir sementara agar Arka tahu kemesraannya dengan Andini. Memang devil.


Beberapa saat kemudian mobil Eza berhenti di tempat parkir rumah sakit.


"Arka, gak papa kan kamu menunggu di sini?"


"Iya. Tidak apa-apa, Pak."


"Ya sudah." Eza keluar terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk istrinya. "Bisa?" Eza membantu Andini keluar dari mobil.


"Bisa Mas."


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah sakit dengan tangan Eza yang terus merengkuh tubuh Andini.


Satu helaan napas panjang keluar dari hidung Arka. "Jadi ini definisi sakit tapi tak berdarah itu..." Arka menertawakan dirinya sendiri lalu dia keluar dari mobil dan mencari tempat duduk untuk menunggu mereka.


💞💞💞


.


.


.


Like dan komen ya..


Mari kasih bunga untuk Arka.. 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2