
"Akhirnya sampai di apartemen kita." Eza merengkuh tubuh Andini setelah keluar dari lift.
Sore itu Andini sudah boleh pulang dari rumah sakit. Sebelum menuju apartemen, Eza mengajak Andini terlebih dahulu untuk makan di sebuah kedai bubur agar setelah sampai Andini bisa langsung beristirahat.
Setelah membuka pintu apartemennya, mereka berdua dikejutkan dengan dua orang yang kini tengah duduk di sofa sambil menatap layar televisi.
"Papa sama Mama jam berapa sampai?"
Rupanya mereka adalah orang tua Eza. Mereka memang memiliki kartu akses untuk masuk ke apartemen putranya.
"Tadi jam 3 sore." jawab Bu Sonya.
Mereka berdua segera bersalaman dan mencium punggung tangan kedua orang tua Eza lalu duduk bersebelahan di sofa.
"Andini sakit apa sayang? Tadi Rendi cerita katanya kamu masuk rumah sakit." tanya Bu Sonya yang memang sempat diberi kabar oleh Rendi.
"Asam lambung kambuh, Ma."
"Asam lambung? Eza kamu gak perhatiin makan istri kamu. Kalau punya asam lambung itu gak boleh sampai telat makan."
"Iya Ma. Eza tahu. Kemarin ada kesalahan teknis sampai telat makan." Eza tersenyum kecil menutupi kesalahannya kemarin.
"Jangan dibiarkan lagi ya. Andini gimana hidup sama Eza. Dia gak nakal kan sama kamu?" tanya Bu Sonya. Dia memang tipe ibu yang sangat baik dan perhatian.
Andini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum malu. Eza kan masih belum nakal-nakal sama Andini.
"Eza, kamu kan sudah dapat incaran kamu. Kapan kembali ke kantor?" Tanya Pak Handoko.
"Nanti dulu ya, Pa. Cari waktu yang kondusif. Papa kan tahu cita-cita Eza dulu ingin jadi guru, beri Eza waktu lagi ya, Pa."
"Ya sudah. Untuk sementara biar Papa handle kantor dulu. Tapi kamu cepat kembali ya. Jangan keasyikan di sekolah malah lupa pekerjaan kamu."
."Iya Pa. Ini Eza juga tiap hari kerja lewat e-mail. Masih sering ke kantor juga walau cuma bentar."
"Eza, Mama sama Papa mau menginap di sini ya malam ini."
Mendengar hal itu Eza dan Andini saling lihat. Mereka seolah sama-sama berkata dari isyarat mata.
__ADS_1
"Iya Ma. Tapi di kamar sebelah banyak barang-barang Andini. Soalnya di kamar Eza sudah penuh."
"Gak papa. Kita cuma semalam menginapnya. Oiya, kalian sudah makan?"
"Sudah, Ma."
"Ya sudah. Andini kamu istirahat saja ya biar cepat sehat. Nanti pas weekend kamu menginap ya di rumah Mama."
"Iya Ma. Saya ambil piyama dulu ya Ma di kamar." Andini sengaja menyenggol Eza agar mengikutinya ke kamar.
"Eza." panggil Pak Handoko saat melihat Eza mengekori istrinya ke kamar. "Jangan tidur dulu, Papa masih mau mengobrol sama kamu."
"Iya Pa. Sebentar."
Setelah masuk ke dalam kamarnya Andini segera menarik salah satu piyama yang ada di lemari.
"Gak papa tidur di kamar aku?"
"Gak papa."
Mereka berdua keluar lalu masuk ke kamar Eza.
"Iya."
Eza tersenyum lalu mengusap puncak kepala Andini sesaat sebelum keluar dari kamar.
Setelah Eza keluar, Andini segera mengganti pakaiannya dengan piyama. "Loh, aku tadi ambil piyama kimono. Biarin deh. Udah terlanjur."
Setelah berganti baju, Andini merebahkan dirinya di atas tempat tidur king size milik Eza. Aroma maskulin Eza yang masih menempel benar-benar memabukkan Andini.
Dia kini menarik selimut hingga menutupi separuh tubuhnya. Ingin dia tidur, tapi dia justru menatap nyalang langit-langit tanpa rasa kantuk.
Sampai satu jam berlalu, Andini tak juga tidur. Bahkan kini Eza telah masuk ke dalam kamar.
"Sayang belum tidur?"
Andini hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Terlihat Eza berjalan ke kamar mandi lalu dia keluar sudah memakai piyamanya dan berjalan mendekati tempat tidur untuk mengambil satu bantal. "Biar aku tidur di sofa."
"Ngapain tidur di sofa. Tidur di sini gak papa."
Andini menggeser tubuhnya agar tempat Eza lebih luas.
Eza tercekat beberapa saat. Lagi-lagi desiran aneh muncul di sekujur tubuhnya. Haruskah dia tidur dengan tersiksa seperti semalam?
"Mas.."
"I-iya." Eza akhirnya meletakkan kembali bantalnya lalu naik ke atas ranjang.
Andini yang saat ini sedang memunggunginya dengan selimut yang sudah melorot ke bawah hingga terlihat kaki jenjang itu, benar-benar menguji kejantanannya.
Eza mendekatkan dirinya lalu memeluk Andini dari belakang. Sepertinya malam ini dia tidak bisa menahannya lagi.
"Andini, untuk malam ini kamu mau gak jadi Angel buat aku?" tanya Eza dengan suara beratnya di dekat telinga Andini.
"Kenapa?"
"Aku lagi pengen."
Hangat napas Eza meniup-niup telinga Andini. Andini kini merebahkan dirinya hingga tatapan mereka saling bersirobok.
"Mas Eza kan sudah punya istri. Kenapa masih mau aku jadi Angel?"
"Memangnya kamu sudah..." Eza menghentikan perkataannya karena Andini sudah mengangguk sebelum kalimat itu selesai.
Eza menelan salivanya berkali-kali. Dadanya berdebar-debar tidak karuan. Benarkah ini saatnya?
"May I?" (Bolehkah aku?)
💞💞💞
.
.
__ADS_1
.