
"Bos." panggil Rendi saat masuk ke dalam ruangan Andini siang itu.
Eza yang sedang duduk di sebelah Andini, kini berdiri. Dia melihat Rendi yang sudah datang bersama Pak Satya.
"Pak Satya mau bertemu."
Eza sebenarnya malas berhadapan dengan Pak Satya lagi. Tapi hanya untuk menghormati Pak Satya yang telah datang, Eza akhirnya berdiri. "Sayang sebentar ya..." ucap Eza sambil berjalan mendekati mereka berdua.
"Silahkan duduk Pak."
Mereka bertiga kini duduk di atas sofa.
"Bagaimana keadaan istri Pak Eza?" tanya Pak Satya memulai percakapan.
"Sudah mulai membaik."
"Saya ingin minta maaf karena ulah putri saya, istri Pak Eza mengalami keguguran."
Satu helaan napas dalam berhembus dari hidung Eza. "Iya Pak. Maaf pun juga sudah tidak bisa mengembalikan keadaan."
Pak Satya mengerti, itu artinya Eza tidak akan memaafkan perbuatan putrinya. "Iya Pak. Saya mengerti perbuatan Stefi sangat berakibat fatal. Saya akan terima tuntutan Pak Eza terhadap Stefi, saya juga tidak akan melakukan pembelaan karena saya tahu putri saya yang salah. Tapi soal kontrak kerja apa tidak dipikirkan lagi?"
"Tidak Pak. Keputusan saya sudah bulat." jawab Eza tanpa berpikir ulang lagi.
"Baik kalau begitu biar kerugian kita bagi dua."
"Tidak usah Pak!" Eza kini menoleh Andini yang sepertinya menyimak pembicaraan mereka. "Kita bicara diluar saja." Eza hanya tidak mau Andini mendengar nominal kerugian yang ditanggung Eza. "Rendi, titip Andini sebentar."
"Iya Bos."
Setelah itu Eza dan Pak Satya keluar.
"Hmm Kak, apa karena masalah ini Mas Eza jadi mutusin kontrak kerja dengan Pak Satya?" tanya Andini pada Rendi yang saat itu sedang berdiri tak jauh dari brangkar Andini.
"Iya, apapun yang sudah mengacau hidupnya, dia tidak mau lagi berurusan. Itu sifatnya bos Eza."
"Bukankah tidak profesional?"
"Iya, itu tandanya bos Eza cinta banget sama keluarganya. Gue sendiri juga kalau seandainya ada di posisi bos Eza pasti juga ngelakuin hal yang sama."
Andini hanya mengangguk. Urusan perusahaan dia memang tidak mau ikut campur.
"Dini..." suara itu seketika membuat dua orang itu menoleh. Sudah ada Rara yang masuk ke dalam ruangan dengan membawa sekeranjang buah yang kemudian diletakkan di atas meja.
__ADS_1
"Rara, ke sini beneran..."
Rara langsung mendekat dan memeluk Andini sesaat. "Iya dong. Gue kaget banget waktu tahu kabar lo keguguran. Baru aja kemarin pagi gue suruh lo testpack, ternyata udah... Hah, pokoknya lo yang sabar ya. Gue yakin, lo akan cepat dapat gantinya." Rara kini duduk di kursi dekat brangkar.
"Iya, amin. Semoga ya.." Mereka saling tersenyum dengan mata yang berkaca.
"Ini Rara?" tanya Rendi yang sedari tadi mengamati Rara. Bagaimana tidak pangling. Rara sekarang sangat cantik dengan badan yang sudah langsing. Rambut panjang lurus tergerai dengan make up tipis di wajahnya, sudah hampir mirip dengan Andini.
Rara menoleh Rendi. Dia sebenarnya masih malas berbicara dengan orang yang telah menghinanya dulu.
"Kamu kok bisa berubah gini?" tanya Rendi sambil mendekatkan diri pada Rara
"Emang Kak Rendi pikir aku gak bisa berubah."
"Eh, bukan gitu. Kamu cantik banget sekarang. Sumpah!"
Rara hanya mencibir, sedangkan Andini kini tersenyum kecil. Dia memang sengaja tidak menceritakan pada Rendi saat proses perubahan Rara. Selama ini yang memberi sponsor pada Rara adalah Eza. Tentu saja lewat kartu sakti Andini.
"Dasar cowok. Dulu aja waktu jelek dihina, sekarang kalau udah berubah dipuji. Yang langka itu cowok kayak Pak Eza, yang menemani mulai dari jelek sampai cantik. Kamu beruntung ya Dini."
"Iya, maaf. Aku dulu gak sengaja bilang kayak gitu," kata Rendi. Rupanya si player satu ini mulai menjerat mangsanya.
"Gak sengaja? Tapi gak penting sih ya. Mau Kak Rendi hina atau puji juga gak ada efek."
Rendi tersenyum sumbang. Hah, apakah pesonanya telah luntur?
"Rara, lo duluan gak papa. Gue masih minggu depan."
"Gak enak kalau sendiri. Kan yang ngasih tahu jurusan itu lo. Jadi nunggu lo aja ya."
"Ya udah terserah lo."
"Kamu juga masuk kampus kayak Andini?"
"Iya."
"Aku bisa antar kamu kok."
"Gak perlu."
Andini terus tersenyum. Ini memang rencana dia yang menyuruh Rara jual mahal saat bertemu Rendi.
Beberapa saat kemudian Eza masuk. "Rendi, lo balik ke kantor sekarang!"
__ADS_1
"Yah Bos. Sebentar lagi lah."
Eza kini duduk di sofa sambil menyandarkan dirinya. "Lo kalau lihat cewek udah cantik aja dideketin. Usaha lo itu mana? Jangan pas udah ada hasilnya aja baru deketin. Emang lo pikir merubah cewek jadi cantik itu gratis."
"Wah, bos kenapa ikut jatuhkan pasaran gue."
"Coba tanya sama Rara siapa yang sponsori perawatannya."
"Emang siapa?" tanya Rendi.
"Pak Eza," jawab Rara.
"Wah, kenapa bos gak bilang?" Rendi kini ikut duduk di sebelah Eza.
"Lo jadi cowok gak ada inisiatif banget."
"Kan gue gak berpengalaman."
"Gak kebalik? Yang ganti-ganti cewek kan lo."
Rendi menggaruk kepalanya. Dia kini baru sadar jika ilmunya di dunia wanita hanya sebatas ingin menikmatinya saja.
"Bos, bilang sama Andini dong suruh comblangin gue sama Rara," bisik Rendi di dekat telinga Eza.
"Nggak!! Nggak! Lo jangan rusak anak orang. Selama lo masih jadi player lo gak boleh dekati Rara. Rara itu sahabatnya Andini, nanti kalau Rara sakit hati karena lo bisa-bisa Andini marah sama gue."
"Ya, bos. Terus gimana?"
"Kalau mau deketin ya usaha. Tapi jangan buat main-main. Kalau serius langsung nikah."
"Oke. Kalau gue berhasil dapatin Rara nanti yang kasih sponsor buat biaya nikah bos ya?"
Eza menatap tajam Rendi. Asisten pribadinya itu memang selalu bisa mengambil keuntungan lebih. "Iya, iya. Udah sekarang lo ke kantor dulu. Lo lihat laporan keuangan setelah ganti rugi semua proyek."
"Siap bos." Rendi berdiri lalu mendekati Rara. "Ra, balik dulu ya. Bu Bos cepat sembuh biar cepat buat lagi." Rendi tertawa lalu berjalan keluar dari ruangan setelah mendapat tatapan sengit dari Eza.
Setelah Rendi keluar, Andini dan Rara masih asyik mengobrol sedangkan Eza kini merebahkan dirinya. Rasa kantuk tiba-tiba singgah. Matanya terasa sangat berat, karena semalam dia terus menemani Andini di dekat brangkar tanpa merebahkan dirinya. Beberapa detik kemudian Eza pun tertidur.
Andini kini melihat suaminya sudah tertidur dengan pulas di atas sofa. Andini tersenyum kecil karena semalam setiap kali dia suruh tidur di sofa, Eza selalu menolaknya.
"Eh, Pak Eza tidur. Gue pelanin suara gue ya."
"Iya, semalam Mas Eza kekeh nemenin gue di sini. Pasti sekarang ngantuk banget."
__ADS_1
"So sweet banget sih. Ya udah, sekarang gue temeni lo. Nanti aja gue pulang kalau Pak Eza sudah bangun."
Mereka melanjutkan obrolan mereka dengan suara yang cukup pelan agar tidak mengganggu Eza tidur.