Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Pendengar Setia 2


__ADS_3

"Ya udah, sekarang kamu boleh nangis sepuasnya biar perasaan kamu lega." Satu rengkuhan kini berhasil membuat kepala Andini bersandar di pundaknya.


Ingin Andini menolak, tapi rasa ini terlalu nyaman. Aroma maskulin dari tubuh Pak Eza seolah menjadi obat penenang sendiri. Usapan lembut di puncak kepalanya, membuatnya melepas rindu dengan seseorang yang tak akan pernah kembali untuk menjaganya. Sesaat hatinya terasa begitu tentram dan damai.


"Apa saya tidak pantas menjadi lebih baik? Apa hanya mereka yang kaya yang boleh berdandan cantik atau memiliki barang mahal. Sedangkan yang miskin, sebagus apapun penampilannya akan tetap menjadi orang rendahan yang akan terus dihina."


Kalimat Andini berhasil membuat dadanya bergemuruh. Selama ini Eza memang terlahir dari keluarga kaya. Anak tunggal dari pemilik Hans Group. Tapi kedua orang tuanya tidak pernah mengajari kesombongan meskipun hidup berkelimang harta. Dia harus selalu berbagi dan membantu orang yang membutuhkan karena sejatinya semua manusia itu sama di mata Tuhan.


"Kamu salah. Hilangkan mindset kayak gitu. Semua orang berhak meraih suatu hal yang mereka anggap baik dalam hidupnya. Kaya dan miskin itu hanya takdir yang bisa berubah kapan saja. Kita semua sama dihadapan Tuhan. Hanya sikap yang membedakan kita."


"Pak Eza bisa bilang seperti ini karena Pak Eza tidak pernah merasakan hidup seperti saya. Hidup sendiri tanpa kedua orang tua. Tidak ada tempat untuk berbagi cerita. Bahkan harus bisa bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sendiri. Tidak ada yang merawat ketika saya sakit. Tidak ada yang..." Andini menghentikan perkataannya. Dia mulai terisak lagi. Takdir hidupnya memang terlalu pedih jika harus diceritakan.


"Gak papa. Kamu bisa cerita sama aku."

__ADS_1


Ada satu gelengan lemah dari kepala Andini. Dia masih saja menenggelamkan wajahnya di bahu Pak Eza. Bahkan mungkin kini kemeja Pak Eza mulai basah karena air matanya.


Hati kecil Eza merasa sangat tersentuh. Dia memang sudah tahu bagaimana kehidupan Andini sebenarnya karena dia sengaja menyewa stalker saat dia berhasil menemukan titik lokasi Angel di map. Semua identitasnya terkuak. Tidak ada yang tidak diketahui Eza. Tapi tentang apa yang dirasakan Andini saat ini benar-benar membuat hati Eza tergerak untuk segera memilikinya seutuhnya agar bisa membahagiakannya.


"Iya, kamu benar. Aku memang tidak pernah hidup susah." Satu helaan napas panjang terdengar dari hidung Eza. "Tapi mulai sekarang kalau kamu butuh teman cerita, aku bisa jadi pendengar setia kamu. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu tinggal bilang sama aku pasti aku akan bantu. Bahkan kalau kamu butuh kasih sayang aku bisa menyayangi kamu." Iya, tentunya menyayangi Andini dalam tanda kutip bukan seperti ayah ke anak atau kakak ke adik.


Tidak terdengar jawaban dari Andini. Hanya napas teratur yang kini mulai terdengar.


"Andini?" panggil Eza pelan lalu melihat wajah Andini yang telah memejamkan matanya. Satu senyum terukir di bibir Eza. "Malah tidur." Dia pandangi wajah gadis yang sekarang tertidur di bahunya itu. Tidak ada niat sama sekali untuk membangunkannya. Dia akan menunggunya sampai terbangun sendiri. Walau sampai besok pun dia rela menjadi sandarannya.


Aku pasti akan membahagiakanmu..


Sampai satu jam lebih, akhirnya Andini mulai menggerakkan badannya karena lehernya terasa kebas. "Hemmm." Dia mengerjapkan matanya tapi ketika kesadarannya telah kembali sepenuhnya, dia sangat terkejut. Seketika dia menegakkan kepalanya dan melepas tangan Pak Eza dari pundaknya. "Maaf, saya ketiduran di bahu Pak Eza. Kenapa Pak Eza tidak membangunkan saya?"

__ADS_1


Eza menggelengkan kepalanya. "Aku tahu kamu capek menangis. Jadi aku biarkan saja kamu tidur."


"Sudah hampir sore. Saya harus pulang."


"Aku antar ya. Pasti semua murid dan guru sudah pulang sekarang."


Andini hanya terdiam. Dia kini justru menatap wajah Pak Eza. Berusaha mencari jawaban tentang siapakah sebenarnya Pak Eza? "Mengapa Pak Eza baik sama saya? Sebenarnya Pak Eza siapa? Dan apa alasan Pak Eza melakukan ini semua untuk saya?"


"Aku antar kamu pulang. Nanti di rumah, aku akan jawab semua pertanyaan kamu." Eza berdiri lalu menggenggam tangan Andini dan menuntunnya untuk keluar dari gudang. Menuju kelas terlebih dahulu untuk mengambil tas Andini.


Siapa? Apa benar Pak Eza itu Hans??


Andini terus memandangi Pak Eza dari samping. Hidung mancung dan bibir bawah yang sedikit tebal itu benar-benar mirip Hans. Andini kembali meluruskan pandangannya. Dia kini justru berpikir kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

__ADS_1


Kalau dia memang Hans, apa yang harus aku lakuin?


__ADS_2