
Seharian itu Andini tidak terlalu fokus sampai pulang sekolah. Dia kini duduk di taman belakang sekolah. Merenung. Memikirkan nasib hidupnya yang seperti ini. Dia sekarang memang sudah memiliki Eza yang akan selalu memenuhi keinginan dan kebutuhan hidupnya. Tapi entah kenapa, kini dia merasa bahwa omongan Clarissa itu benar. Dia hanyalah istri simpanan yang hanya menginginkan materi. Meski pada kenyataannya selalu Eza yang menawarkan bukan Andini yang meminta.
Ayah, Ibu, andai kalian ada di sini. Mungkin aku sekarang masih hidup normal bersama kalian.
Setetes air mata jatuh di pipinya. Dia masih terhanyut dengan semua perasaannya sendiri. Tak peduli sampai beberapa kali ponselnya berdering pertanda panggilan masuk dari Eza.
Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Buru-buru dia menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Andini, aku cariin kamu dari tadi ternyata ada di sini." Eza langsung duduk di samping Andini. "Kamu kenapa?"
Andini hanya menggelengkan kepalanya. Dia sendiri juga tidak mengira perasaannya sesensitif ini.
"Mikirin omongan Clarissa?"
Andini tak menjawabnya.
"Ya udahlah. Yang penting kan kamu gak kayak gitu."
"Tapi sama aja kan Mas. Aku cuma istri simpanannya Mas Eza."
"Kamu lupa? Kan kamu sendiri yang minta hubungan kita di sembunyikan. Atau kalau kamu mau, aku bisa publikasikan sekarang juga kalau kamu itu istri aku."
"Ih, Mas Eza bukan gitu maksud aku."
"Terus apa?" Eza mengulum senyumnya sambil mengusap rambut Andini.
"Rasanya kayak menjual cinta demi materi."
"Wah, itu cocok buat judul sinetron." Eza justru tertawa. Menertawakan Andini yang sedang merasa labil seperti ini.
"Kok malah diketawain sih Mas?"
"Kamu lucu. Gak papa sih, aku ngerti. Seumuran kamu masih suka labil."
__ADS_1
Andini hanya diam. Sebenarnya dia sendiri juga bingung apa yang dipikirkannya. Kenapa juga dia bisa mellow seperti ini. Apa karena dia rindu sama kedua orang tuanya?
"Gini aja," Eza meraih tangan Andini dan menggenggamnya. "Aku cinta sama kamu dan kamu cinta sama aku kan?"
Andini tak menjawab. Hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kalau kita saling mencintai, jadi gak ada istilah seperti yang kamu bilang itu. Dan semua yang aku beri ke kamu itu gak ada motif lain selain ingin bahagiain kamu. Itu aja simple."
Andini masih saja terdiam seribu bahasa. Dia berusaha mencerna setiap perkataan Eza. Dan satu hal yang akhir-akhir ini menjadi pertanyaan dalam dirinya. Apakah sekarang dia sudah jatuh cinta pada Eza?
"Mikirin apalagi? Udah yuk pulang. Mau aku gendong?"
"Ih, Mas. Ini di sekolah."
"Oke, jadi di apartemen aja ya?" Eza mengerlingkan matanya menggoda Andini.
"Ngapain Mas?" Andini menjadi curiga dengan tatapan Eza kali ini. Jangan-jangan Eza mau meminta haknya.
Mendengar pertanyaan itu badan Andini menjadi begitu tegang. Bagaimana kalau Eza benar-benar ingin melakukannya.
"Lucu!" Eza mencubit hidung Andini karena dia selalu merasa gemas melihat ekspresi tegang Andini ketika sudah berhubungan dengan soal hak itu.
"Aduh, sakit. Ih, Mas Eza." Andini memundurkan kepalanya agar terlepas dari cubitan Eza.
"Habis kamu lucu. Kita kan udah nikah, ditanya gitu aja langsung tegang."
"Tapi kan aku masih sekolah, nanti kalau..."
"Soal itu gampang bisa diatur. Oke, aku akan tunggu sampai kamu siap."
Andini diam sambil menghela napas panjang, karena dia memang belum siap untuk saat ini.
"Tapi aku ingin memastikan dulu, karena aku ingin melakukannya saat kita memang sudah saling mencintai. Jadi tidak ada kata terpaksa dalam hubungan kita. Hanya berdasarkan suka sama suka." Eza menangkup kedua pipi Andini. "Andini, do you love me?"
__ADS_1
Andini terdiam beberapa saat.
"Hmm, boleh aku meminta waktu untuk menjawab pertanyaan ini."
Eza kembali tertawa. Dia memang harus bersabar menghadapi gadis SMA seperti Andini. Dia seperti merasa menjadi remaja lagi jika harus menanti jawaban seperti ini.
"Of course. Tapi jangan lama-lama ya." Eza masih saja terkekeh. "Udah yuk, pulang." Eza berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Andini.
"Udah gak ada orang di depan?"
"Gak ada."
"Mas Eza kenapa sih ketawa terus dari tadi. Emang aku ada salah ngomong?" tanya Andini sambil meraih tangan Eza lalu dia berdiri.
"Gak ada. Ya, kamu lucu aja. Aku jadi merasa seumuran kamu sekarang." Mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan. "Harusnya aku nyamarnya jadi anak SMA aja kali ya, gak jadi guru. Salah strategi nih."
"Mas Eza ketuaan kalau jadi anak SMA." kini justru Andini yang tertawa.
"Emang aku terlihat tua? Baru juga umur 24 tahun."
"Keliatan tua pas jadi guru Matematika."
"Kan penyamaran."
"Hmm, Mas mau gak anterin aku ke makam Ayah sama Ibu?"
Eza menghentikan langkahnya. Lalu dia menatap Andini, "Ya mau dong. Jadi kamu tadi sedih karena kangen sama orang tua kamu?"
Andini mengangguk lemah.
"Yuk? Kemana pun kamu mau pergi aku pasti akan antar kamu." Tangan Eza beralih ke pundak Andini lalu merengkuhnya sambil berjalan pelan. "Dan mulai sekarang kamu jangan sedih-sedih lagi ya, ada aku yang akan selalu menemani kamu."
Andini tersenyum. Saat ini dia merasa sangat nyaman. Mungkin benar, cinta itu kini mulai tumbuh di hati Andini.
__ADS_1