
"Kenapa? Mau disuapin?"
Pertanyaan Eza membuat Pak Handoko dan Bu Sonya menatap mereka.
"Eh, hmm.." Andini tak mengiyakannya, dia merasa malu mendapat tatapan dari kedua mertuanya itu.
Meski tidak mendapat jawaban dari Andini, Eza mengambil alih sendok yang dia pegang lalu mulai menyuapinya.
Bu Sonya tersenyum kecil melihat keromantisan putranya itu. "Udah, gak usah malu. Dulu kita juga sering kan Pa suap-suapan."
"Sekarang kalau Mama mau, Papa juga masih bisa suapin Mama," Pak Handoko justru menggoda istrinya yang membuat tawa renyah seketika memenuhi meja makan pagi itu.
"Papa, ingat umur."
"Loh, meskipun udah tua kan masih boleh romantisan. Iya kan, Za?"
"Betul." jawab Eza sambil terus menyuapi istrinya. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Makanan dari tangan seorang suami memang terasa berbeda. Andini kini makan dengan lahap sampai semua tandas tak tersisa.
Eza tersenyum sambil meletakkan sendok di atas piring yang telah kosong. "Tuh kan habis. Nanti kalau gak mau makan aku suapin lagi."
Andini hanya tersenyum malu, lalu dia mengambil air putih dan meminumnya.
"Gak minum susu?"
Andini menggelengkan kepalanya. "Kenyang Mas, nanti malah mual lagi."
"Ya sudah. Berangkat sekarang?"
Andini menganggukkan kepalanya. Lalu mereka berdiri dan berpamitan kepada Bu Sonya dan Pak Handoko.
"Hati-hati ya sayang. Jangan capek-capek ya," pesan Bu Sonya sambil mencium kedua pipi Andini.
"Iya, Ma."
Eza mengambil dahulu barang bawaan Andini, lalu memasukkannya ke dalam mobil.
"Ayo," ucap Eza setelah membukakan pintu untuk Andini. Setelah Andini masuk ke dalam mobil, Eza segera duduk di kursi pengemudi. Sedetik kemudian mobil mulai melaju meninggalkan rumahnya.
Selama perjalanan Andini hanya terdiam. Dia menatap lurus ke depan sambil sesekali memijit kepalanya yang mulai terasa pusing. Rasanya persis seseorang yang sedang mabuk perjalanan. Tapi Andini hanya diam, tanpa mengeluh pada seseorang yang sedang fokus menyetir itu. Karena jika dia mengeluh, sudah dipastikan dia tidak akan kuliah hari itu.
"Kamu kenapa kok diam aja?" tanya Eza sambil sesekali melirik Andini.
Andini menggelengkan kepalanya. "Gak papa Mas. Cuma lagi ingat-ingat cara membuat masakan yang akan dipraktekan aja."
"Oo, kirain ingat-ingat cara membuat anak." Eza tertawa, apalagi saat teringat kejadian tadi pagi yang sangat menggemaskan, menurutnya.
"Ih, Mas Eza."
Beberapa saat kemudian mobil Eza berhenti di depan kampus. "Sayang, nanti kalau kamu merasa gak enak badan atau ada apa-apa, kamu langsung telepon aku ya, biar langsung aku jemput. Dan satu lagi, nanti kita langsung periksa ke dokter sepulang kuliah."
"Mas, aku udah gak papa kok."
"No, pokoknya nanti kita ke dokter." kata Eza sekali lagi lalu mengecup singkat kening, kedua pipi dan terakhir di bibir Andini.
Andini tersipu malu mendapat perlakuan Eza yang semakin protektif itu.
"Aku ambilkan barang kamu dulu. Mau diantar ke dalam kampus sekalian?"
__ADS_1
"Gak usah Mas."
Mereka keluar dari mobil. Eza mengambilkan barang Andini terlebih dahulu.
"Makasih, Mas." kata Andini sambil mengambil bungkusan yang lumayan besar dari tangan Eza.
"Hati-hati ya." ucap Eza sambil terus menatap istrinya yang telah berjalan masuk ke dalam kampus.
Eza tersenyum sesaat lalu dia kembali masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil Eza telah melaju meninggalkan kampus.
"Ra," panggilan Andini menghentikan langkah Rara yang akan masuk ke dalam ruang praktek.
"Din, gimana? Bahannya udah siap?"
"Udah dong."
Mereka mengobrol sambil mempersiapkan peralatan dan bahan-bahan di dalam ruang praktek boga. Kebetulan mereka memang dalam satu kelompok.
Semua mahasiswa satu jurusan kini telah siap memulai praktek yang dibimbing oleh seorang dosen.
Andini yang biasanya sangat suka memasak, hari ini dia merasa tidak bersemangat. Ditambah lagi bau tumisan bumbu yang seharusnya tercium harum itu kini justru berhasil mengaduk isi dalam perutnya. Semakin lama semakin terasa mual, hingga dia kini harus menutup hidungnya. Tapi upaya itu tak juga meredakan rasa mualnya. Andini semakin tidak bisa menahannya.
"Maaf, saya permisi ke toilet dulu," ucapnya sambil berlari keluar dari ruangan sambil menutup mulutnya.
Dia berlari menuju toilet karena tidak bisa lagi menahan dorongan dari dalam perutnya.
Tanpa sengaja dia justru menabrak Arka yang sedang berjalan di dekat toilet. Andini hanya menatapnya sekilas dan mendengar pertanyaan "Kenapa?" tapi sama sekali tidak dia jawab. Dia masuk ke dalam bilik toilet dan langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.
Setelah tuntas, kepalanya kini terasa sangat pusing dan badannya sangat lemas. Dia berjalan perlahan ke washtafel untuk berkumur dan membersihkan bibirnya.
Dia berkaca sesaat. Wajahnya terlihat pucat dengan mata yang sedikit memerah.
Andini kini berjalan perlahan keluar dari toilet.
"Andini, kamu kenapa?" tanya Arka yang sedari tadi sengaja menunggu Andini di depan toilet. "Kamu pucat banget. Kamu sakit?"
"Agak gak enak badan," jawab Andini singkat. Dia akan berlalu tapi dicegah oleh Arka.
"Kalau gak enak badan kamu ke UKS aja ya."
Mungkin dia memang butuh UKS saat ini untuk duduk dan mungkin juga ada obat di sana atau sekedar minyak angin untuk menghangatkan perutnya.
Andini mengangguk lalu dia berjalan menuju UKS yang diikuti oleh Arka. Dia kini masuk ke dalam UKS lalu duduk di bed UKS.
"Kamu sakit apa?" tanya Arka.
"Kayaknya asam lambung aku kambuh."
Arka menuju kotak obat, tapi ternyata stok obat di UKS sedang kosong. "Gak ada obat. Nih, ada minyak kayu putih kamu pakai dulu biar sedikit mereda."
Andini menerima minyak kayu putih itu dari tangan Arka.
"Eh, iya. Aku keluar dulu." Arka keluar dari UKS.
Sedangkan Andini kini mulai memijit pelipisnya sendiri dengan sedikit dioles minyak kayu putih karena kepalanya terasa semakin pusing.
Rasa pusingnya tak juga mereda tapi semakin menjadi, dia akhirnya menelepon Eza untuk meminta dijemput.
"Mas, jemput aku sekarang ya..."
__ADS_1
Terdengar suara panik Eza di ujung sana karena mendengar suara Andini yang cukup lemah.
"Iya Mas. Aku barusan mual lagi."
Eza memutuskan panggilannya. Sepertinya Eza langsung tancap gas untuk menjemput istri tercintanya.
Beberapa saat kemudian Arka masuk ke dalam UKS. Dia sudah membawa segelas teh hangat untuk Andini. "Teh hangat, kamu minum ya biar enakan."
Andini semakin mengerutkan dahinya. Menurutnya perhatian Arka ini terlalu berlebihan. "Gak usah repot-repot, Kak."
"Gak papa." Arka tetap menyodorkan gelas pada Andini.
Merasa tidak enak, Andini akhirnya mau menerima minuman itu lalu meneguknya.
"Kamu mau istirahat di sini atau pulang? Biar aku bantu ijinin kamu ke Bu Lestari."
"Aku mau pulang. Barusan sudah minta dijemput."
"Ya sudah. Kamu tunggu sini ya, biar aku ijinin sama ambil tas kamu."
"Tidak usah, Kak. Aku bisa sendiri."
"Tidak apa-apa." ucap Arka sambil berlalu.
Andini menghela napas panjang. Perhatian Arka benar-benar membuat kepalanya semakin pusing. Dia letakkan gelas yang isinya tinggal setengah itu saat perutnya kembali mual lagi. Andini segera berlari keluar dari UKS menuju toilet. Dia kembali memuntahkan isi dalam perutnya. Rupanya tubuh Andini menolak secara alami pemberian dari laki-laki lain.
Badannya semakin terasa lemas. Setelah membasuh wajahnya dengan air, dia kini berjalan gontai keluar dari toilet.
"Aku cariin ternyata kamu di sini. Kok kamu tambah pucat." Arka semakin khawatir melihat wajah Andini yang semakin memucat. "Ayo, aku antar ke depan."
"Tidak usah, Kak. Aku bisa. Tas aku." Andini mengambil tasnya dari tangan Arka. "Makasih."
Andini melangkah pelan menuju gerbang.
"Aku antar ke depan ya. Kamu terlihat lemas sekali, takut kamu pingsan." Arka tetap berjalan di samping Andini, ingin dia merengkuh tubuh ramping itu tapi sadar diri dia bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang diam-diam mengagumi.
Andini tak menjawab lagi. Tubuhnya memang sangat lemas saat itu. Dia seperti tidak sanggup lagi untuk melangkah. Tapi dia tetap berusaha menguatkan dirinya. Hingga saat mendekati pintu gerbang, tubuhnya benar-benar terasa ringan seperti tak memiliki tulang untuk menopang tubuhnya. Pandangannya mulai kabur. Meski samar-samar dia bisa melihat mobil Eza telah berhenti di depan gerbang lalu beberapa saat kemudian si pemilik mobil itu turun.
Andini berusaha melangkahkan kakinya di sisa tenaganya, tapi tiba-tiba tubuhnya limbung. Dengan sigap Arka menahan tubuh Andini agar tidak sampai jatuh. Dia tahan tubuh itu dengan kedua tangannya.
"Andini!!" Eza segera berlari lalu meraih tubuh Andini dalam pelukannya. Kedua pria ini saling bertatapan beberapa saat, saling terkejut tanpa berkata. "Makasih, Ka." ucap Eza beberapa detik kemudian
"I-iya, Pak Eza."
💞💞💞
.
.
.
Hayo.. Hayo.. Kira-kira Arka siapa ya??
.
.
Jangan lupa like dan komen.. 😘
__ADS_1