Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Pemulihan


__ADS_3

Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, hari itu Andini boleh pulang. Mereka pulang ke rumah Eza sementara waktu agar kesehatan Andini segera kembali pulih.


"Kamu istirahat ya. Kalau bisa tinggal di rumah Mama aja biar gak sendirian di apartemen kalau Eza lagi kerja. Di sini juga ada art jadi kamu gak akan kecapekan." kata Bu Sonya sambil membantu Andini merebahkan diri di tempat tidur.


"Iya, makasih Ma."


"Gak usah sungkan ya sayang. Kamu kan anak Mama juga. Ya sudah kamu tidur siang dulu ya biar cepat pulih kondisinya. Dan satu lagi, jangan sedih-sedih lagi."


"Iya, Ma."


Setelah itu Bu Sonya keluar dari kamar Andini.


Eza yang sudah selesai dari kamar mandi, kini dia memakai kaos oblong dan celana pendek selutut. Setelah itu, dia ikut bergabung bersama istrinya di atas tempat tidur dan memeluknya dari samping. "Akhirnya bisa tidur sambil meluk kamu lagi." Mungkin kalau seandainya punggung Andini tidak sakit, Eza pasti telah menemaninya tidur di atas brangkar. Tapi Andini masih susah menggeser tubuhnya sendiri. Jadi Andini hanya bisa tidur terbaring di tengah brangkar dan ditemani Eza yang selalu tidur sambil duduk dengan kepala menelungkup di tangannya.


"Iya Mas. Ini sudah bisa tidur miring. Kemarin-kemarin masih sakit banget jadi cuma bisa rebahan saja." kata Andini sambil memiringkan tubuhnya dengan perlahan menghadap suaminya. Lalu dia menenggelamkan wajahnya di dada Eza. Menghirup aroma maskulin yang sangat dia suka.


"Aku tadi tanya ke dokter. Katanya untuk mengulang proses pembuatan lagi lebih baik menunggu sampai satu periode dulu. Jadi rahim sudah siap menerima lagi." Eza mengusap lembut rambut istrinya memberi kenyamanan untuknya.


"Proses pembuatan? Gimana prosesnya Mas?" tanya Andini sambil tersenyum kecil menggoda suaminya. Sebelumnya Eza memang selalu nakal tidak setenang beberapa hari ini.


Eza tertawa sambil mengeratkan pelukannya. "Baru juga 4 hari gak lakuin masak udah lupa, masih kurang sebulan loh."


"Ih, bercanda Mas. Gak bakal lupa juga. Tapi sampai sebulan emang Mas Eza kuat?"


Eza semakin tertawa dibuat Andini. Menggemaskan. Untuk kesehatan sudah jelas dia bisa menahan hawa nafsu. "Ya bisa dong sayang. Kalau pengen banget ya bantuin aja lewat senam lima jari."


"Ih, tuh kan udah omes lagi."


"Pokoknya setelah ini aku bakal perhatikan setiap perubahan kamu. Biar gak kecolongan lagi kayak kemarin. Kemarin aku benar-benar gak ngerti kalau manjanya kamu itu ternyata lagi ngidam."


"Udah berlalu Mas. Jangan diingatkan lagi." Ada sebuah hembusan panjang dari hidung Andini. Setiap mengingat kejadian itu, dada Andini masih saja terasa sesak.


"Iya, jangan sedih lagi ya. Aku sayang sama kamu." Satu kecupan hangat mendarat di puncak kepala Andini. "Arjuna gimana? Sudah beres urusan sekolah dan lain-lainnya? Kemarin aku suruh Rendi buat antar beli motor. Dia malah milih yang bekas. Butuh paksaan juga ya terima sesuatu. Persis kayak kamu."


Andini meregangkan pelukannya. Tadi saat Arjuna ikut menjemputnya di rumah sakit memang sudah bertanya tentang hal itu tapi Arjuna hanya menjawab sudah beres. "Katanya sih sudah beres Mas."


"Ya udah besok aku cek ke rumah ya. Harusnya dia tinggal aja di apartemen biar kita gak kepikiran gini."

__ADS_1


"Iya Mas. Tapi dia keras kepala."


"Sama kayak kakaknya."


"Ih, Mas Eza."


Eza mendekatkan dirinya. Mencium Andini dengan lembut. Rasa manis yang selalu membuat mabuk kepayang. Semakin lama semakin menuntut.


Eza melepas pagutannya. "Ya ampun sudah bereaksi menjalar ke bawah." Eza terkekeh karena nyatanya omongannya barusan tidak sinkron dengan bagian bawah tubuhnya itu.


"Ih, tuh kan. Baru juga cium udah bangun aja." Tangan Andini kini sudah singgah di bawah sana. Membelainya dengan lembut.


"Sayang, udah biarin. Kamu tidur aja ya."


Andini bukannya berhenti tapi malah semakin menjadi. Dia tersenyum menggoda melihat wajah Eza yang telah memerah.


"Nakal." Eza kembali mencium bibir itu. Semakin dalam menyusuri manisnya madu. Menyesapnya lalu menggigit kecil. Gairah Eza semakin menggebu merasakan gerakan lincah tangan Andini di bawah sana.


Eza melepaskan pagutannya saat Andini tiba-tiba menghentikan aksi tangannya. Ternyata istrinya mau main tarik ulur. "Sayang, nanggung. Kamu harus tanggung jawab sampai tuntas pokoknya."


Andini tersenyum. Lalu dia memulai ciumannya lagi dan menuruti apa yang suaminya inginkan.


Beberapa hari telah berlalu. Keadaan Andini sudah berangsur membaik.


"Sayang, maaf ya gak bisa antar kamu registrasi ke kampus soalnya ada meeting penting di kantor," kata Eza sambil memakai kemejanya setelah mandi pagi hari itu.


"Iya Mas gak papa." Tangan Andini terulur untuk membantu mengancingkan kemeja Eza. Setelah semua terkancing, Andini memasangkan dasi di krah kemeja Eza.


Eza hanya tersenyum. Semakin hari Andini memang semakin perhatian padanya, begitu juga sebaliknya karena rasa cinta mereka yang semakin besar.


"Udah rapi."


Eza kini meraih tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.


"Mas, aku mau ke apartemen dulu ambil berkas-berkas."


"Ya sudah aku antar ya. Tapi nanti dari apartemen biar Rendi yang antar kamu." Eza melepaskan pelukannya lalu dia berkaca sambil menyisir rambutnya. "Dari kemarin Rendi udah ngotot aja mau anterin kamu, soalnya dia mau deketin Rara."

__ADS_1


Andini tersenyum kecil. "Emang Kak Rendi serius sama Rara?"


"Aku juga gak tahu. Entahlah, dia udah tobat atau belum. Ya, kita lihat saja seberapa gigih usahanya. Bilang sama Rara jangan mau dulu sama Rendi sebelum usahanya benar-benar maksimal."


Senyum Andini semakin lebar. Seperti itulah rencana untuk membuat tobat si player.


Setelah Andini mengambilkan jas suaminya, mereka keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Sudah ada Bu Sonya dan Pak Handoko.


"Andini mau kemana sudah rapi?" tanya Bu Sonya yang melihat Andini sudah rapi dan sambil membawa tasnya.


"Mau registrasi ke kampus, Ma."


"Loh, diantar siapa? Katanya Eza ada rapat penting."


"Diantar Rendi nanti biar aku rapat sama Tio saja." kata Eza sambil mengambilkan nasi untuk Andini.


"Mas, aku ambil sendiri aja."


"Gak papa, nanti kalau kamu ambil sendiri makannya sedikit kayak kemarin."


"Tapi jangan banyak-banyak juga."


"Iya, ini sedang kayak porsi kamu biasanya."


"Makasih, Mas."


Bu Sonya terus tersenyum melihat kemesraan mereka berdua. "Nanti dari kampus langsung pulang ke sini ya."


"Iya Ma. Andini biar pulang ke sini dulu. Soalnya beberapa minggu ini aku bakalan pulang agak malam."


"Za, kerja itu ingat waktu. Soal kerugian itu gampang. Nanti kamu jual aja dua penthouse yang ada di Batu, udah beres." kata Pak Handoko setelah meminum kopinya. Soal harta dia memang tidak terlalu pusing.


"Gak bisa gitu juga dong, Pa. Ada sistemnya sendiri cara memulihkan perekonomian perusahaan."


"Ya sudah terserah kamu. Yang penting harus jaga diri dan jaga keluarga."


"Jelas Pa, itu nomor satu."

__ADS_1


Andini memang tidak tahu seberapa kerugian yang ditanggung perusahaan Eza. Yang jelas, Eza selalu bilang padanya bahwa yang terpenting dalam hidupnya adalah istrinya dan keluarganya. Ya, memang semanis itu.


__ADS_2