Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Di Pagi Hari yang Cerah


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu itu membuat Eza mengerjapkan matanya. Dia kini melihat matahari yang bersinar terang dibalik tirai.


Dia menggeliat lalu tersenyum melihat Andini yang masih tertidur pulas dalam pelukannya.


"Eza!!"


Panggilan dari luar kamar Eza kini menyadarkannya. "Aku sampai lupa kalau Mama sama Papa menginap di sini. Mereka pasti semalam dengar."


Eza bangun secara perlahan agar tidak mengganggu Andini. Lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuh Andini.


Dia mengambil piyamanya dan memakainya. Lalu berjalan menuju pintu dan membukanya. Hanya sebatas badannya saja, takut jika Mamanya akan melihat kamarnya yang berantakan karena pergelutan semalam.


"Eza, ini sudah jam 7. Kalian gak ke sekolah?"


Eza mengusap rambutnya yang masih berantakan. "Nggak Ma. Libur aja lagi sehari."


Bu Sonya menatap putranya menyelidik. Melihat tampilan Eza yang masih awut-awutan jelaslah mereka habis lembur semalam suntuk.


"Mama semalam sampai gak bisa tidur dengerin kalian gelut."


Eza hanya meringis menahan malu.


"Ya udah, Mama sama Papa mau pulang. Lanjut tidur aja sana. Dasar pengantin baru masih belum puas juga."


Setelah kedua orang tuanya berlalu. Eza berjalan menuju dapur. Dia membuat dua gelas susu lalu mengambil beberapa roti yang dioles dengan selai dan meletakkan di atas piring. Dia minum miliknya terlebih dahulu yang langsung tandas lalu makan roti yang langsung sepenuhnya habis hanya dengan tiga kali gigitan. Kemudian dia membawa susu dan roti itu ke dalam kamarnya dan meletakkannya di atas nakas.


Dia kini duduk di tepi ranjang sambil menatap Andini yang masih memejamkan matanya. Dia usap dengan lembut pipinya yang membuat Andini kini mengerjapkan matanya sambil bergeliat pelan.


"Jam berapa Mas?" tanyanya dengan kesadaran yang masih setengahnya.


"Jam 7 lebih."


Andini kembali menguap. Rasanya mata itu masih sangat berat untuk terbuka, ditambah rasa pegal di sekujur tubuhnya masih sangat terasa dengan rasa mengganjal yang masih tertinggal di bawah sana. "Aku jadi gak masuk sekolah lagi?"


"Gak papa sehari lagi gak masuk. Kemarin kan udah ada surat dokter."


Andini kini bersandar di headboard sambil manahan selimut agar tidak melorot dari badannya. "Sakit semua sih badan aku."


Eza malah tersenyum menggoda Andini. "Iya, makanya itu harus sering-sering biar terbiasa."


"Ih, Mas Eza semalam masih kurang apa."


"Kurang dong." Eza mengulum senyum lalu mengambilkan segelas susu untuk Andini. "Diminum dulu ya, mumpung masih hangat."


"Mas Eza udah minum?"


"Udah, punya kamu semalam. Lebih enak dari pada itu, bonus suara lagi."


"Ih," Andini mencibir lalu dia meminum susu yang telah dibuatkan Eza sampai habis setengah. "Mas Eza beneran udah minum?" tanya Andini lagi saat melihat Eza yang hanya menatapnya.


"Sudah sayang. Kamu habisin ya, terus makan roti. Biar ada tenaga lagi."

__ADS_1


Mendengar kalimat Eza, Andini kembali menatap Eza menyelidik. "Tenaga?"


Eza terkekeh sambil mengusap puncak kepala Andini.


Andini kini menghabiskan segelas susu itu, setelahnya dia segera memakan roti selai dengan lahap karena jujur saja dia memang sedang lapar.


"Mau lagi?"


Andini menggelengkan kepalanya. "Nanti aja. Aku mau ke kamar mandi dulu." Andini mencari letak piyamanya yang ternyata terlempar jauh di lantai.


"Sini aku gendong." tanpa menunggu persetujuan, Eza meraih tubuh Andini lalu mengangkatnya dan membiarkan selimut itu terlepas dari tubuhnya. Lagi-lagi pemandangan itu begitu menantang Eza.


Dia dekatkan dirinya ke wajah Andini. Menciumnya dengan lembut sambil berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Eza melepaskan pagutannya saat dia menurunkan Andini di dalam bathup. Lalu memutar kran untuk mengisi air hangat dalam bathup sampai setengah dan mematikannya lagi.


"Mandi sama aku ya?"


Andini hanya melebarkan bola matanya. Hah, pasti Eza mau lagi. "Hmm, Mas aku masih capek."


Eza hanya tersenyum. Dia melepas piyamanya lalu ikut berendam ke dalam bathup dan mengambil tempat di belakang Andini.


"Aku pijitin ya."


Sebelum mulai memijat, Eza menuangkan sabun ke dalam air sampai berbusa. Lalu dia melumuri punggung Andini yang putih mulus itu dengan busa dan mulai memijatnya perlahan.


Terasa nyaman, Andini memejamkan matanya sesaat.


"Nyaman kan?"


"Hmm, Mas.." Andini kembali membuka matanya saat dia teringat satu masalah yang sedari kemarin ingin Andini bicarakan. "Kan, beberapa teman aku lihat waktu Mas Eza narik tangan aku di sekolah. Nanti aku jawab apa kalau mereka tanya. Pasti sekarang mereka lagi gosipin aku yang bukan-bukan di sekolah."


"Tenang aja ya. Lagian kalau kamu dekat sama aku gak ngerugiin mereka kan?"


"Iya, tapi kan mereka selalu mencari celah untuk menjatuhkan aku. Apalagi Clarissa."


"Itu tandanya mereka iri sama kamu. Kalau ada yang tanya diemin aja. Bilang aja kamu lagi gak enak badan. Atau mau aku yang klarifikasi." Eza mendekatkan dirinya dan menempelkan dagunya di bahu Andini.


"Hmm, gak usah Mas. Gak papa." Jantung Andini mulai berdegup kencang. Apalagi saat dia merasakan sesuatu yang keras di belakangnya.


"Mas Eza katanya tadi mau mandi. Pijitin juga cuma sebentar. Pijitin lagi."


"Iya ini aku pijitin." Tangan Eza bukan di punggung lagi tapi pindah ke depan. Menangkup sepasang benda bulat yang menggantung itu dan memijitnya perlahan.


"Ih, Mas Eza. Cari kesempatan terus."


"Kan sudah kamu acc sayang."


Eza semakin memberi sensasi pada Andini. Lagi-lagi Andini dibuat terbang melayang oleh Eza.


Perlakuan halus Eza membuatnya kembali mengeluarkan suara indahnya.


"Boleh?" Bisik Eza di dekat telinga Andini. Sapuan hangat dari napas Eza membuat Andini semakin meremang. Andini tak juga membalasnya yang membuat Eza menggigit kecil daun telinga Andini.

__ADS_1


"Ih, Mas geli."


"Boleh lagi ya?"


Andini mengangguk pelan.


"Di sini atau di kamar?"


Andini tak menjawab.


"Di kamar aja ya. Biar fasih dulu baru nanti nyoba sensasi baru." tukas Eza karena tak mendapat jawaban juga dari Andini.


Eza mengangkat tubuh Andini lalu membilasnya dengan shower untuk menghilangkan busa yang menempel di kulit.


Setelah itu dia menggendong Andini menuju ranjang. Mereka roboh bersama di atas ranjang. Mata itu saling menatap untuk mengungkap segala perasaan yang ada. Sedetik kemudian Eza mendekatkan dirinya, menciumnya dengan mesra. Rasa itu benar-benar sudah membuat Eza kecanduan.


Dia mulai memposisikan diri dan siap membawa Andini terbang ke angkasa lagi.


Drrrttt.. Ddrrrttt... Getaran dan bunyi keras dari ponsel Eza menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dia membiarkannya, karena dia sudah begitu ingin memulai permainannya.


Sekali lagi ponsel itu berbunyi.


"Mas angkat dulu aja. Mungkin penting."


Eza berdengus kesal lalu dia sedikit merangkak untuk meraih ponselnya di atas nakas. "Rendi." Sebuah VC masuk dari Rendi.


Eza kini berlutut di antara kaki Andini dengan sesuatu yang masih sangat stand.


Wajah Andini bersemu merah. Dia menelan salivanya berkali-kali. Kini dia berhadapan secara langsung dengan bagian tubuh Eza yang telah berhasil membuatnya meledak di udara berkali-kali.


"Rendi ada apa?" tanya Eza dengan nada kesal.


"Eh, bos ngapain gak pakai baju?" Tanya Rendi yang melihat Eza sebatas bahu tanpa tertutup benang.


"Habis mandi. Ada masalah apa?"


"E, buset ini udah jam kerja masih baru mandi. Gak ke sekolah?"


"Rendi, cepet lo mau ngomong apa? Jangan bahas hal yang gak penting."


"Iya bos. Ini soal kontrak kerja milik PT Persada. Coba bos cek, kayak ada yang kurang menguntungkan dari pihak sana....." Rendi menjelaskan panjang lebar sambil mengarahkan kamera pada berkas-berkas.


Andini menjadi gemas sendiri. Sekarang mungkin pikiran Eza sedang memikirkan pekerjaan tapi yang ada di hadapannya itu masih saja on. Dia kini duduk dan memang berniat untuk menggoda Eza.


"Ah, sayang..." Ada sesuatu yang hangat dan basah menyentuhnya yang membuat dirinya bagai tersengat listrik di sekujur tubuhnya.


Dia kini menundukkan pandangannya. Dia melihat Andini yang sedang mengulum miliknya.


"Ehhmm, enak sayang. Iya seperti itu.."


"Woy, ngapain bos sampai merem melek gitu. Bos laknat, anak buahnya suruh kerja situ malah bajak sawah."


"Nanti Papa ke kantor buat cek itu. Awas kalau lo ganggu gue lagi!" Eza memutuskan VC Rendi lalu meletakkan ponselnya sembarang tempat.

__ADS_1


"Udah berani goda aku ya sekarang." Eza langsung menyerang Andini. Dia tidak akan menyelesaikan pergulatannya sebelum membuat Andini terbang dan meledak berkali-kali.


__ADS_2