Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Secuil Kisah


__ADS_3

"Sudah?" tanya Rendi yang kini duduk dan bersandar di headboard menunggu istri barunya berbicara dengan sahabatnya yang sedang mengidam itu lewat panggilan video.


"Sudah Kak."


"Pasti anak bos nanti jahil kayak bapaknya." Rendi tersenyum mengingat kejadian konyol hari ini.


Rara juga tersenyum lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Dadanya sedari tadi berdebar-debat tak karuan. Bahkan kini tangannya sudah terasa dingin. Apa aliran darah tidak menghangatkan telapak tangannya kali ini? Atau darahnya kekurangan oksigen untuk melaju?


"Kenapa? Sini duduk dulu." Rendi menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Rara agar duduk di sebelahnya.


Rara duduk dengan kaku. Dia berusaha menenangkan detak jantungnya tapi sangat sulit.


Rendi kini mendekat lalu menggenggam tangan Rara yang dingin itu. "Dingin banget tangannya? Takut sama aku?


Rara menggelengkan kepalanya. "Cuma gerogi aja."


Rendi tersenyum kecil. Baru kali ini ada seorang wanita yang gerogi dekat dengannya dan rasanya sebahagia ini. "Kamu cinta gak sama aku?"


Pertanyaan Rendi membuat Rara kini menatapnya. "Kita sudah melangkah sejauh ini, apa Kak Rendi masih ragu sama perasaan aku?"


"Bukan seperti itu. Kamu tahu, bukan kamu wanita pertama yang aku sentuh. Masa lalu aku buruk. Apa kamu bisa menerima aku apa adanya?"


Rara menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu mengungkit masa lalu. Yang penting masa sekarang dan masa depan kita."

__ADS_1


Senyum mengembang di bibir Rendi. Inilah kebahagiaan yang sebenarnya, yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. "Aku cinta kamu, Ra."


"Aku juga cinta sama kamu, Kak Rendi."


Mereka saling menatap dan tersenyum. Sedetik kemudian wajah Rendi sudah mendekat. Dia mencium bibir Rara untuk yang pertama kalinya dalam sebuah ikatan halal.


Rara semakin menegang. Ini ciuman yang pertama dalam hidupnya. Masih sangat kaku dan cenderung pasif meskipun dia menerima ciuman itu dengan terbuka dan merasakan setiap pagutan dari bibir Rendi.


Rendi melepas ciumannya. Dia memberi waktu Rara untuk bernapas, karena dia tahu sedari tadi Rara seolah menahan napasnya sendiri.


Rara menggigit bibir bawahnya sesaat. Dia masih bingung apa yang harus dia lakukan. "Maaf Kak. Aku memang belum pernah sama sekali bersentuhan dengan cowok. Aku belum tahu apa-apa. Aku takut kalau seandainya nanti Kak Rendi gak puas..."


"Sstttt..." Rendi menghentikan perkataan Rara. "Menikah itu bukan hanya untuk mencari kepuasan. Kita sama-sama belajar ya. Melakukan sesuatu yang nyaman untuk kita berdua, bukan cuma untuk aku tapi untuk kamu juga." Rendi kini menggenggam tangan Rara lalu menciuminya. "Justru aku bangga bisa mendapatkan kamu. Aku seorang player yang penuh dosa bisa bersanding sama kamu yang masih suci tak tersentuh oleh siapapun. Satu tamparan keras di hati aku, Ra." mata Rendi berkaca-kaca. Entahlah, mengapa sekarang dia bisa sedramatis ini.


Rendi mengangguk. "Aku pasti akan berusaha untuk selalu bahagiakan kamu." Rendi meraih tubuh Rara dan mendekapnya.


Tangan Rara kini mengeratkan pelukan itu. Menghirup dalam aroma maskulin yang menenangkan dirinya. Mulai saat ini, tubuh itu akan selalu menemaninya, akan selalu memeluknya, dan akan selalu memberi kenyamanan.


Rendi mengendorkan pelukannya. Dia kini menatap teduh kedua netra Rara. Tatapan yang tidak bisa di definisikan dengan kata-kata. Beberapa detik kemudian mereka berlanjut ke ciuman kedua. Kali ini Rara tidak sekaku tadi. Bahkan dia mulai bisa membalas setiap pagutan Rendi. Menemukan kedua indera pengecap, saling melilit dan bermain-main.


Entah sejak kapan Rara kini sudah berada dalam kendali Rendi. Satu hisapan cukup dalam mengakhiri ciuman panas itu.


"Sekarang ya? Sudah siap?" tanya Rendi yang sudah terbakar gelora asmara. Wajahnya kini telah memerah. Meskipun telah begitu menggebu dia tidak mau terlalu terburu-buru melakukannya. Dia harus bisa memberi kenyamanan pada Rara agar dia terlena dan terhanyut dalam pusara Rendi.

__ADS_1


Rara mengangguk pelan. Meskipun sebenarnya dia takut karena dari beberapa cerita yang dia dengar dari pakarnya yang sekarang sedang hamil itu, awalnya sakit tapi lama-lama enak dan ketagihan. Kalimat itu yang dia ingat dan semakin membuatnya penasaran.


Rendi menyusuri setiap lekuk tubuh Rara yang padat dan berisi itu dengan jemarinya. Otaknya bekerja dengan sempurna mengirim sinyal ke seluruh tubuh. Kini jemarinya berhenti pada tali piyama lalu membukanya dengan satu tarikan. Rendi membukanya dengan detak jantung yang semakin kencang. Padahal sudah jelas, ini bukan pertama kalinya dia melakukan tapi rasanya memang lain. Ada getaran-getaran di sekujur tubuhnya.


Rendi tersenyum kecil. Dengan gerak perlahan dia melepas seluruh benang yang menempel di tubuh Rara.


Sedikit merasa malu karena tangan Rara secara otomatis menutup bagian depan tubuhnya.


Rendi menyingkirkan pelan tangan Rara. Benar-benar suatu keindahan yang terpampang secara nyata. Masih padat dan belum pernah tersentuh.


Setiap sentuhan lembut yang diberikan Rendi membuat Rara terlena. Dia sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ada rasa yang semakin menggebu dan ingin segera dituntaskan.


Mereka kini mulai memadu cinta. Menyusuri indahnya hubungan dalam satu ikatan yang halal.


Rendi melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan. Sakit itu memang terasa tapi hanya sesaat selebihnya Rara sudah dibawa terbang Rendi untuk melepas semua rasa yang akan menjadi candu.


💞💞💞


.


.


Buat momen Rara Rendi kenapa gak dapat feel yah.. Dari tadi ketik hapus ketik hapus. Sampai gak lolos review. Baru kali ini ditolak.

__ADS_1


Skip skip aja dah. Memang tidak ada yang menandingi pesona Mas Eza. 🤔 Buat adegan Mas Eza aja full lancar jaya tanpa penolakan.


__ADS_2