
Beberapa hari berlalu, Andini yang tinggal di rumah orang tua Eza tidak perlu lagi merasa kesepian saat ditinggal Eza bekerja. Apalagi hampir setiap hari Eza pulang cukup larut malam.
"Mas, gak capek tiap hari pulang malam gini?" tanya Andini saat Eza sudah selesai membersihkan diri dan kini ikut merebahkan diri di sebelahnya.
"Nggak sayang. Aku kerjanya kan cuma duduk, ngobrol, main laptop." Eza menarik tubuh istrinya dalam pelukannya. "Lagian kalau udah peluk kamu kayak gini rasa capek aku hilang semua."
"Aku pijitin ya Mas?"
"Hmm, yang mana?" goda Eza seraya mengecup puncak kepala istrinya.
"Mas Eza maunya yang mana?"
"Yang bisa buat enak."
"Ih, Mas Eza."
Eza terkekeh lalu dia menenggelamkan dirinya di bawah leher istrinya. Memang tidak seperti biasanya. Kali ini dia ingin memanjakan dirinya dengan tertidur di dada Andini.
"Tuh kan, Mas Eza itu sebenarnya capek." Andini mengusap lembut rambut suaminya agar segera terlelap dalam tidur. "Tidur aja gih."
"Heem. Kamu besok mulai masuk kuliah kan? Besok paginya aku antar. Pulangnya kalau gak dijemput Pak Wawan sama Rendi ya?" kata Eza dengan mata yang telah terpejam. Dia hirup dalam-dalam area favoritnya itu.
Andini semakin mendekap Eza seperti seorang bayi yang sedang ingin tidur dengan ibunya. "Iya Mas, gak papa."
"Pasti nanti di kampus ada yang naksir kamu. Kamu kan cantik."
Andini hanya tersenyum kecil. Kemarin saja waktu registrasi dia sudah diajak berkenalan dengan Arka.
"Wajar sih, dimanapun kita berada pasti kita bertemu dengan orang baru dan dengan perasaan yang baru juga. Tapi aku percaya sama kamu. Di dalam hati kamu hanya ada Eza seorang."
Andini tertawa geli, bukan karena ucapan Eza tapi bibir Eza kini sudah singgah saja di dadanya. Mengusapnya dengan lembut. Memberi sensasi yang masih belum bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya.
Tapi semakin lama hisapan Eza semakin melemah. Dia kini tertidur.
"Ya ampun Mas Eza, kayak bayi besar beneran." Andini membenarkan posisi suaminya lalu dia kembali menutup dadanya yang sempat dibuka kancing atasnya.
Andini terus tersenyum menatap wajah pulas suaminya sambil terus mengusap lembut rambutnya. "I love you." satu kecupan hangat mendarat di kening Eza.
Setelah itu Andini segera menyusul Eza ke alam mimpi.
...***...
Pagi itu, Andini kembali mengecek semua persiapan untuk melaksanakan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) termasuk kartu identitasnya.
"Pagi gadis SMA," kata Eza sambil memeluk Andini dari belakang.
Andini yang saat itu memang sudah rapi memakai seragam SMA nya, sedikit terkejut mendapat pelukan dari Eza yang baru saja keluar dari kamar mandi yang hanya memakai celana panjang saja.
__ADS_1
"Mas Eza ngagetin aja." Gerakan Andini berhenti beberapa saat lalu dia melanjutkan kembali barang bawaannya.
"Pastiin gak ada yang tertinggal ya. Jangan sampai kamu dapat hukuman dari senior."
"Iya Mas. Dari semalam sudah aku siapkan. Ini tinggal ngecek saja." Andini sudah menandai semua barang bawaannya di check list. "Udah semua."
"Ada yang belum."
"Apa?"
Eza membalikkan badan Andini lalu mencium bibirnya dengan lembut yang semakin lama semakin menuntut. Sepagi itu sudah dibuat terlena oleh cumbuan Eza.
"Manis strawberry." Kekeh Eza sambil mengusap bibir Andini menghilangkan lipbalm yang teracak.
"Ih, Mas Eza." Andini kembali berkaca untuk membenarkan penampilannya.
Sedangkan Eza kini beralih memakai kemejanya. "Kamu nanti kira-kira pulang jam berapa?"
"Sore Mas. Kegiatan hari ini full."
"Jangan lupa bawa bekal ya."
"Iya Mas. Tadi udah aku siapin." Andini beralih memasangkan dasi di krah kemeja Eza.
"Sayang biar aku aja kalau kamu masih mau menyiapkan yang lain."
"Punggung kamu udah gak sakit kan? Kalau sakit nanti kamu minta kartu keterbatasan aktivitas fisik."
Andini menggelengkan kepalanya. "Sudah gak sakit kok Mas. Lagian kan aktivitas fisik sudah ditiadakan."
Eza tersenyum lalu mengecup singkat kening istrinya. "Ya udah. Kita sarapan setelah itu berangkat ya."
Mereka keluar dari kamar dengan membawa barang bawaan masing-masing. Mereka letakkan terlebih dahulu di meja ruang tengah, setelah itu mereka segera sarapan.
Tidak terlalu mengobrol panjang seperti biasanya karena keterbatasan waktu.
Setelah itu, mereka segera berangkat. Eza melajukan mobilnya menuju kampus Andini. Cukup lama karena jalanan yang mereka lewati macet. Andini sudah gelisah sambil terus menatap jam di tangannya.
"Kalau sampai telat ini gimana Mas?"
"Gak bakal telat. Bentar lagi sampai. Masih ada waktu 15 menit. Tenang aja."
Andini bernapas lega saat Eza menghentikan mobilnya di depan kampus. Dia segera turun dari mobil dan tak lupa dengan barang bawaannya.
Andini yang memang sudah membuat janji dengan Rara di dekat gerbang, mereka langsung bertemu.
"Dini, lama banget."
__ADS_1
"Sorry Ra, tadi macet."
"Ya udah yuk!" Mereka berjalan beriringan menuju lapangan, karena sebelum acara dimulai mereka akan melakukan upacara pembukaan.
Andini mengusap keringatnya beberapa kali karena matahari mulai menyengat. Dia tidak begitu menyimak pidato di depan sana karena merasa kepanasan.
Setelah sesi pengenalan dosen dan beberapa senior selesai, upacara dibubarkan. Mereka segera menuju aula untuk menerima materi pengenalan lingkungan kampus. Ada beberapa dosen yang mengisi materi itu.
Andini hanya bisa menyimak. Ya, seperti itulah. Dia pasif. Tidak pernah ikut menunjukkan pendapatnya di muka umum. Kini berganti para senior yang memberikan materi. Termasuk Arka. Ya, tentu saja Andini masih mengingatnya.
Ternyata Arka itu salah satu mahasiswa yang berprestasi dan juga ketua BEM. Oke, sekeren apapun dia tidak akan mampu menarik simpati Andini.
Setelah pembekalan materi selesai. Saatnya mereka semua istirahat sebelum lanjut ke jadwal berikutnya yaitu pengenalan lingkungan kampus dengan kelompok dari fakultas masing-masing.
"Din, lo bawa bekal? Antar gue ke kantin dong, gue mau beli minum."
"Iya, yuk."
Mereka berdua berjalan menuju kantin. Kantin waktu itu cukup ramai. Andini hanya menunggu di depan kantin saat Rara membeli minuman.
"Permisi." ucap salah satu mahasiswa yang akan lewat karena Andini sedikit menghalangi jalannya.
Andini menggeser kakinya tapi tak disangka ada seseorang yang menabraknya dan menumpahkan minuman jeruk ke seragam atasnya.
"Eh, sorry gue gak sengaja," ucap gadis itu.
"Iya, gak papa Kak." Walau sebenarnya Andini cukup kesal tapi mau bagaimana lagi. Dia usap dengan tisu bekas tumpahan es jeruk itu yang berada tepat di dadanya tapi tidak juga hilang.
"Din, lo kenapa?"
"Gak sengaja ada yang nabrak gue. Bentar ya gue mau ke toilet dulu." Andini berjalan cepat menuju toilet. Saat berada di dalam toilet dia basuh bekas es itu dengan sedikit air. Noda kuning itu memang hilang tapi seragamnya menjadi basah.
"Aduh, gimana nih jadi basah gini."
"Lo gak bawa cardigan?"
"Lupa gue."
"Haduh, gue juga gak bawa."
Andini masih mengobrol di depan toilet dengan Rara sambil menutupi dadanya dengan tangan.
"Kenapa?" pertanyaan itu berhasil membuat Andini menatapnya.
"Eh," Andini langsung membalikkan badannya saat melihat dia adalah Arka.
"Seragam kamu basah?" Arka melepas jas almamaternya. "Nih, kamu pakai dulu. Bentar lagi kita keliling kampus. Nanti kalau sudah kering kamu kembalikan."
__ADS_1
Andini tak juga mengambil jas almamater Arka. Dia masih berpikir beberapa saat untuk menimbang keuntungan dan kerugiannya.