Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Makan Malam


__ADS_3

Eza menggandeng tangan Andini dengan mesra saat memasuki sebuah restoran Jepang yang sangat mewah. Sudah banyak rekan kerja Eza di dalam.


Jujur saja, Andini sangat gerogi. Baru pertama kali ini dia menghadiri acara formal seperti ini. Walau sudah berpenampilan sempurna seperti kalangan atas, tapi jiwa kerdilnya masih saja sangat minder.


"Hmm, Mas ini acara orang-orang kaya ya? Aku jadi gak percaya diri." bisik Andini di telinga Eza.


"Ada aku. Kamu cukup berdiri di dekat aku saja." kata Eza membalas bisikan istrinya.


"Pak Eza, apa kabar? Lama tidak bertemu." Sapa salah satu rekan kerja Eza yang memang sudah lama tidak bertemu. Mereka berjabat tangan sesaat.


"Baik Pak Aryo. Iya, sudah lama kita tidak melakukan kerjasama."


"Terakhir satu tahun yang lalu. Wah, ini istrinya?"


"Iya Pak. Ini Andini, istri saya."


Andini mengangguk hormat sambil tersenyum.


"Hebat. Hebat. Masih muda sudah sukses dalam segala hal." Satu tepukan di bahu Eza mengakhiri obrolan singkat mereka.


Eza kembali berjalan bersama Andini. Beberapa pasang mata kini tertuju pada mereka yang terlihat sangat serasi. Beberapa wanita sampai ada yang berbisik-bisik.


"Eza, saya kira Papanya lagi yang datang." Senyum hangat mengembang dari seorang Bapak yang sudah berumur sekitar setengah abad.


"Pak Satya." Eza menjabat tangan Pak Satya sesaat sambil membalas senyumnya. "Papa sudah mulai menyerahkan semua pekerjaannya sama saya. Ya, ini memang baru pertama kali saya menghadiri acara seperti ini, Pak."


"Ini istrinya ya?"

__ADS_1


"Iya, Pak. Perkenalkan ini Andini, istri saya."


Andini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya hormat.


"Sangat serasi dengan Pak Eza."


"Papa." terlihat Stefi berjalan menghampiri Pak Satya lalu berdiri di sampingnya sambil menatap Andini dengan tatapan yang tidak suka.


"Andini, ini putri saya. Namanya Stefi."


Walau sebenarnya Andini enggan untuk berjabat tangan dengannya tapi demi rasa sopan dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Andini..." katanya memperkenalkan diri.


"Stefi." jawabnya singkat sesingkat jabatan tangannya bahkan hampir-hampir tidak menyentuh tangan Andini. "Orang tua kamu punya perusahaan apa? Pernah bekerja sama juga sama Papa?"


Andini menelan salivanya berkali-kali. Seketika dia merasa tidak pantas berada di sisi Eza.


"Stefi, tidak sopan bertanya seperti itu. Maaf ya, Pak Eza. Silahkan duduk dulu, sebentar lagi acara makan malam kita akan dimulai."


Mereka kembali mengobrol lalu meninggalkan Stefi yang kini sedang melipat tangannya menatap kesal kemesraan sepasang suami istri itu.


Andini dan Eza duduk bersebelahan di depan meja makan persegi panjang yang cukup besar. Di atas meja sudah tersaji berbagai macam menu masakan Jepang.


Sebenarnya Andini belum pernah sama sekali merasakan aneka masakan itu walaupun sudah menikah dengan Eza. Karena Eza lebih senang mengajak Andini makan di restoran cepat saji tentu saja karena itu kesukaan Andini.


Andini hanya mengikuti apa yang diambil Eza. Dia mengambil sushi dengan sumpit. Untunglah, paling tidak dia bisa memakai sumpit.


Eza sesekali masih mengobrol dan tertawa renyah dengan rekan-rekannya.

__ADS_1


Sedangkan Andini kini mulai memakan sushi itu dengan sekali gigitan lalu mengunyahnya. Aroma ikan mentah yang berada di dalam mulutnya berhasil mengaduk-aduk isi dalam perutnya. Dia berusaha untuk menelannya tapi rasa mual itu semakin tidak tertahankan.


Andini menutup mulutnya, lalu dia segera berdiri dan berlari menuju toilet.


"Sayang, kenapa?" pertanyaan Eza sudah tidak Andini jawab.


Andini segera masuk ke dalam toilet lalu memuntahkan semua isi perutnya di closet. Seketika tubuhnya terasa lemas dan kepalanya terasa pusing lagi.


Tak mau berlama di sana, Andini keluar dari bilik lalu berkumur di washtafel kemudian membersihkan bibirnya dengan tisu.


"Dasar ya, orang kampung lidahnya pasti gak cocok sama makanan orang kaya."


"Udah tahu gitu sok-sok an bergaul sama orang-orang kaya."


Andini kini menoleh sumber suara itu. Dia melihat ada Stefi yang sedang berbicara dengan temannya. Dia tahu persis mereka sedang menyindirnya.


"Mau-maunya Eza sama dia. Mending lo kemana-mana lagi."


"Cuma bagus body doang sih, buat apa?!"


Andini kini mendekati mereka, "Maaf, membicarakan orang seperti itu apa sopan?!"


"Berani juga ya..." Stefi berjalan mendekati Andini seolah ingin menantangnya.


"Andini." panggilan Eza menghentikan langkah Stefi. Eza langsung merengkuh tubuh istrinya. "Kamu gak papa kan sayang? Udah yuk, lebih baik sekarang kita pulang aja." Eza mengajak Andini berjalan keluar dari toilet meninggalkan Stefi.


"Eza, Eza, bisa-bisanya ya kamu bucin sama cewek kayak dia."

__ADS_1


Eza menghentikan langkahnya sesaat. "Setidaknya istri aku jauh lebih baik daripada kamu." Lalu mereka berdua pergi meninggalkan Stefi yang semakin geram.


__ADS_2