Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Sedikit Masalah


__ADS_3

Pagi itu, Eza menghentikan mobilnya di depan kampus Andini. "Sayang, beneran gak papa? Gak mual kan? Gak pusing kan?" tanya Eza yang begitu protektif pada istrinya yang sedang hamil muda itu.


"Nggak Mas, tenang aja ya. Nih, udah bawa senjata anti mual sama sedia masker juga kalau seandainya ada bau yang buat mual." Andini memang sengaja membawa manisan mangga di dalam tasnya dan juga masker.


Eza tersenyum lalu mengusap lembut puncak kepala Andini. "Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon ya."


"Iya Mas." Kemudian Andini mencium tangan Eza sebelum dia turun dari mobil yang dibalas kecupan di kening, pipi, dan bibir Andini.


Lalu Eza mengusap perut Andini. "Yang pintar ya. Jangan buat bunda mual lagi."


Andini tersenyum, lalu dia turun dari mobil suaminya dan berjalan masuk ke dalam kampus.


Saat berada di lorong kampus tiba-tiba ada beberapa mahasiswi yang mencegatnya. Andini menghentikan langkahnya lalu menatap mereka.


"Maaf, permisi aku mau lewat," ucap Andini karena mereka masih saja menghalangi langkahnya.


"Ada hubungan apa lo sama Arka?" tanya salah satu gadis itu.


Andini menggelengkan kepalanya. "Aku gak ada hubungan apa-apa sama Kak Arka."


"Gak ada hubungan apa-apa tapi kenapa Arka perhatian banget sama lo. Sampai dia bela-belain izinin lo ke Bu Lestari kemarin."


Lagi, Andini menggelengkan kepalanya. "Tanya sendiri saja sama Kak Arka."


"Eh, sok cantik banget lo!"


Andini tidak mau lagi menanggapi omongan mereka. Dia ingin melangkahkan kakinya pergi tapi satu begalan kini berhasil membegal kaki Andini hingga membuat tubuhnya limbung. Untung dengan cepat Arka menahan tubuh Andini hingga dia tidak sampai jatuh.

__ADS_1


"Astaga!!" Andini sangat terkejut begitu juga dengan Arka.


Badan Andini tiba-tiba menjadi lemas, dia hanya bisa mengusap perutnya. Hampir saja dia terjatuh kalau seandainya Arka tidak datang tepat waktu. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya dan kandungannya jika hal itu sampai terjadi.


"Kamu gak papa?" tanya Arka.


Tapi Andini tak menjawab. Dia masih shock. Bahkan bayangan-bayangan masa lalu yang membuatnya keguguran itu terus terlintas di benaknya. Hampir saja hal itu terulang lagi.


Menyadari wajah Andini yang semakin pucat. Arka membantunya untuk duduk terlebih dahulu di dekat kelas.


"Apa yang kalian lakukan? Tindakan yang kalian lakukan itu bahaya!" Ingin Arka merengkuh tubuh Andini yang sedang bergetar itu tapi Arka membatasi dirinya.


"Bahaya? Lo gak usah berlebihan deh, jatuh gitu doang gak bakal sakit." kata Vita. Dia salah satu teman satu angkatan Arka yang menaruh hati dengan Arka sedari dulu tapi tidak pernah tersampaikan.


"Gak akan sakit buat orang biasa, tapi kalau buat ibu hamil itu bahaya!"


"Hamil?" ucap mereka secara bersamaan, ditambah beberapa teman cowok Arka yang kini ikut bergerombol.


"Eh, lo yang hamilin dia?"


"Waduh, parah lo!!"


"Apa kalian bilang?! Andini hamil ya sama suaminya bukan sama gue." tukas Arka. Dia cukup kesal juga dengan teman-temannya yang selalu menarik kesimpulan sendiri.


"Suaminya?" ucap mereka secara bersamaan.


"Wah, kalau dia udah punya suami terus lo mau jadi pebinor?"

__ADS_1


"Astaga, kalian ngomong apa sih. Suami dia itu bos gue. Kalau terjadi apa-apa sama Andini dan calon anaknya bisa-bisa gue langsung dibunuh." Arka mengacak rambut lurusnya sesaat karena perkataan temannya semakin membuatnya pusing.


"Eh, sorry, gue udah salah paham."


"Maaf ya.."


Andini masih menatap kosong. Detak jantungnya masih belum bisa dia kontrol. Dia masih sangat shock.


"Aku telepon Pak Eza saja ya kalau kamu gak enak badan. Kamu tambah pucat. Aku takut kamu kenapa-napa." Andini tak menjawab, bahkan dia seolah tak mendengar saat Arka menghubungi Eza.


"Dini, lo kenapa?" Rara yang saat itu melintasi lorong dan mendapati Andini yang sedang duduk lemas langsung memeluknya. "Din?"


Tiba-tiba saja badan Andini semakin lemas pandangannya semakin kabur. Rasa takut itu benar-benar telah menyerap habis tenaganya. "Din?" Andini tak sadarkan diri dalam rengkuhan Rara.


"Andini?" Arka semakin merasa takut. Dialah penyebab ini semua terjadi. "Vita, lain kali kalau lo mau ngelakuin sesuatu itu dipikir dulu. Ada efeknya gak! Lo tahu siapa suami Andini? Dia Eza Handoko, pemilik Hans group."


Vita dan kedua temannya membulatkan matanya. Siapa yang tidak mengenal Eza Handoko, seorang pengusaha muda yang sangat sukses. "Lo serius?"


"Iya. Lo udah bawa gue dalam masalah besar sekarang."


Beberapa saat kemudian terlihat Eza berlari menghampiri keberadaan istrinya. Untunglah saat Arka meneleponnya, Eza masih mengisi bensinnya di SPBU dekat kampus.


"Sayang." seketika Eza membawa Andini ke dalam pelukannya saat Rara memberi tempat untuk Eza. Usapan tangan Eza di pipinya berhasil membuat mata Andini sedikit terbuka.


"Mas aku takut.." Andini mengeratkan pelukannya dan menangis di dada Eza.


"Takut apa?"

__ADS_1


Andini tak menjawab, tapi semakin terisak di dada Eza.


"Arka, apa yang terjadi?" pertanyaan Eza membuat Arka tergagap.


__ADS_2