
Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Sepasang orang tua baru ini setiap hari disibukkan dengan mengurus bayi kembar mereka. Bahkan Eza masih jarang pergi ke kantor karena dia masih tidak tega meninggalkan istrinya, walau sudah ada Bu Sonya dan Bi Sum yang ikut membantunya.
Setiap malam mereka kompak bergadang. Tidak hanya Andini saja yang akan bangun di setiap dua jam tapi juga Eza yang selalu membantu Andini memegangi si kembar. Bahkan terkadang Eza yang membangunkan Andini saat si kembar mulai rewel karena haus.
"Rayn ini anteng ya. Jadi kakak tapi selalu ngalah saat adiknya mau ASI dulu," kata Eza sambil menimang Rayn.
Andini hanya tersenyum sambil mengasihi Ryan yang memang sering rewel jika terlambat mendapat ASI. "Iya Mas. Sering ngalah sama adiknya." Andini mengusap pipi Ryan yang mulai terlihat chubby itu. Setelah terlelap, Andini meletakkan secara perlahan di dalam box nya lalu dia berganti meraih Rayn.
Dia bersandar pada headboard sambil memberi ASI pada Rayn.
"Sayang, kamu mulai buat ASIP aja ya. Biar gak bergadang terus gini." Eza meraih kepala istrinya agar bersandar di bahunya lalu mengusapnya lembut.
"Iya Mas. Udah mulai aku pompa tapi masih belum bisa ngatur waktu. Hmm, Mas setelah masa nifas aku kembali kuliah lagi ya?"
"Iya, tiga hari lagi adiknya Bi Sum udah bisa mulai bekerja. Dia yang akan jadi baby sitter."
Andini mengangguk lalu menatap Rayn yang telah terlelap.
"Kamu istirahat ya. Sini biar aku aja yang taruh box."
"Gak papa Mas biar aku saja. Sekalian mau ke kamar mandi."
"Ya sudah."
Andini beranjak dari duduknya lalu meletakkan Rayn di sebelah Ryan. Setelah menyelimuti mereka, Andini berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, dia keluar dari kamar mandi. Tapi saat akan naik ke atas ranjang tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan semua seolah berputar hingga membuatnya jatuh terduduk di sisi ranjang.
Eza yang sudah mulai tertidur itu seketika membuka matanya kembali. "Astaga sayang. Kenapa?" Eza segera membantu istrinya berdiri dan membaringkannya.
"Gak tahu Mas. Tiba-tiba rasanya berputar-putar."
"Pusing?" Eza menyentuh kening Andini yang memang terasa hangat. "Badan kamu hangat. Besok periksa ya."
Andini menggelengkan kepalanya. "Cuma pusing biasa Mas. Mungkin karena kurang tidur aja. Tiga hari lagi memang jadwalnya buat kontrol, sekalian aja."
__ADS_1
Eza menaikkan selimut hingga menutupi tubuh Andini. "Ya sudah kamu tidur ya. Kalau mau apa-apa bilang. Bekas jahitannya gak sakit kan?"
Andini menggelengkan kepalanya lalu beberapa detik kemudian dia sudah terlelap dalam tidur.
Eza mengecup singkat kening Andini dan dia segera menyusulnya ke alam mimpi.
...***...
Di malam menjelang pagi, suara tangisan bayi membuat Andini terbangun. Dia turun dari ranjang dan segera menghampiri Ryan yang sudah menangis karena haus.
"Sayang sebentar ya." Andini memegang kepalanya yang terasa semakin berat. Pandangannya berputar-putar. "Aku kenapa? Semakin lama semakin pusing gini."
Tangis Ryan semakin kencang, sedangkan Andini semakin tidak bisa menahan rasa pusingnya. Andini berusaha menahan tubuhnya dengan berpegangan di pinggir box. Tapi badannya terasa semakin berat. Dia tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya. Badannya ambruk di dekat box dan tak sadarkan diri.
Karena suara tangisan Ryan yang semakin kencang, Eza kini terbangun. "Sayang?" Dia melihat Andini yang sudah tidak ada di sampingnya. Dia bangun dan berniat menggendong Ryan. "Astaga! Andini!!" Eza justru terkejut saat melihat tubuh Andini tergeletak di lantai. Dia raih tubuh itu. "Andini, sayang, kamu kenapa? Badan kamu panas sekali." Eza segera mengangkat tubuh Andini dan membaringkannya di tempat tidur lalu dia segera menggendong Ryan, "Sayang, sebentar ya Bunda lagi sakit."
Dia keluar dari kamar sambil menimang Ryan agar sedikit diam dari tangisnya. Dia kini meminta bantuan pada Bu Sonya. "Ma, Andini pingsan!!"
Bu Sonya yang baru saja membuka pintu kamarnya dikejutkan dengan pernyataan putranya itu. "Pingsan gimana?"
"Sini, Mama gendong dulu. Kamu cek suhu badannya sama coba usap-usap biar sadar."
Eza kembali ke kamarnya, sedangkan Bu Sonya memanggil Bi Sum untuk menghangatkan ASIP.
Eza mengecek suhu tubuh Andini yang terasa semakin tinggi. Dia kini mengusap tangan Andini dengan kedua telapak Andini. "Sayang, ayo bangun." Masih tidak ada respon.
"Masih belum sadar, Za?" tanya Bu Sonya sambil menggendong Ryan yang sedang meminum ASIP dari botol.
"Belum, Ma."
"Langsung ke rumah sakit saja, Za. Pak Wawan sudah siap di depan," kata Pak Handoko yang sebelumnya sudah menyuruh Pak Wawan mempersiapkan mobil.
"Ma, titip si kembar ya."
"Iya Za, kamu tenang aja ya."
__ADS_1
Dengan gerak cepat, Eza menggendong tubuh istrinya. Bahkan tanpa berganti baju terlebih dahulu dan hanya meraih ponsel berserta dompetnya saja, dia langsung membawa istrinya masuk ke dalam mobil.
Tak butuh waktu lama, mobil itu sudah melaju menuju rumah sakit. Eza terus merengkuh tubuh istrinya yang seperti terbakar itu.
Setelah sampai di rumah sakit, Eza membawa Andini menuju IGD.
Dia menunggu pemeriksaan dengan cemas. "Semoga kamu gak kenapa-napa sayang."
Setelah selesai melakukan pemeriksaan Andini segera dipindah ke ruang rawat vip karena dokter menyarankan untuk rawat inap.
"Dokter apa yang terjadi dengan istri saya, kenapa belum sadar juga?"
"Bekas operasinya bagus dan sudah kering. Sepertinya istri Anda dehidrasi dan kelelahan. Tekanan darahnya juga sangat rendah. Kita sudah ambil sample darahnya karena demamnya sangat tinggi. Tunggu beberapa saat ya untuk mengetahui hasilnya. Untuk sementara saya sudah suntik obat penurun panas sebelum kita tahu penyakit yang sebenarnya."
Eza mengangguk lalu dia kini duduk di dekat brangkar setelah Dokter dan suster yang menangani keluar. Dia usap rambut Andini dengan lembut. Badannya masih terasa panas.
"Sayang, cepat sembuh. Kamu harus kuat. Ada Rayn dan Ryan yang butuh kamu."
Nampak Andini menggeleng resah lalu dia mengigau. "Ibu."
Eza semakin khawatir. Dia usap pipi Andini agar berhenti mengigau. "Sayang, ada aku di sini."
"Ibu, Dini kangen."
Tenggorokan Eza seketika terasa kering, dadanya bagai diremat-remat. Selama dua tahun menikahi Andini, baru kali ini Andini sakit sampai mengigau seperti ini.
"Bu, Dini kangen," igaunya lagi dengan suara yang semakin lemah.
"Sayang, kamu pasti capek ya. Kamu gak pernah mengeluh capek sama aku setelah sebulan melahirkan. Aku tahu, meskipun ada aku, ada Mama juga, gak akan ada yang bisa menggantikan kasih sayang seorang ibu." Eza mengenggam tangan Andini berusaha memberinya kekuatan.
Tiba-tiba napas Andini terlihat sesak.
"Sayang!" Eza menepuk pipi Andini pelan, tapi napas Andini semakin terlihat sesak dengan dada yang ikut naik seiring Andini menarik napasnya.
Eza semakin khawatir melihat kondisi istrinya. Dia segera menekan tombol emergency agar dokter segera datang.
__ADS_1
"Sayang, aku mohon, kamu bertahan..." Eza terus menekan tombol emergency itu....