
Eza masih terus mengusap lembut puncak kepala Andini. Dia pandangi wajah istrinya yang tertidur pulas itu.
"Za?" panggilan itu membuat Eza menoleh ke arah pintu. Ada Bu Sonya yang berjalan masuk dengan perlahan. Ditangannya ada dua tas dan satu kantong plastik yang kemudian diletakkan di atas meja.
"Andini udah tidur?" tanya Bu Sonya pelan sambil berjalan mendekati brangkar.
"Iya, Ma."
Bu Sonya menatap iba keadaan menantunya itu. "Kasian. Pasti Andini sangat sedih."
"Hemm.." Dalam tidurnya saja Andini masih merintih, yang membuat dada Eza terasa sesak untuk kesekian kalinya. Sesakit apa? Andai saja Eza yang merasakan sakit itu.
"Za, kenapa Andini masih kesakitan?"
Eza yang tangannya masih setia mengusap rambut Andini menjawab pertanyaan Mamanya dengan pelan. "Punggung Andini kena pukul kayu besar, Ma. Gara-gara melindungi aku." Ada satu helaan panjang di akhir kalimatnya.
"Kamu harus rawat Andini sampai dia benar-benar sembuh ya. Jangan mikir kerjaan dulu."
"Iya, Ma."
"Mama bawa baju kamu dan Andini, kamu mandi dulu. Lihat nih, kamu berantakan banget kayak gini. Biar Mama yang jagain di sini. Setelah itu kamu makan. Mama udah bawain kamu makanan juga."
"Iya Ma." Eza beranjak dari tempatnya yang langsung digantikan oleh Bu Sonya.
...***...
Sampai hari hampir malam, Andini belum juga bangun. Tapi dia sudah tidak merintih seperti tadi. Tidurnya kali ini benar-benar nyenyak. Sepertinya obat pereda nyeri sudah bekerja di dalam tubuhnya.
Eza yang setia menunggui Andini di sisi brangkar sampai tertidur. Dia letakkan kepalanya di dekat tangan Andini dengan mata yang terpejam.
"Mas Eza?" Andini mengerjapkan matanya dan melihat ada Eza di sisinya yang sedang tertidur. "Mas?"
__ADS_1
Panggil Andini yang membuat Eza membuka mata merahnya. "Sayang udah bangun?"
"Mas tidur di sofa saja kalau ngantuk."
Eza menggelengkan kepalanya. "Aku mau di dekat kamu terus."
"Aku haus, Mas."
"Iya, bentar aku atur posisi kamu dulu." Eza kembali mengatur posisi brangkar hingga setengah duduk. Lalu mengambil air mineral yang ada di atas nakas dan membantu Andini minum.
"Tadi Mama ke sini, baru aja pulang. Besok pagi ke sini lagi. Kamu mau pesan apa biar dibawakan."
"Baju ganti ada Mas?"
"Udah ada lengkap."
"Aku mau ke kamar mandi Mas." Andini berusaha menggerakkan dirinya, meski tidak sesakit tadi tapi rasa nyeri itu masih saja terasa menjalar ke seluruh tubuh.
"Jangan gerak dulu, sini aku gendong." Eza mengambil cairan infus. "Kamu pegang infusnya ya. Biar aku gendong." Eza mengangkat tubuh Andini dan segera berjalan menuju toilet. Setelah itu, Eza menurunkan Andini duduk di atas toilet dan meletakkan cairan infus di tiang infus yang berada di dekat toilet.
Andini saat itu memang memakai seragam pasien rumah sakit selutut yang berwarna biru.
"Mau buang air kecil Mas sama ganti itu..." Ternyata punggung Andini masih belum bersahabat dibuat membungkuk, hingga dia kesulitan untuk melepas ****** ******** sendiri.
"Sini aku bantu. Gak usah malu." Eza membantu apa yang diinginkan Andini. Tanpa rasa jijik sedikit pun melihat darah yang mungkin masih keluar selama satu minggu ke depan setelah kuret, lalu membersihkannya dan memasukkannya dalam kantong plastik kemudian membuangnya. "Lupa gak ada pembalut."
"Ada Mas. Di laci nakas. Tadi dikasih sama suster."
Eza keluar dari toilet lalu mengambil semua perlengkapan Andini.
"Sekalian ganti baju aja ya. Untung Mama bawain piyama daster jadi gampang pakainya."
__ADS_1
Andini hanya mengangguk. Setelah melepas semua pakaian Andini, dia menyeka tubuh Andini dengan handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat. "Luka kamu memarnya sampai kayak gini sayang. Pasti sakit banget." Eza mengusap pelan luka memar yang cukup lebar di punggung Andini.
"Nanti juga sembuh Mas."
Setelah tubuh Andini bersih Eza segera membantu Andini berpakaian.
"Ini gimana pasangnya sayang?"
"Ih, sini aku aja."
Eza tersenyum kecil. Dia memang tidak pernah melihat tutorial memasang pembalut. Dia hanya mempraktekan tutorial membuat anak saja. Yang sudah berhasil tapi gagal.
Setelah selesai, Eza kembali menggendong Andini keluar dari toilet lalu merebahkannya di atas brangkar dengan posisi setengah duduk.
"Makasih ya Mas," kata Andini saat dia merasa mendapat perhatian yang sangat besar dari Eza. Apalagi kini Eza juga menyisir rambutnya dengan pelan karena rambut Andini sangat kusut.
"Jangan bilang makasih. Ini udah jadi tanggung jawab aku. Kayaknya setelah sembuh kamu harus ke salon. Lihat nih, rambut kamu kusut banget." Eza tersenyum kecil sambil menyugar rambut-rambut yang terlilit di sisir.
"Iya Mas, body spa juga kayaknya enak ya Mas."
"Iya terserah kamu. Sekali-kali manjain diri. Ajak Rara sekalian ya."
"Mas tas aku tadi jatuh di pinggir jalan. Gimana ya hp aku?"
"Ada di mobil. Pak Satpam yang nemuin."
"Untunglah. Oiya Mas, batas registrasi di kampus dua minggu lagi. Aku berapa hari di sini?"
"Dokter belum bilang. Mungkin tiga sampai empat hari lagi. Minggu depan aja kalau badan kamu benar-benar udah sehat aku antar ke kampus buat registrasi."
Eza tersenyum menatap Andini yang terlihat lebih segar. "Udah cantik. Cium dulu deh setelah itu makan ya." Eza mendekatkan dirinya lalu mencium Andini dengan lembut dan mesra.
__ADS_1
"I love you..."
"I love you too..."