Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Mau Lihat Kamar Pengantin


__ADS_3

"Van, aku cariin ternyata kamu di sini?"


Suara itu membuat Andini mengeratkan tangannya pada Eza. Bayangan masa lalu yang buruk itu tiba-tiba teringat kembali. Apa dia tetap sama seperti dulu?


"Andini, akhirnya gue ketemu sama lo."


Senyum tulus itu mengembang di wajahnya, bukan senyum devil seperti dulu lagi. Sepertinya dia telah berubah.


"Dulu gue belum sempat minta maaf sama lo. Maafin gue ya, gue banyak salah sama lo. Gue sadar, hidup memang terasa lebih indah jika kita berbuat baik."


Andini mulai mengendorkan tangannya dari Eza. Dia kini tersenyum. "Iya, gak papa. Itu hanya masa lalu."


Kemudian Clarissa memeluk Andini sesaat. "Makasih ya. Lo emang baik banget." Setelah melepas pelukannya Clarissa kini mengusap lembut perut Andini. "Udah berapa bulan nih?"


"Udah jalan 5 bulan."


"Wah, selamat ya. Ikut gabung sama teman-teman yuk." ajak Clarissa.


Andini menatap Eza meminta izin. Meskipun tanpa berkata tapi Eza tanggap dengan keinginan istrinya itu.


"Gak papa, kamu gabung aja sama teman-teman kamu."


Andini tersenyum lalu dia berjalan bersama Clarissa ikut bergabung dengan teman-teman lainnya. Sederetan pertanyaan langsung didapat Andini seputar kehamilannya.


"Sudah berapa bulan nih?"


"Wah, bumil tambah cantik."


Eza cukup mengawasi istrinya dari jauh. Dia kini juga ikut bertegur sapa dengan rekan-rekan bisnis yang datang di acara itu.


Tak terasa acara pun selesai. Andini dan Eza pulang di urutan terakhir setelah berbincang sesaat dengan kedua mempelai dan keluarganya.


...***...


"Capek juga rasanya." setelah membersihkan diri, Andini kini bersandar di headboard sambil meluruskan kakinya yang terasa pegal.


"Pegal ya kakinya. Sini aku pijitin." Eza duduk di dekat kaki Andini lalu mulai memijatnya. Hal yang sering dia lakukan setelah Andini hamil. Dia harus bisa merangkap jadi tukang pijat saat istrinya mengeluh capek atau pegal. Apalagi sekarang sudah trimester dua dengan ukuran perut yang mulai membesar. Lebih besar karena berisi dua janin kembar tentunya.


Andini menatap langit-langit kamar itu. Ada sesuatu yang dia pikirkan.


"Mikirin apa sayang?" tanya Eza tanpa menghentikan pijatannya.


"Rara sama Kak Rendi sekarang menginap di hotel ya?"

__ADS_1


"Iya, kan satu paket sama kamar pengantin. Mungkin menginap di hotel dua hari, kalau mereka gak nambah." Eza tersenyum simpul.


"Kamarnya pasti di hias bunga-bunga mawar cantik gitu ya Mas?"


"Iya, pakai paket honeymoon sudah pasti ada dekor kamar pengantinnya."


"Mas, aku mau lihat."


Eza menghentikan pijatannya. Dia kini beralih ke sisi istrinya. Jadi dari tadi dia bertanya soal kamar Rara dan Rendi ingin melihat dekorasi kamar pengantin baru.


"Iya, besok aku pesan ya buat babymoon kita. Mau di hotel mana?"


Andini menggelengkan kepalanya. "Babymoon? Aku maunya lihat kamar pengantinnya Rara. Pengen tahu kayak apa?"


Eza menghela napas panjang. Tumben keinginan ibu hamil ini dari tadi aneh-aneh, apa karena kena sawan pengantin. "Gimana lihatnya sayang?"


"Video call ya?" pinta Andini.


Eza menggaruk kepalanya sendiri. "Sayang, mereka kan juga mau main. Jangan ya, nanti ganggu mereka. Ini sudah malam."


"Yah Mas." Andini kecewa. Dia kini merebahkan dirinya sambil memunggungi Eza.


"Sayang, besok aku pesankan kamar sendiri buat kita."


Andini menggelengkan kepalanya. Dia berusaha memejamkan mata tapi tak juga bisa tertidur. Dia kini membaringkan badannya menatap Eza yang masih saja terdiam menatapnya.


"Gak bisa tidur Mas. Aku masih kepikiran sama kamarnya Rara."


Eza menghela napas panjang. Sepertinya dia memang harus menuruti keinginan bumil ini. Dia raih ponselnya. Biarlah Rendi marah padanya yang penting anaknya nanti tidak ileran.


Eza menghubungi nomor Rendi dengan panggilan whatsapp tidak langsung video call takut jika mereka sedang melakukan ritual.


Cukup lama tak juga diangkat Rendi. Eza mencobanya lagi yang akhirnya diangkat oleh Rendi dengan suara kesal.


"Bos, ngapain telepon??"


"Ren, lo udah main belum. Gue video call ya?"


"Ngapain video call? Mau intip kita?"


Eza melirik Andini yang kini sudah duduk dengan antusias. "Bukan, ini bumil ngidam mau lihat kamar pengantin lo sama Rara."


"Astaga, bos jangan fitnah anaknya. Jangan-jangan itu ajaran sesat bapaknya buat ganggu gue."

__ADS_1


"Rendi, ngapain gue ngajarin gak bener. Serius ini, tuh bundanya anak-anak gak bisa tidur kalau belum lihat kamar lo."


"Ya udahlah, ngalah dulu sama bumil. Sebentar Rara masih di kamar mandi." Terlihat Rendi mengalihkan ke panggilan video. Rupanya mereka baru selesai membersihkan diri, belum melakukan apa-apa.


Seketika Andini menyambar ponsel suaminya lalu melihat dengan mata berbinarnya keromantisan kamar pengantin yang memang belum teracak. Kelopak bunga mawar merah itu bertaburan di atas ranjang dan berbentuk hati, belum lagi bunga-bunga di sekitar ranjang dan lilin-lilin aroma therapy.


"Bagus Mas."


"Kamu mau dibuatin kayak gitu?"


"Dasar bos gak modal, emang dulu pas honeymoon gak pesan ginian.." ejek Rendi di seberang sana. Walau tidak terlihat orangnya tapi nada bicaranya cukup mengesalkan.


"Gue beda. Gak usah bunga. Emang kuburan ditaburin bunga."


"Halah, tuh nyatanya anak bos ngidam pengen lihat kamar pengantin yang berbunga-bunga."


"Mas kok malah berantem sih. Kak Rendi, Rara mana? Aku mau ngobrol sebentar sama Rara."


Eza kini merebahkan dirinya. Sudahlah, terserah apa mau istrinya.


"Ra, ini bumil mau bicara sama kamu."


Mereka berdua mulai mengobrol. Sampai 10 menit belum juga selesai. Sampai 15 menit tak juga usai.


"Sayang, udah ya ngobrolnya. Kasian dong mereka pasti mau ritual yang pertama. Yuk, kita ritual sendiri aja yuk. Babymoon yuk." Eza berusaha membujuk istrinya agar segera menyudahi pembicaraannya.


"Iya.. Ra, sorry ya ganggu. Met menempuh hidup baru."


Akhirnya si bumil mematikan panggilan videonya. Dia kini mengembalikan ponselnya pada Eza.


Eza meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berbaring di sisi istrinya. "Sayang, lain kali jangan hubungi Rara lagi di jam malam. Biar mereka konsentrasi dulu."


"Iya Mas. Cuma kali ini aja." Andini menenggelamkan dirinya di dada Eza meskipun sudah tak serapat dulu karena terhalang perut.


"Jadi babymoon di hotel gak?"


Andini menggelengkan kepalanya. "Di rumah juga bisa kan Mas."


"Sekarang?" tanya Eza sambil tersenyum. Dia memang telah mengurangi intensitas bermainnya tiap malam karena dia tidak mau membuat Andini terlalu capek.


"Itu sih maunya Mas Eza."


Eza masih saja tersenyum sambil sesekali mengecup puncak kepala Andini.

__ADS_1


"Yah, si bumil udah lelap." Tak butuh waktu lama, Andini sudah terbuai dalam mimpi dengan napas teraturnya. "Pasti capek." Eza mengusap punggung Andini memberi kenyamanan agar tidurnya semakin nyenyak.


"I love you...."


__ADS_2