
Andini sedikit kebingungan mencari letak toilet kampus itu. Setelah bertanya pada mahasiswi di kampus itu akhirnya dia berhasil menemukannya. Andini segera masuk ke dalam toilet. Setelah itu, dia berkaca sesaat untuk menyisir rambutnya.
Setelah selesai, dia keluar dari toilet sambil mengambil ponselnya karena ada beberapa pesan masuk dari Eza.
Sayang, gimana? Udah selesai registrasinya? Nanti ajak Rendi sama Rara makan sekalian ya..
Andini tersenyum lalu segera membalas pesan suaminya itu.
Iya Mas. Aku ajak Arjuna sekalian ya? Nanti aku mampir ke rumah dulu.
Pesan sudah terkirim ke Eza.
Karena pandangannya terlalu fokus pada ponselnya, tanpa sengaja Andini menabrak seseorang.
"Eh, maaf," ucapnya.
Ponsel Andini sampai terjatuh. Dia akan mengambil ponselnya tapi baru setengah membungkuk, punggung Andini terasa sakit. Sudah lebih dari satu minggu punggung Andini masih terasa sakit jika harus dibuat membungkuk secara mendadak.
Pria yang memakai jas almamater kampus itu segera mengambil ponsel Andini. "Maaf ya," ucapnya sekali lagi.
"Iya, tidak apa-apa kak," kata Andini sambil menerima ponselnya dari tangan pria itu.
Andini akan melangkahkan kakinya pergi tapi pria itu justru mengikuti langkah kaki Andini. "Kamu calon maba di sini?"
"Iya kak," jawab Andini singkat. Bahkan dia tidak melihat sama sekali pria di sampingnya. Dia jaga pandangannya dari pria lain.
"Masuk fakultas apa?"
__ADS_1
"Boga kak."
"Wah, calon koki dong." Pria itu benar-benar ingin mengakrabkan diri dengan Andini. Dia hanya belum tahu saja bahwa gadis cantik itu sudah memiliki suami.
Andini hanya tersenyum.
"Gak mau lihat-lihat kampus dulu. Aku bisa jadi pemandu kampus kamu." tawar pria itu.
Andini menggelengkan kepalanya. "Ada teman yang menunggu kak."
"Ya sudah. Ketemu dua minggu lagi ya. Aku salah satu pembina di acara pengenalan kampus. Nama aku Arka." Arka mengulurkan tangannya yang membuat Andini menghentikan langkah kakinya sesaat.
Andini hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa membalas jabatan tangan Arka. "Aku Andini. Aku permisi dulu Kak." Andini mempercepat langkahnya meninggalkan Arka.
Arka hanya menurunkan tangannya sambil melihat punggung Andini yang semakin menjauh. "Bukan gadis sembarangan," gumamnya lalu dia membalikkan badannya dan bergabung kembali dengan teman-temannya.
Andini sampai di tempat Rara dan Rendi. Seketika Rara langsung berdiri dan berjalan mendekati Andini. "Din, kok lo lama sih?"
Sedangkan Rendi hanya tersenyum. Dia justru berharap bu bosnya itu lebih lama lagi dari ini.
"Ra, kita makan dulu yuk? Oiya, Kak Rendi mau kan?" tanya Andini saat mereka sudah berjalan menuju tempat parkir.
"Jelas mau dong."
"Tapi antar aku ke rumah dulu ya. Aku mau ajak Arjuna juga."
"Siap Bu Bos. Mau makan dimana kita?"
__ADS_1
"McD aja ya. Mau kan Ra?"
Rara tersenyum sambil mengangguk. Mengapa Andini pakai tanya segala. Kalau soal itu sudah jelaslah, Rara tidak menolak karena program dietnya telah berakhir.
Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil. Rara dan Andini duduk di belakang sambil mengobrol. Sedangkan Rendi bertugas menjadi sopir sambil sesekali melihat Rara di rear spion. Waktu begitu cepat berputar, sepertinya baru kemarin Rendi menjemput mereka di sekolah dengan tubuh Rara yang masih gemuk. Sekarang Rara sudah semakin cantik.
Rendi menghela napas panjang. Ini salah satu pengalaman berharga baginya. Dia tidak boleh lagi memandang rendah seseorang hanya karena fisik.
...***...
.
.
Sambil nunggu mampir yuk ke karya author lainnya.
Di sini ada si bucin Rizal..👆👆
Ini lanjutannya ya, ada si gemes Alvin dan Rili. Sama es kutub Rasya.. 👆👆
Di sini ada si bad boy Aksara.. 👆👆
__ADS_1
.
Mampir ya. Tinggal klik profil author saja..