
Eza menelan salivanya berkali-kali. Dadanya berdebar-debar tidak karuan. Benarkah ini saatnya?
"May I?" Tanya Eza memastikan lagi.
Andini menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"I love you..."
"I love you too..."
Eza menahan dirinya dengan siku. Dia mendekatkan wajahnya. Mencium bibir Andini dengan lembut dan mencari celah untuk menghisap manisnya madu itu. Menyusuri setiap inci dan menyesapnya secara bergantian. Perpaduan yang sangat indah yang membuat keduanya sudah dimabuk kepayang.
Napas Eza semakin memburu. Dia sudah dipenuhi hasrat yang ingin segera disalurkan.
Dia tatap lekat kedua mata Andini dengan kecupan-kecupan kecil di bibirnya.
"Mau aku yang buka atau kamu sendiri?" tanyanya dengan suara parau. Meski gelora itu sudah membakar dirinya, tapi dia harus melakukannya secara perlahan dengan foreplay yang tepat.
"Mas Eza aja." jawaban Andini membuat Eza semakin menggebu. Dia kini setengah duduk dan menarik tali piyama Andini lalu membuka piyama itu. Kini terpampanglah keindahan yang selama ini hanya mampu dia intip lewat layar ponsel. Walau kain penutup terakhir belum terbuka, tapi lekuk sexy itu begitu menggoda. Sesuatu yang bulat dan menyembul separuh itu sudah melambai-lambai ingin dijamah.
Dia telusuri kulit halus Andini dengan ujung jarinya. Membuat gambaran-gambaran yang menciptakan sensasi geli pada Andini.
"Sayang." Eza kembali mendekati Andini. Lalu menciumnya. Dalam, menuntut, dan menggebu.
Andini masih belum bisa mengimbangi permainan bibir Eza. Dia hanya memejamkan matanya dan melingkarkan tangannya di leher Eza.
Saat tautan itu terlepas, mata Andini terbuka. Lagi, lagi mereka saling menatap.
"Sayang, aku bingung mau mulai dari mana?" kata Eza sambil tersenyum.
__ADS_1
Andini justru mencibir. "Katanya tadi pengen. Kok sekarang ngeblank?"
Eza hanya tersenyum, dia kembali menyatukan wajahnya. Hanya sesaat, setelah itu bibir Eza mencari tempat labuhan lain. Menyusuri leher putih Andini. Aroma harum dan rasa manis itu semakin memacu adrenalinenya. Dia ciptakan sensasi-sensasi yang membuat tubuh Andini bergeliat. Sapuan hangat, hisapan kecil, bahkan gigitan-gigitan kecil turut menyumbang rasa yang membuat Andini melenguh secara otomatis.
Tangan Eza kini beralih ke punggung Andini. Melepas pengait menuju sebuah pemandangan yang sangat dinantinya. Setelah berhasil terlepas Eza melempar penutup itu ke sembarang tempat.
Sangat menantang. Benda sintal itu benar-benar masih padat, bulat, dan mampu mengalirkan aliran darah Eza dengan cepat.
Dia usap lembut kulit putih itu. "Belum pernah terjamah sama sekali. I'm so lucky."
Andini tersenyum, "Pernah dong Mas. Aku sendiri."
"Gimana kalau main?" Eza menggoda Andini sambil menangkup kedua benda itu dengan telapak tangannya. "Begini?" Eza mulai mere mas lembut.
"Ih, dulu Mas Eza lihatnya gimana aku main lewat VC."
Andini menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi nyata yang dilakukan Eza. Ada gelenyar aneh yang sudah memenuhi perutnya. Bahkan dia sudah tidak bisa menahan suara indah dari bibirnya saat Eza memilin miliknya.
"Mas..." Sensasi itu semakin menjadi saat dia merasa bibir Eza bermain di sana. Menyapunya dengan hangat lalu menyesapnya dengan rakus. Bergantian kanan dan kiri.
Andini menggeleng tak karuan merasakan sensasi yang mendominasi seluruh tubuh. "Mas udah, geli..."
Setelah membuat mahakarya di sekitaran sana, Eza kini mendongak menatap wajah Andini yang tengah merah padam. "Baru juga pembukaan sayang. Yang bawah belum loh."
Andini mengatur napasnya. Dada itu nampak naik turun yang membuat Eza semakin gemas saja.
"Sudah basah ternyata." Eza tersenyum karena tangannya berhasil menyusup ke sebuah lembah.
Andini merasa bagai melayang lagi, saat merasakan gerakan memutar dari jari Eza di bawah sana.
__ADS_1
Eza terus menatap ekspresi Andini yang sangat menikmatinya, dia percepat gerakan jarinya yang membuat suara Andini semakin keras.
"Mas, nanti aku bisa..."
"Mau kamu keluarin sekarang, ada cara lain yang pasti lebih enak." Eza tersenyum menggoda sambil menatap Andini dengan wajah yang sudah dipenuhi gelora.
Andini tak menjawab, dia hanya menatap Eza yang kini telah berhasil melepas kain penutup terakhir itu.
Eza sedikit membuka paha Andini hingga kini dia bisa mengamati dengan intens tempat pelabuhan yang akan membawanya tenggelam dalam kenikmatan.
Dia semakin mendekatkan dirinya, aroma khas sudah tercium di hidungnya.
"Mas Eza mau ngapain?"
Pertanyaan Andini sudah tidak dia jawab. Dia sudah menenggelamkan dirinya, semakin membasahi lembah yang telah basah.
"Mas jangan..." Bibir boleh berkata jangan tapi gerakan tubuh Andini seolah ingin Eza semakin memperdalam permainannya.
Dia benar-benar sudah dibuat Eza melambung tinggi. Gerakan memutar dan hisapan-hisapan kecil itu membuat suara indah Andini semakin keras. Dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dia gapai apa yang ada di dekatnya dan mencengkeramnya saat rasa ingin meledak itu sudah tidak tertahankan lagi.
"Mas Eza..." panggil Andini di sela-sela suara kenikmatan itu. Tubuhnya menggelinjang lalu sesaat kemudian melemas.
Eza menyudahinya. Dia kini menegakkan dirinya dan menatap Andini yang masih bernapas tersenggal. "Gimana sayang?"
Andini hanya tersenyum.
"Next on." Eza membuka piyamanya. Walau pernah melihatnya secara virtual tapi tubuh Eza yang begitu bagus dengan dada bidang dan otot-otot keras yang lumayan menonjol begitu menggoda. Apalagi sesuatu yang terkekang di dalam sangkar itu membuat Andini menelan salivanya berkali-kali.
"Kenapa sayang? Rileks aja. Gak akan sakit kok."
__ADS_1