Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Time to Time


__ADS_3

Hari begitu cepat berlalu, kini usia kandungan Andini sudah memasuki trimester kedua. Masih tetap sama, setiap hari Eza selalu over protektif pada Andini.


"Bekalnya sudah kan?" tanya Eza saat menghentikan mobilnya di depan kampus Andini.


"Sudah Mas." karena Andini sekarang merasa sering lapar jadi setiap hari dia membawa bekal. Entah itu roti sandwich, roti bakar atau sejenis makanan berat lainnya. "Kalau Mas Eza masih sibuk di kantor gak papa, biar Pak Wawan aja yang jemput. Sekarang kan sudah bisa makan sendiri Mas. Gak mual lagi."


Eza justru tersenyum lalu mengusap perut yang sudah terlihat membuncit itu. Bahkan terkadang sudah terasa gerakan pelan dari dalam perut. "Wah, anak Ayah udah besar, udah bisa makan sendiri ya sekarang."


Andini selalu tertawa ketika mendengar celotehan suaminya pada calon anaknya yang masih berada dalam perut. Merasa sangat bahagia juga tentunya, sebelum lahir ke dunia saja Ayahnya sudah sangat menyayanginya.


"Ya udah, hati-hati ya sayang." Satu kecupan mendarat di kening lalu kedua pipinya.


"Iya, Mas. Mas juga hati-hati ya di jalan." Andini mencium tangan Eza sebelum dia keluar dari mobil.


Andini kini berjalan dengan santai di koridor kampus. Tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpanya setelah masalah kesalah pahaman beberapa bulan lalu telah clear bahkan Arka kini juga telah menjadi temannya.


Seperti saat ini yang tiba-tiba Arka berjalan mendekatinya. Masih tetap sama, Arka sebenarnya adalah seorang bodyguard yang terselubung. "Din, teman kamu yang sering sama kamu itu namanya Reva kan?"


Andini menganggukkan kepalanya. "Kenapa Kak?"


"Aku minta nomornya ya?"


Andini tersenyum. "Tumben?"


"Biar ada yang nemenin ke kondangan."


Andini semakin tersenyum. "Iya, nanti aku kirim ya. Tenang aja, Reva pasti mau."


"Makasih ya.." kata Arka kemudian dia berlalu saat Andini masuk ke dalam kelasnya. Dia kini duduk di sebelah Rara yang sedang melamun.


"Duh, yang mau nikah. Kenapa melamun aja?"


"Eh, Din. Gak papa. Cuma deg-degan aja."


Andini mencebikkan bibirnya. "Deg-deg an mikirin apa? Acaranya atau lainnya?"


Rara hanya tersenyum kecil. "Semuanya."


"Lo jadi gak adain reoni teman SMA kita?"


"Ya jadi. Tapi aku juga gak tahu sih mereka mau datang atau gak? Soalnya aku kan dulu hanya dari kalangan gak penting."

__ADS_1


"Kan itu dulu. Sekarang udah jadi orang penting." Andini tersenyum dengan tulus.


"Penting buat siapa?"


"Kak Rendi." jawab Andini sambil cekikikan.


"Ih, dasar bumil." lalu Rara melihat ke perut Andini yang sudah terlihat membuncit. "Lucunya, perut lo udah semakin besar."


"Iya Ra. Kadang udah terasa gerakannya."


"Udah keliatan belum jenis kelaminnya. Aunty jadi gak sabar menyambut baby twins."


"Terakhir waktu USG masih belum terlalu jelas. Tapi cewek atau cowok sama aja." kata Andini sambil mengusap perutnya dengan senyum merekah.


...***...


Waktu berlalu begitu cepat. Kini Andini dengan mata berbinarnya menyaksikan sahabatnya melaksanakan ijab qabul. Acara mereka diselenggarakan di sebuah hotel cukup mewah.


Eza yang berada di samping Andini, terus merengkuhnya. Dia justru lebih bahagia daripada apa yang dirasakan istrinya. Menanti kehadiran calon buah hati memang sebahagia itu.


Setelah prosesi ijab qabul selesai, satu jam kemudian akan dilanjutkan dengan acara resepsi.


"Kamu makan dulu aja, nanti kalau udah banyak tamu kamu malah bingung ambil makanannya." Eza tersenyum sambil mengambil aneka macam makanan yang masih belum disentuh tamu lainnya. Biarlah si direktur jadi orang pertama yang makan toh acara itu juga dapat dana sponsor darinya.


"Gak papa. Sini duduk dulu." Eza meletakkan beberapa makanan di atas meja bundar lalu mereka duduk di atas kursi bangket yang berkafer silver itu sesuai nuansa acara hari itu.


Andini melihat beberapa piring yang sudah penuh dengan beberapa makanan. "Ini sih keliatan kalau yang lapar Mas Eza."


Eza tertawa. Karena bukan hanya Andini saja yang nafsu makannya meningkat tapi juga Eza. Berat badannya saja sudah mulai naik juga.


"Kayaknya Mas Eza mau nyaingin perut aku."


"Mana? Masih six pack nih. Aku kan beberapa kali udah mulai nge gym lagi."


Andini hanya mencibir. Mana ada sekarang six pack. Lemak sudah mulai menutupi otot-otot itu.


"Makan dulu, mau aku suapi?"


Andini menggeleng. "Gak usah Mas." lalu dia mulai makan tapi pandangannya tak lepas dari sebuah pelaminan yang dihias bunga-bunga yang sangat cantik. "Mas, boleh coba duduk di sana gak?" tanya Andini tiba-tiba. Entah datang darimana keinginan itu.


Eza yang saat itu sedang makan dengan lahap tiba-tiba menghentikan gerakannya. Dia kini menatap Andini lalu melempar pandang ke sebuah pelaminan yang masih sepi. Ada sedikit rasa sedih yang terselip di hatinya, dulu dia tidak memberi yang terbaik untuk Andini di acara pernikahannya.

__ADS_1


"Tentu sayang. Ayo!" Eza menuntun istrinya naik ke atas pelaminan.


Andini tersenyum merekah saat mendudukkan dirinya di kursi pelaminan. "Cantik ya Mas?"


"Iya, cantik banget kamu." kata Eza yang kini duduk di sebelah istrinya.


"Dekornya Mas."


Eza meraih tubuh Andini lalu merengkuhnya dengan erat. "Maaf ya sayang. Dulu waktu kita nikah gak ada acara seperti ini. Gak ada pelaminan, gak ada apa-apa."


Andini menggelengkan kepalanya. "Gak papa Mas. Yang penting, aku sudah hidup bahagia bersama Mas Eza."


Perkataan Andini semakin membuat Eza meleleh. Dia semakin memeluk Andini tak peduli ada beberapa pasang mata yang kini menyaksikan adegan mereka. "Aku sayang banget sama kamu. Terima kasih, kalian sudah hadir dalam hidup aku."


"Mas, gak usah mellow gini. Turun yuk Mas. Pemiliknya udah datang." Andini tersenyum malu saat kedua pengantin beserta keluarganya datang menghampiri mereka.


Eza mendongak. "Acaranya mau dimulai Ren?"


"Ya, sebentar lagi bos. Gak papa kalau bu bos masih mau duduk di sini, gak papa."


Andini menggelengkan kepalanya. "Cuma pengen coba bentar aja kok." Andini lalu berdiri. Dia kini justru memeluk tubuh Rara. "Selamat menempuh hidup baru, Ra. Semoga kalian selalu bahagia ya."


"Makasih ya, Din."


Kemudian mereka mengobrol sesaat di atas pelaminan. Setelah itu mereka turun karena acara akan segera dimulai.


Andini dan Eza kembali duduk ke tempatnya. Mereka melanjutkan makan yang sempat tertunda sambil menikmati serentetan acara yang telah dimulai. Tamu undangan baik keluarga dan sahabat sudah memenuhi ruangan itu. Tak terkecuali teman-teman SMA Rara dan Andini.


"Mas, sebentar ya aku mau ke toilet." Andini berdiri tapi Eza juga ikut berdiri.


"Aku antar ya. Ramai banget soalnya." Eza menggandeng tangan istrinya dan menuntunnya menuju toilet. Tak butuh waktu lama, Andini sudah selesai, kemudian mereka segera kembali ke acara.


"Andini, Pak Eza!" sapaan itu menghentikan langkah mereka.


"Irvan? Datang sama siapa?"


"Sama teman-teman, Pak." Irvan tersenyum manis lalu dia kini menatap perut Andini yang memang sudah terlihat. "Selamat atas kehamilannya."


Eza dan Andini mengangguk. "Iya Van, makasih."


"Van, aku cariin ternyata kamu di sini?"

__ADS_1


Suara itu membuat Andini mengeratkan tangannya pada Eza. Bayangan masa lalu tiba-tiba teringat kembali...


__ADS_2