Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Ada Penguntit


__ADS_3

"Lo ngapain sih ngajak gue ke bioskop pakai telpon nyokap gue segala." Sore itu Irvan terpaksa datang ke bioskop karena permintaan Clarissa. Sebenarnya dia menolak tapi karena Clarissa menghubungi Mamanya, jadi mau tidak mau Irvan terpaksa menurutinya.


Dia kini duduk sambil menunggu film yang akan diputar selanjutnya.


"Ada sesuatu yang mau gue tunjukin sama lo. Lo mau tahu sendiri kan hidup Andini itu kayak gimana?" ucap Clarissa sambil menunjuk Andini yang sedang membeli pop corn bersama Eza.


Irvan hanya berdengus kesal. Dia sudah tahu yang sebenarnya, buat apalagi mengikuti Andini. "Emang kenapa kalau Andini sama cowok? Apa urusannya sama lo?" Irvan akan berdiri tapi ditarik kembali oleh Clarissa.


"Biar lo tahu. Biar lo gak deketin dia lagi! Dia itu digosipin dekat sama Pak Eza tapi sekarang malah mesra sama cowok lain."


Irvan kembali menghela napas panjang. Apa Clarissa gak tahu, kalau yang bersama Andini sekarang itu Pak Eza? Gara-gara kejadian kemarin perusahaan Papa udah hampir putus kerjasama dengan Hans Group.


"Irvan, ayo masuk." Clarissa memaksa Irvan masuk ke dalam bioskop saat film akan dimulai.


Mereka duduk tepat di belakang Andini dan Eza. Rupanya Andini maupun Eza tidak sadar akan keberadaan Clarissa.

__ADS_1


Irvan hanya terdiam melihat kebahagiaan Andini yang jelas terpancar di wajahnya.


Beberapa saat kemudian lampu di dalam bioskop padam saat film akan diputar.


Bayangan kisah Irvan justru berputar sendiri di otaknya. Dia tahu, dia sudah menyukai Andini sejak dulu tapi dia malu mendekati Andini yang belum cantik waktu itu.


Hingga saat dia iseng membuka situs vcs yang sedang dibicarakan oleh teman-temannya waktu itu, dia langsung mengenali Andini meski wajahnya ditutup oleh topeng pesta. Dia semakin yakin mendengar suara itu apalagi saat dia berhasil mencari titik letak nomor Angel dalam peta. Dia tahu itu rumah Andini. Beberapa kali dia menghubungi Angel tapi seringkali sibuk, dan terakhir ini justru sudah tidak aktif lagi. Ditambah dengan gosip-gosip yang beredar bahwa Andini adalah gadis bertarif dan open BO.


Sialnya, Irvan justru terpancing gosip itu. Dia ingin mengajak Andini jalan tapi selalu ditolak, hingga akhirnya jalan satu-satunya adalah memaksanya.


Gue tahu, gue yang salah. Harusnya gak dengan cara itu gue dapatin lo. Gue terlanjur emosi. Baguslah, lo sekarang sudah bahagia bersama Pak Eza.


Sampai satu adegan yang sangat tak disangka Irvan, saat Eza mendekatkan dirinya dan mencium Andini.


Cekrek.

__ADS_1


Tepat di momen itu Clarissa memotret mereka dengan kamera ponselnya, menggunakan flash lagi. Jelaslah sedikit memancing kerusuhan.


Eza dan Andini seketika menoleh dan sedikit mendongak ke sumber cahaya itu. Mereka terkejut melihat Clarissa dan Irvan yang sedang duduk di belakangnya.


"Kalian??"


Sebelum menimbulkan keributan lebih lanjut, Eza mengajak Andini keluar dari dalam bioskop yang diikuti mereka berdua.


"Mas, kenapa mereka berdua ada di sini juga sih?" tanya Andini yang semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Eza, dia takut hal ini akan menjadi bahan gosip Clarissa selanjutnya.


"Udah, biarin aja. Kita pulang aja yuk."


Mereka berdua segera melangkahkan kakinya cepat keluar dari kawasan bioskop.


"Sa, udah!! Buat apa sih lo ngikuti mereka! Gue mau pulang!! Gak penting banget." Irvan kini meninggalkan Clarissa.

__ADS_1


Clarissa tersenyum miring lalu dia menghubungi seseorang lewat ponselnya.


...***...


__ADS_2