
Ada sepasang tangan dengan sigap menangkap tubuhnya yang telah ambruk. Entahlah siapa? Yang jelas aroma maskulin itu sangat dia kenal.
"Andini!!" Di saat yang tepat Eza datang dan langsung menahan tubuh Andini dalam pelukannya.
"Perbuatan siapa ini?" Suara itu menggema menerobos keramaian. Kilat marah sangat terlihat dari sorot mata Eza. "Siapa yang buat kekacauan ini!! Jawab!!!"
Mereka hanya terdiam. Tidak berani lagi berkomentar.
"Oke, tanpa kalian bilang saya sudah tahu siapa pelakunya. Irvan, kamu bereskan ini semua. Kamu buang lalu kamu bakar!!" Eza kini menatap tajam Clarissa. "Clarissa kamu ke ruang kepala sekolah. Sekarang!"
Setelah itu Eza mengangkat tubuh Andini dan membawanya ke UKS. "Rara, kamu ikut saya ke UKS."
"Iya, Pak."
Mereka bertiga berlalu.
"Nakutin juga ya Pak Eza." komentar salah satu dari mereka.
"Kalian tahu siapa Pak Eza itu!!! Dia itu orang penting di sekolah ini. Kalian semua bisa kena masalah. Dan orang yang difoto ini, semuanya adalah Pak Eza!" kata Irvan sambil memunguti kertas-kertas itu.
"Irvan, lo jangan belain Andini terus. Cowok yang ada di dalam foto itu jelas beda." kata Clarissa yang masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Irvan. "Lagian siapa Pak Eza itu! Sepenting apa dia!"
Irvan cukup geram juga dengan perkataan Clarissa. Apa dia benar-benar ingin membawa semua temannya dalam masalah besar. "Pak Eza itu pemilik sekolah ini."
"Gue gak percaya."
"Kalau lo gak percaya, lo buktiin sendiri sekarang ke ruang kepala sekolah!"
"Oke!!" Clarissa akhirnya pergi menuju ruang Kepala Sekolah.
Irvan kembali memunguti kertas-kertas yang kini sudah dibantu oleh teman-temannya. "Jadi benar Pak Eza itu pemilik sekolah ini, wah kita semua bisa kena hukuman."
"Tunggu! Gue amati dulu foto-foto ini. Orang yang sama gak ya? Mirip sih emang cuma beda penampilan."
"Makanya kalian itu jangan kemakan berita sampah kayak gini." Irvan memasukkan semua kertas itu ke dalam tong sampah.
"Tapi apa hubungan mereka? Di foto-foto itu mereka kelihatan mesra."
"Kalau soal itu, biar Pak Eza sendiri yang klarifikasi."
...***...
Eza merebahkan Andini di bed UKS. "Sayang, kamu kenapa? Ayo sadar." Eza mengusap pelipis Andini yang berkeringat. Wajahnya nampak semakin pucat dari tadi pagi.
"Ra, penjaga UKS nya dimana?"
"Kalau bukan waktu upacara biasanya belum datang Pak. Soalnya Bu Dwi ada tugas juga di Puskesmas."
"Ya sudah. Ambilkan minyak kayu putih ya."
__ADS_1
Rara segera mengambilkan minyak kayu putih. Setelah itu Eza mengusap sekitaran leher Andini dengan minyak kayu putih kemudian pelipisnya secara perlahan.
"Sayang, ayo cepat sadar." Eza semakin panik saja karena Andini tak juga membuka matanya. Dia kini meraih tangan Andini lalu menggesek dengan kedua telapak tangannya.
Beberapa saat kemudian Andini mengerjapkan matanya. Dia kini melihat Eza yang sedang khawatir. Ketenangan itu seketika menyelimuti dirinya.
"Mas Eza."
"Akhirnya kamu sadar."
Andini langsung memeluk Eza. Dia sangat ketakutan dengan kerusuhan itu.
"Kamu tenang ya. Aku akan bereskan ini semua."
"Aku takut.."
"Percaya sama aku, aku akan bersihkan nama kamu."
Eza meregangkan pelukannya lalu menatap wajah Andini yang masih saja berkeringat. "Sakit? Kamu tambah pucat."
"Iya Mas. Rasanya perut aku tambah nyeri."
"Kita ke rumah sakit saja ya."
"Mas, ini bukan penyakit. Malu kalau ke rumah sakit."
"Iya, ada Pak."
"Kamu minum obat dulu ya, lalu kamu istirahat di sini. Aku pasti akan selesaikan masalah ini sekarang juga." Eza mengusap puncak rambut Andini sesaat sebelum keluar dari UKS.
"Ya ampun, Dini. Pak Eza perhatian banget sama lo. Baru kali ini gue lihat secara nyata." kata Rara setelah Eza keluar dari UKS.
Andini hanya tersenyum simpul. Dia percaya Eza bisa menyelesaikan ini semua.
"Tapi sebenarnya apa sih hubungan lo sama Pak Eza kalau boleh tahu." kata Rara yang sekarang sedang mengambil obat pereda nyeri itu.
"Gue udah nikah sama Mas Eza."
"Apa?" Rara sangat terkejut sampai obat yang dipegangnya terjatuh. Lalu dia mengambilnya lagi dan duduk di samping Andini. "Serius lo?"
Andini menganggukkan kepalanya. "Jangan mikir yang bukan-bukan. Gue gak nikah karena kecelakaan kok. Emang terkesan terburu-buru, tapi kita saling mencintai dan hidup gue sekarang gak sendiri lagi , Ra."
Rara kini memeluk sahabatnya. "Selamat ya Din. Gue ikut seneng kalau lo bahagia."
"Tapi Ra, gue takut sama anak-anak. Pasti mereka masih nuduh gue yang bukan-bukan. Padahal yang ada di foto itu semuanya Mas Eza."
"Jadi wujud asli Pak Eza ganteng banget kayak gitu."
Andini mengangguk kecil.
__ADS_1
"Wih, keren. Guru Matematika lagi."
"Lo salah, Ra. Mas Eza sebenarnya bukan guru Matematika di sini tapi pemilik sekolah ini."
"Apa??" Mata Rara hampir saja keluar dari tempatnya karena saking terkejutnya. "Bisa langsung kena hukuman tuh anak-anak yang bully lo."
...***...
Eza kini duduk di kursi kebesarannya dekat dengan Kepala Sekolah, Pak Wijaya. Sudah ada beberapa guru juga di sana, salah satunya adalah guru BP dan wali kelas Clarissa.
Beberapa saat kemudian, Pak Heru selaku wali dari Clarissa masuk ke dalam ruangan itu. Dia kini duduk di dekat putrinya yang sedang menjadi terdakwa.
"Bagus, semua sudah datang. Clarissa masih mau menyangkal kalau di foto itu adalah orang yang berbeda?" tanya Eza yang kini sudah melepas kacamatanya.
"Clarissa apa yang kamu lakukan?" tanya Pak Heru. "Kamu tahu siapa Pak Eza itu?"
Clarissa hanya menggelengkan kepalanya.
"Dia itu pemilik sekolah ini dan direktur di Hans Group. Kamu mau dikeluarkan dari sekolah ini? Pak Eza bisa saja buat perusahaan Papa juga bangkrut."
Clarissa kini tidak bisa berkutik. Ini seperti senjata makan tuan. Bukan Andini yang kena masalah tapi dirinya.
"Clarissa, apa yang sudah kamu lakukan itu menganggu privasi seseorang. Bisa saja saya menuntut kamu."
"Tapi memang benar kan, apa yang dilakukan Pak Eza itu diluar batas." Clarissa masih saja berani menjawab.
"Ini di wilayah saya. Tahu apa kamu tentang hidup saya atau hidup teman yang kamu bully itu." Eza menunjukkan salah satu foto saat dia menggendong Andini. "Ini, waktu Andini jatuh karena kamu. Saya punya bukti rekaman cctv nya. Dan ini," Eza menunjuk lagi sebuah foto yang memang cukup intens. "Ini di depan apartemen saya sendiri. Kamu menguntit saya sampai masuk kawasan pribadi."
"Tapi foto itu..."
"Iya saya tahu." Eza memangkas langsung sangkalan Clarissa tentang foto itu.
"Pak Wijaya, saya minta maaf atas kekacauan yang terjadi di sekolah. Saya mengaku salah."
Satu tepukan kini didapat Eza dari Pak Wijaya. "Tidak perlu minta maaf. Seperti yang Pak Eza pernah cerita sebelumnya. Kita semua sudah tahu apa hubungan Pak Eza dengan Andini. Tapi kita juga harus memikirkan cara untuk klarifikasi kepada anak-anak."
"Saya sendiri yang akan klarifikasi, Pak. Pak Rusdi, 30 menit lagi tolong kumpulkan semua murid di lapangan ya."
"Iya, Pak. Saya permisi." Pak Rusdi segera berdiri dan keluar dari ruangan.
"Dan untuk Clarissa, sebenarnya saya ingin mengeluarkan kamu dari sekolah ini secara tidak terpuji. Banyak sekali pelanggaran yang sudah kamu perbuat di sekolah ini tapi karena saya masih menghargai Pak Heru sebagai donatur tetap di sini dan semua kebaikannya, saya kembalikan saja kamu kepada orang tua kamu. Pak Heru, saya terima semua keputusan Bapak."
"Saya selaku orang tua dari Clarissa sangat meminta maaf atas semua perbuatannya. Saya tahu, Pak Eza orang yang sangat baik. Saya tahu diri, Pak. Saya akan memindahkan Clarissa dari sekolah ini."
"Papa, bentar lagi Clarissa lulus. Mau pindah kemana?"
"Clarissa tenang, kamu masih bisa sekolah karena tidak akan ada catatan merah masalah pengeluaran kamu dari sekolah. Papa malu sama perbuatan kamu ini. Masih untung masalah kamu tidak diberatkan."
Clarissa hanya berdengus kesal. Dia benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.
__ADS_1