Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Periksa


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam ruangan Dokter spesialis kandungan, sepasang suami istri ini duduk di depan Dokter Santi. Dokter SpOG sesuai rekomendasi dari Bu Sonya.


"Pak Eza ya? Bagaimana kabar Bu Sonya, lama tidak ke sini." tanya Dokter Santi untuk berbasa-basi terlebih dahulu.


"Baik Dok."


"Wah, kalian pasangan yang serasi ya. Yang satu cantik, satunya ganteng."


Mereka berdua hanya tersenyum mendengar pujian dari Dokter SpOG itu.


"Mau periksa kandungan atau masih mau progam?"


"Periksa, Dok."


"Baik, apa sudah testpack sebelumnya?"


Andini menggelengkan kepalanya.


"Sudah telat berapa minggu?"


"Hampir dua minggu, Dok." jawab Eza.


"Terakhir masa periode tanggal berapa?"


"Tanggal 15, Dok." jawab Eza lagi.


Dokter Santi tersenyum. "Wah, Pak Eza suami yang sangat perhatian ya. Ingat sampai sedetail itu."


"Iya Dok, soalnya istri saya dua bulan yang lalu mengalami keguguran jadi kali ini saya harus lebih protektif lagi."


"Keguguran karena ada masalah dalam kandungannya atau karena hal lain?" tanya Dokter Santi memastikan agar bisa mengantisipasi keadaan selanjutnya.


"Karena kecelakaan Dok."


"Ya sudah. Langsung kita lakukan pemeriksaan USG saja ya, biar tahu kantung janinnya sudah terbentuk atau belum. Kalau menurut perkiraan saya usia kandungannya sudah memasuki 7 minggu."


Andini dan Eza berjalan mengikuti Dokter Santi ke ruangan USG.


"Naik dulu ya."


Eza membantu Andini naik ke atas brangkar. Sedangkan Dokter Santi sedang mempersiapkan peralatan.


Dada mereka sangat berdebar menunggu hasilnya. Apakah Andini benar-benar hamil atau tidak?


"Maaf ya." Dokter Santi menyingkap baju Andini lalu mengoles gel di perut Andini dan mengarahkan alat USG itu. Kini mulai muncul gambar rahim di layar monitor.


Andini dan Eza terus menatap layar monitor dengan tangan yang saling terpaut.

__ADS_1


Dokter Sinta tersenyum. "Wah, selamat ya, Bu Andini dinyatakan hamil."


Mendengar hal itu Andini dan Eza saling menatap dan tersenyum dengan mata berbinarnya.


"Sebentar ya, saya perbesar dulu. Wah, kantung janinnya sudah terlihat ya. Tapi.."


Eza dan Andini terus menatap layar monitor itu. Dada mereka semakin berdebar saat melihat ada dua kantung janin di dalam rahim Andini.


"Seperti yang bapak dan ibu lihat ya, ada dua kantong janin jadi kemungkinan calon anak bapak dan ibu kembar."


Eza dan Andini saling menatap lagi dengan mata yang telah berkaca-kaca. Mereka benar-benar tidak menyangka akan mendapat dua bayi sekaligus.


"Wah, kita sudah sebesar kacang. Nih, lihat Bu, dua kantongnya sudah ada janinnya semua. Selamat ya, kalian akan dikaruniai bayi kembar. Sebentar saya print out dulu."


Eza langsung mencium kening Andini yang kini telah meneteskan air mata bahagia. Kebahagiaan itu sudah tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Hanya rasa syukur yang terus terucap di hati mereka.


"Saya cek tensinya dulu." Setelah print out selesai, Dokter Santi memeriksa tekanan darah Andini. "Bu Andini sering pusing atau lemas?"


"Iya, Dok."


"Tekanan darahnya cukup rendah ya 95/65. Banyak istirahat, jangan terlalu stres sama makan makanan yang bergizi. Bu Andini mual-mual juga?"


Andini menganggukkan kepalanya.


"Hari ini sudah beberapa kali muntah Dok. Apa tidak apa-apa?" tanya Eza sambil membantu istrinya duduk lalu turun dari brangkar karena pemeriksaan sudah selesai.


Mereka bertiga kini duduk di posisi awal. "Ini hasil print out USG nya. Apa ada yang mau dikonsultasikan lagi, Pak?"


Andini langsung memegang hasil USG itu dan terus menatapnya dengan mata berbinarnya, dia sudah tidak mau lagi bertanya apa-apa.


Sebenarnya masih banyak yang ingin ditanyakan oleh Eza tapi tiba-tiba saja ambyar saat kebahagiaan itu membuncah. Yang terlintas hanya sebuah pertanyaan, "Hmm, di trimester pertama untuk melakukan hubungan tidak membahayakan kandungan kan, Dok?" Hal ini memang cukup penting untuk ditanyakan karena godaan siap datang kapan saja.


Dokter Santi tersenyum kecil, "Tidak bahaya, asal tidak ada efeknya seperti kram atau sakit pada perut bagian bawah. Kalau semuanya aman bisa dilanjut, dalam batas wajar ya." Kemudian Dokter Santi mengambil sepaket vitamin untuk di konsumsi selama satu bulan. "Ini vitaminnya di konsumsi setiap hari ya. Bisa beli susu untuk ibu hamil juga. Jika tidak ada kaluhan apa-apa kembali satu bulan lagi. Jika di rumah ada sesuatu yang perlu ditanyakan bisa langsung WA saya."


"Baik, Dok. Terima kasih."


"Jangan lupa istirahat yang teratur jangan sampai terlalu capek."


"Baik Dokter. Terima kasih. Kami permisi dulu." Setelah bersalaman dengan Dokter Santi, mereka berdua keluar.


Eza langsung meraih tubuh Andini dalam pelukannya saat sudah berada di luar ruangan. "Makasih sayang." Beberapa kecupan mendarat di puncak kepalanya.


"Kenapa makasih sama aku? Kan kita berjuang sama-sama."


Eza tersenyum mendengar kalimat istrinya. Iya, memang kolaburasi yang sangat bagus. Dia lepas pelukannya lalu menangkup kedua pipi Andini. "Bahagia banget, sampai nangis gini."


"Mas Eza juga."

__ADS_1


"Pasti Mama senang dengan kabar ini."


Mama? Seketika Andini teringat dengan kedua orang tuanya yang telah tiada. Mendengar kabar ini pasti mereka juga akan bahagia.


"Kenapa?"


"Aku ingat Ibu sama Ayah, Mas."


"Iya, besok kita ke sana ya. Kita kirim do'a sama kabar bahagia ini."


Andini mengangguk pelan lalu mereka saling memandang dan tersenyum, setelah itu mereka berjalan beriringan dengan tangan kokoh Eza yang terus menggamit pinggang Andini. "Mulai sekarang, kamu harus hati-hati ya. Banyak-banyak istirahat. Kalau memang merasa pusing, lemas atau mual, gak perlu masuk kuliah."


"Iya Mas."


"Kalau kamu mau apa-apa atau perlu sesuatu kamu bilang, aku akan selalu ada buat kamu."


"Iya, Mas." Andini tersenyum merasakan perhatian Eza yang semakin protektif.


Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir. Terlihat Arka yang masih duduk dengan setia menunggu mereka. Saat melihat bosnya datang, seketika Arka berdiri. "Sudah selesai, Pak?"


"Sudah. Kita langsung pulang saja ya."


Arka langsung menuju mobil dan naik ke kursi pengemudi. Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil. Mobil segera melaju meninggalkan tempat parkir.


"Hmm, bagaimana hasilnya Pak?" tanya Arka memberanikan diri.


"Istri saya positif hamil."


"Selamat ya Pak Eza dan Bu Andini."


"Bu? Kak Arka jangan manggil gitu, kayak biasanya aja."


Arka hanya mengangguk kecil. Seperti biasanya? Jelas tidak mungkin, karena Arka kini mulai membangun benteng perasaan di dirinya.


Andini masih saja memandangi hasil USG yang ada tangannya. Sedangkan tangan Eza terus memeluk Andini sambil mengusap lembut perutnya. Mereka sama-sama tersenyum bahagia.


Seseorang yang hanya bisa melirik mereka dari rear spion itu juga ikut bahagia dalam luka hatinya...


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


.


.


.


Terlambat up, sudah mulai sibuk di real life menjelang hari raya ya.. ☺️

__ADS_1


__ADS_2