Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Rara... Rara..


__ADS_3

Rendi berdengus kesal. Lalu dia membalikkan badannya dan kembali ke mobil. Dia buka pintu belakang lalu mengambil ponsel yang memang tergeletak di kursi belakang.


Setelah itu dia membalikkan badannya. "Astaga.." Rendi sangat terkejut ketika badan tegapnya bertabrakan dengan badan gimbul Rara.


"Eh, ma-maaf, Kak." Rara menjadi salah tingkah. Dia kini mengambil ponsel yang ada di tangan Rendi. "Makasih." Setelah itu dia berbalik dan melangkah cepat menyusul Andini.


Rendi hanya menghela napas dalam. Lalu mengikuti mereka berdua di belakangnya menuju lift.


Rendi terlebih dahulu keluar dari lift karena lantai apartemennya berada di bawah Eza.


"Eh, Din. Kak Rendi itu beneran assistennya Pak Eza?"


"Iya, kenapa?"


Pintu lift terbuka lalu mereka berjalan sambil tetap mengobrol.


"Beda banget. Nemu dimana sih Pak Eza."


Andini tersenyum kecil. Lalu dia mengambil kartu akses yang ada dalam dompetnya dan segera membuka pintu apartemennya. "Kak Rendi itu sahabatnya Mas Eza. Iya sih dari sifat mereka emang beda. Tapi kalau soal wajah, sama-sama good looking kan."


Andini menutup pintu apartemen lalu mengajak Rara berjalan menuju kamarnya.


"Wah, apartemen lo mewah banget." Rara sampai ternganga melihat apartemen milik Eza yang sangat luas dan mewah.


"Punya Mas Eza kali."


"Wih, kamar lo." Rara langsung merebahkan dirinya di atas ranjang king size milik Andini. "Eh, lo tidur sendiri-sendiri?"


"Dulu, waktu awal nikah. Kalau sekarang ya nggak. Gue tidur di kamar Mas Eza. Di sebelah."


Seketika Rara duduk sambil menatap Andini menyelidik.


"Apaan Ra? Ih, biasa aja mikirnya jangan negatif. Namanya juga suami istri."


"Gimana rasanya Din?"


"Kayak terbang gitu deh. Udah ah. Gue ambilin minum dulu ya. Kebetulan tadi pagi gue juga buat salad. Sekalian lo mau makan apa? Biar gue order."


"Terserah lo Din. Yang penting kenyang."


Andini keluar dari kamar, menuju dapurnya. Sedangkan Rara masih saja terkagum-kagum melihat barang-barang mewah milik Andini.


"Kapan hidup gue kayak Cinderella gini." Rara berdiri lalu menatap dirinya di depan cermin rias Andini. "Gue sih emang beda banget sama Andini. Bagai bumi dan langit." Dia meraba lipatan perutnya yang banyak tertimbun lemak. Belum lagi di sana sini. "Ini lemak makin menumpuk aja."


Beberapa saat kemudian Andini masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan yang di atasnya ada dua piring salad dan dua gelas minuman dingin. Kemudian dia letakkan di atas meja belajarnya.


"Dini, gak usah order makanan deh. Makan salad aja biar sehat." kata Rara sambil mengambil minuman lalu menegaknya.


"Hmm, tumben banget."


"Dini, gue tuh pengen punya body kayak lo. Langsing dan sexy. Siapa tahu ada Pak Eza yang lain di luar sana."


Andini mencibir, lalu dia menghidupkan smart tv yang ada di kamarnya dan mencari drama korea yang bagus.

__ADS_1


"Ada satu kayak Mas Eza. Tuh, Kak Rendi."


Seketika Rara menelan buah yang dia kunyah lalu beralih duduk di samping Andini.


"Dini, mana mungkin Kak Rendi lirik cewek kayak gue."


"Gak ada yang gak mungkin Ra. Kak Rendi itu sebenarnya baik cuma dia memang player sih. Ya mungkin dia memang belum menemukan tambatan hati yang tepat aja."


"Coba aja gue punya banyak uang, gue mau ikut program diet di salon Cantika. Udah bilang sama Mama, cuma di janjiin aja."


Andini kini menatap Rara. Iya, memang walau badannya gemuk tapi sebenarnya wajahnya cantik. Bahkan mungkin jika di make over lebih cantik dari dia. "Lo beneran mau ikut progam diet itu? Hmmm, gue bayarin deh."


Rara menatap Andini tak percaya. "Serius lo? Tapi mahal loh. Gue gak enak sama Pak Eza. Ntar lo dimarahin sama suami lo."


"Dimarahin? Justru Mas Eza kadang suka ngomel kalau saldonya gak berkurang. Nanti gue anterin ya."


"Tapi, jangan sama Kak Rendi ya ke sananya."


"Nggak." Andini tersenyum sambil memegang tangan Rara. "Lo mau kasih kejutan kan sama Kak Rendi kalau udah ada hasilnya."


"Eh, apaan sih Din. Bukan gitu. Gak enak aja. Kak Rendi nyebelin dan satu lagi dia itu memandang wanita dari fisik. Sangking aja lo istri bosnya, kalau gak pasti lo juga diincar."


Andini tertawa lalu dia berdiri. "Playboy juga bisa tobat, Ra." Andini membuka lemarinya kemudian mengambil baju ganti. "Gue mandi dulu ya, lo pilih aja drakor yang lo suka."


Setelah mendapat anggukan dari Rara, Andini masuk ke dalam kamar mandi.


Rara hanya mengganti-ganti film yang ada di tv. Tidak ada yang menarik perhatiannya. Entahlah, mengapa tiba-tiba dia memikirkan perkataan Andini. Dia memang pernah beberapa kali suka pada seseorang tapi semua perasaannya hanya mampu dia pendam saja. Karena sudah pasti pria yang dia cintai tidak akan pernah membalas perasaannya.


Sampai Andini keluar dari kamar mandi pun, Rara masih melamun.


"Eh, enggak."


"Hari Minggu besok yuk, gue antar ke salon."


"Minggu ini?" Rara masih saja meloading.


"Iya."


"Seriusan, lo mau bayarin gue."


"Iya, serius." Andini mengeluarkan dompet lalu menunjukkan dua kartu hitam pemberian Eza.


"Widih, keren ini. Platinum sama unlimited. Lo bisa borong semua barang yang ada di mall."


Andini menggelengkan kepalanya. "Buat apa, Ra. Kebutuhan gue udah dipenuhi semua. Ya, gue hanya pakai buat keperluan penting aja."


"Hmm, pantesan Pak Eza bucin parah sama lo. Lo nya sendiri limited edition."


Kemudian mereka mengobrol panjang lebar sambil melihat drakor tak lupa juga memakan salad yang ditambah cemilan yang baru dipesan oleh Andini. Sampai hari mulai sore dan Eza sudah pulang.


"Mas Eza.." Andini tersenyum saat melihat Eza berjalan ke kamarnya. Dia hanya berdiri di ambang pintu.


"Ada Rara, pantesan aku datang gak dengar."

__ADS_1


"Iya, Mas." Dia berjalan mendekati suaminya lalu bersalaman dan mencium punggung tangannya. "Mas..."


"Hem.."


Andini membisikkan sesuatu yang membuat Eza tertawa. "Iya, gak papa."


"Dini, udah sore gue pulang dulu ya.." Rara mengemasi barang-barangnya lalu memakai tasnya.


"Biar diantar Rendi ya..." Eza mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Rendi.


"Eh, gak usah Pak, saya bisa pulang sendiri."


"Tidak apa-apa." Beberapa saat kemudian Rendi mengangkat panggilan Eza. Dengan terpaksa Rendi menyetujui permintaan Eza. "Ditunggu Rendi di tempat parkir."


"Rara, gue antar ya sampai bawah." Andini menggandeng tangan Rara sambil berjalan menuju pintu keluar.


"Gak usah. Gue bisa sendiri kok. Makasih ya hari ini."


"Sama-sama. Besok-besok main lagi ke sini ya."


"Iya, pasti."


Setelah Rara keluar, Andini kini menutup pintu lalu menghampiri suaminya yang sedang melepas jas dan dasinya sambil duduk di sofa.


"Baru kerja sehari rasanya lama banget." Eza meraih tubuh Andini dalam pelukannya. "Udah harum banget, baru mandi?" tanya Eza yang wajahnya kini sudah bersembunyi di leher istrinya dan mengendusnya dalam.


"Udah, Mas."


"Sayang, kapan masa periodenya selesai?" tanya Eza sambil menegakkan kepalanya menatap wajah Andini.


"Tiga hari lagi, Mas. Ih, gak sabaran banget sih Mas."


Eza hanya tersenyum lalu mendekatkan dirinya. Menciumnya dengan lembut hingga membuat Andini terbuai.


"Ikut mandi yuk!" ajak Eza setelah melepaskan dirinya.


"Mau ngapain Mas?"


Eza membisikkan sesuatu yang membuat pipi Andini seketika merah merona.


"Ih, Mas Eza."


Eza semakin tersenyum, lalu dia berdiri tapi Andini hanya menatapnya ragu.


"Ya udah, kalau gak mau gak papa sayang." Setelah mengusap puncak rambut Andini sesaat, Eza melangkahkan kakinya pergi.


"Tunggu, Mas." Andini segera berdiri dan menyusul langkah Eza.


.


.


.

__ADS_1


Ah, Andini malu-malu mau. Diajak ngapain sama Mas Eza?? Aduh, author gak denger..


__ADS_2