
"Terima kasih sudah memberi izin pada saya untuk berdiri di sini. Aku..." Rendi menghentikan perkataannya beberapa saat. Dia merasa benar-benar nervous tidak seperti menghadapi para client. Dia ambil napas dalam. Dia kini akan mengungkapkan segala perasaan yang dia rasa.
"Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan kamu. Kesan pertama yang mungkin sangat buruk buat kita. Ya, aku memang bukan sosok yang sempurna. Masa lalu aku yang juga kelam. Tapi aku berjanji akan selalu berusaha menjadi lebih baik buat kamu. Kamulah pelabuhan terakhir aku. Walau cukup sarat aku mengartikan rasa ini tapi aku mencintaimu. Mulai detik ini dan sampai nanti aku akan selalu menyayangimu. Maukah kamu hidup bersama denganku? Menjalin sebuah ikatan yang tidak akan pernah aku lepaskan? Menjalani suka dan duka bersama sampai tua nanti?"
Rara hanya mampu menatap Rendi. Ini seperti mimpi baginya. Tanpa berpacaran terlebih dahulu, tanpa menjalin hubungan apa-apa tiba-tiba dilamar oleh Rendi dengan kata-kata yang sangat romantis.
Tubuhnya terasa kaku. Untuk membuka mulutnya pun seolah bibir itu terkunci rapat.
"Ra? Will you marry me?" tanya Rendi sekali lagi sambil mengulurkan tangannya.
Dengan bergetar, Rara meraih tangan Rendi. Dia kini berdiri. Dia sudah memikirkannya selama berhari-hari. Kali ini dia telah yakin. "Iya, aku mau."
Hanya satu jawaban singkat yang membuat senyum merekah di bibir Rendi. Begitu juga keluarga dan kerabat yang telah hadir saat itu ikut merasakan kebahagiaan mereka dengan tepuk tangan yang cukup riuh.
Rendi mengeratkan genggaman tangan Rara. Baru kali ini dia merasa benar-benar nervous menggenggam tangan seorang gadis. Inikah yang dinamakan cinta sebenarnya?
"Terima kasih untuk Pak Eza dan istrinya yang telah mempertemukan aku dan Rara."
Eza mencibir. "Lagak lo Ren. Biasanya gue elo aja sekarang pake bahasa formal gitu."
Rendi tertawa renyah. Memang baru kali ini dia bicara sesopan itu dengan bosnya.
Acara pun berlanjut ke ramah tamah. Mungkin untuk pertemuan selanjutnya mereka akan segera menentukan tanggal pernikahan yang akan dilakukan beberapa bulan lagi.
__ADS_1
Andini masih saja tersenyum menatap sahabatnya yang sedang berbahagia itu.
"Sayang, jangan senyum terus nih makan yang banyak," kata Eza yang kini justru mengambilkan makanan untuk istrinya.
"Eh, Mas. Biar aku ambil sendiri."
"Udah gak papa. Makan yang banyak ya, biar nanti tenaganya kuat."
"Buat?"
Eza mengangkat alisnya lalu meletakkan piring yang sudah penuh dengan makanan di depan Andini.
"Ih, Mas di acara orang masih aja mikirin itu." Andini sedikit mencubit pinggang Eza yang membuat Eza semakin terkekeh.
"Iya dong, Ma. Otw buat cucu."
Kejujuran Eza membuat pipi Andini memerah. Semakin hari suaminya semakin bekerja keras saja setiap malam. Apakah akan cepat mendapatkan hasilnya. Entahlah.
...***...
"Sayang, jam berapa sih ini? Kok tumben mau tidur?" tanya Eza yang melihat Andini sudah menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur.
"Ngantuk Mas. Capek juga. Udah sebulan deh kayaknya lembur terus," kata Andini yang kini mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
Eza tersenyum lalu ikut naik ke atas ranjang. Dia ikut bergabung di bawah selimut.
"Ih, Mas. Mau apa?" Andini kini mendongak menatap Eza.
"Mau nemenin kamu tidur." Eza meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Tidur aja sayang, gak ada yang lainnya."
"Hmm, Mas besok antar aku ke supermarket ya beli bahan buat praktek."
"Besok?" Eza mengingat-ingat jadwalnya terlebih dahulu.
"Hmm, gak bisa ya..." Andini kini mulai membuat pola abstrak di dada suaminya sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
Eza tertawa kecil menatap istrinya yang tidak biasanya ngambek seperti ini. "Aduh, gimana ya? Besok kayaknya aku ada meeting," goda Eza.
Andini hanya terdiam dengan wajah yang semakin cemberut.
"Iya, iya. Gak usah cemberut gini bikin gemes aja. Besok sorean ya." Eza mengusap rambut Andini sambil mengingat-ingat tanggal berapa sekarang. "Sayang kamu gak lagi pengen apa-apa?"
Andini menggelengkan kepalanya. "Lagi mau tidur aja. Sambil meluk Mas Eza."
Eza tersenyum. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Sampai Andini tertidur, Eza tak juga memejamkan matanya. Pikirannya melayang jauh untuk menerka-nerka sebuah keadaan.
Pokoknya kali ini, aku gak boleh kecolongan lagi.
__ADS_1
Setelah dirasa Andini benar-benar tidur nyenyak. Eza melepas pelukannya dan perlahan turun dari ranjang. Dia mengambil ponselnya. Melihat sesuatu yang membuat matanya berbinar.