
Pagi itu, setelah selesai sarapan Andini membereskan meja makan terlebih dahulu. Tapi saat akan mencuci piring, Eza justru melarangnya.
"Sayang, gak usah dicuci nanti aja sekalian suruh tukang bersih-bersih ke sini."
"Udah, gak papa Mas."
"Jangan. Kamu udah rapi gini." Eza menarik tubuh Andini lalu mendudukkannya di atas meja makan.
"Hmm, Mas ini jam berapa?"
"Masih pagi." Eza tersenyum penuh arti. Sedetik kemudian dia mencumbu Andini dengan lembut sedangkan tangan Eza bergerak aktif membuka kancing kemeja Andini.
"Mas, mau ngapain?"
"Mau nyoba ala murid sama guru."
"Ih, tadi aku cuci piring gak boleh katanya udah rapi, sekarang malah kancing seragam aku dibuka."
Eza mengulum senyumnya lalu menahan tangan Andini saat akan mengancingkan seragamnya kembali.
"Mas, aku lagi masa periode."
"Loh, semalam kan belum."
"Iya, mulai tadi pagi."
"O, ya udah. Sekolah aja yang pinter." Eza kembali mengancingkan seragam Andini sampai rapi kembali.
Andini tertawa kecil mendengar kalimat Eza. Memang terkadang Pak Direktur ini suka absurd.
"Pantesan wajahnya pucat gini."
"Iya Mas, biasa hari pertama agak nyeri."
Eza mengusap rambut Andini, lalu menangkup kedua pipinya. "Aku buatin minuman jahe hangat ya, biar enakan."
"Nggak usah, Mas. Nanti aja beli kiranti di indoapril depan."
"Oke, sayang." Satu kecupan mendarat di kening Andini lalu dia mengusap keringat yang sedikit membasahi kening Andini. "Kok keringatan gini? Kamu nahan sakit? Libur aja deh kalau sakit."
"Mas, sudah biasa kok. Nanti juga hilang sendiri."
"Ya sudah." Lalu Eza menurunkan Andini dari meja makan. "Mau berangkat sekarang?"
__ADS_1
"Iya, Mas. Nanti mampir dulu ya ke depan."
"Iya." Eza mengambil dompetnya lalu mengeluarkan dua kartu sakti. Kartu debit dan kartu kredit. "Ini kamu bawa ya, nanti sekalian kamu ambil uang cash di ATM."
"Mas, gak usah." Andini mendorong tangan Eza yang sedang menyodorkan dua kartu itu.
"Sayang, ini memang kartu khusus buat kamu. Semua uang belanja ada di sini."
"Tapi Mas Eza kan sudah memenuhi kebutuhan aku."
Eza meraih tangan Andini lalu meletakkan dua kartu itu di tangannya. "Itu beda sayang. Ini kamu pakai. Istri itu biasanya senang banget loh dikasih dua kartu ini. Kamu malah nolak. Bikin tambah gemes aja."
Andini memandang dua kartu yang sekarang ada di tangannya. Entah berapa isinya, yang jelas kartu itu dua-duanya berwarna hitam. Yang satu bertuliskan platinum debit dan yang satu no money limit. Ya ampun Andini, kalau gak mau kasih ke author aja ya. Kasian kan author kartunya masih logo simpedes gak ada saldonya lagi.
"Kok malah bengong. Kamu masukin dompet. Nanti di depan sekalian kamu narik cash ya, kalau sewaktu-waktu kamu mau sesuatu gak perlu bingung lagi."
Andini akhirnya memasukkan dua kartu itu dalam dompetnya lalu memasukkan ke dalam tas. "Makasih, Mas."
"Kok makasih? Itu hak kamu sebagai istri aku." Eza kini meraih Andini ke dalam pelukannya. "Gak salah aku udah pilih kamu jadi istri aku."
Andini mengeratkan pelukan Eza dan menghirup dalam aroma maskulin di dada Eza.
"I love you."
"I love you too."
...***...
Andini melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah. Hampir saja dia terlambat waktu itu. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sekolah. Tidak seperti biasanya. Teman sekolahnya justru ramai di lorong-lorong.
Andini berjalan perlahan, seperti ada sesuatu yang tidak beres.
"Wah, ini dia ceweknya datang."
"Dapat berapa kemarin?"
"Nanti siang sama gue yuk? Tenang aja gue bayar kok."
"Maksud kalian apa sih?"
"Ya, pura-pura gak ngerti. Lo open BO kan?" ucap salah satu teman lelakinya sambil menunjuk sebuah pengumuman di majalah dinding.
Banyak foto dirinya dengan Eza terpasang di sana, bahkan ciumannya semalam di depan apartemen juga ada. Dan yang sangat membuatnya sedih adalah foto dirinya yang diedit dengan badan cewek yang memakai pakaian seksi dan bertuliskan "Open BO."
__ADS_1
Andini melepas semua kertas-kertas itu dan merobeknya. "Siapa yang masang ini. Gue bukan cewek BO!!"
"Haha, percuma lo robek. Udah banyak tersebar."
Andini berjalan sambil melepas selebaran yang berada di tembok, di tiang bahkan selebaran itu juga berada di hampir semua tangan teman-teman sekolahnya.
Rasanya dia benar-benar ingin lenyap saja dari muka bumi saat itu juga. Mendengar hinaan dan tertawa mereka semua membuat kepalanya semakin berdenyut.
"Andini, lo gak papa kan? Selebaran itu udah menyebar ke seluruh sekolah." Rara membantu Andini melepas dan membuang kertas-kertas itu.
Andini hanya terdiam dengan wajah pucatnya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Mau kertas itu lo buang, lo tetap pela cur. Dasar cewek ja lang!!"
Suara itu begitu keras terdengar. Sepertinya dialah yang memprovokasi semua murid yang berada di SMA itu.
Andini merasa lelah, dia melempar kasar semua kertas yang ada di tangannya ke lantai. "Lo kan yang buat ini semua!!" tuding Andini di depan wajah Clarissa.
Clarissa tersenyum miring. "Gue kan udah bilang, gue akan kumpulkan semua bukti-bukti tentang lo. Tinggal tunggu aja, lo akan dikeluarkan dari sekolah."
Dikeluarkan? Jelas itu tidak mungkin!
"Clarissa, lo itu tahu apa!!" Irvan datang, dia memang sedari tadi membantu memunguti selebaran itu dari ujung tempat lain. "Lo gak tahu!! Info yang lo dapat ini salah!! Bukan Andini yang akan kena masalah tapi lo!!!"
"Hei, Irvan. Lo benar-benar udah bertekuk lutut sama Andini ya."
Gelak tawa dan hinaan dari temannya kembali bergelegar.
"Irvan lo udah pakai Andini berapa kali sampai lo belain kayak gini. Udah ketagihan lo!!"
"Gak nyangka mantan ketua OSIS kita bermoral bobrok."
"Andini, lo gak usah nyangkal lagi. Ini nih, yang sweat banget, sampai digendong Pak Eza mesra." ucap mereka sambil terus melihat foto-foto itu yang telah tercetak ribuan lembar di atas kertas putih.
"Ini nih, yang lebih hot. Ciuman di depan apartemen mewah. Njir, cowok tajir mana ini yang BO lo kemarin."
"Wuih gila man, gue jadi mundur deh mau BO lo. Jangan-jangan bayarannya sampai 10 juta sekali pakai."
Gelak tawa masih saja terdengar. Hinaan dan cemoohan itu saling bersahutan tidak juga usai. Semakin lama terdengar semakin keras. Ingin dia lari tapi langkahnya sangat berat. Tiba-tiba tenaganya hilang begitu saja. Kepalanya terasa berputar-putar. Keringat dingin semakin membanjiri pelipisnya. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya kini semakin melemah dan limbung.
Ada sepasang tangan dengan sigap menangkap tubuhnya yang telah ambruk. Entahlah siapa? Yang jelas aroma maskulin itu sangat dia kenal...
💞💞💞
__ADS_1
Ayolah like dan komen.. 🤧🤧
Author sedih, udah gak dikasih kartu platinum sama Mas Eza, masak gak dikasih bunga juga sama pembaca.. 🤧🤧