
"Siapa lo!?" Satu tarikan ke belakang berhasil membuat Andini mundur beberapa langkah.
Clarissa melebarkan matanya melihat penampilan baru Andini. Dia sangat terkejut. "Lo? Si cupu?! Gak mungkin?!"
Andini tak mau menanggapi. Dia justru berlenggang masuk ke dalam kelas.
"Heh!! Gue belum selesai ngomong." Clarissa berhasil menarik tangan Andini hingga mau tidak mau dia berhenti. "Kenapa lo bisa berubah? Dapat uang darimana lo buat merubah penampilan gini? Bukannya lo itu miskin!!"
Sederet perkataan Clarissa begitu menyakiti hatinya. Iya, dia memang tidak kaya seperti Clarissa. Apa dia tidak pantas berpenampilan cantik?
"Bukan urusan lo!! Lepasin gue!!" Andini berusaha melepas pergelangan tangannya yang ditahan oleh Clarissa.
"Heh!! Makin berani ya sekarang!!"
"Clarissa cukup!!" bentak Irvan sambil melepas tangan Clarissa dari pergelangan tangan Andini. "Berhenti ngurusi hidup orang! Lo iri sama Andini? Dia berhak melakukan apa yang dia mau."
Clarissa kini menatap Irvan dengan kilatan marah. Apalagi saat dia melihat tangan Irvan menggandeng Andini sambil berjalan masuk ke dalam kelas. Iya, tentu dia sangat envy. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan spesial oleh Irvan. Walaupun dia bersikap manis sekali pun.
Sebenarnya Andini ingin merasakan hangatnya genggaman tangan Irvan lebih lama, tapi entahlah mengapa dia melepas tangannya dan justru mempercepat langkahnya menuju bangkunya.
"Andini? Lo beda banget? Cantik. Sumpah!!" kata Rara yang baru saja melihat penampilan baru Andini.
"Iya, makasih." Andini tersenyum lalu membuka tasnya dan mengeluarkan buku mata pelajaran pertama.
"Lo ke salon mana? Hasilnya bagus banget. Kayak hasil dari salon cantika yang sangat mahal dan rekomended itu. Gue aja pengen ke sana buat ikut kelas diet tapi harganya mahal banget. Mama masih mikir-mikir buat daftarin gue."
Andini tersenyum hambar. Dia sendiri juga tidak tahu habis biaya berapa. Yang jelas dia harus segera mengganti uang Pak Eza.
Ngomongin soal Pak Eza, pasti sebentar lagi dia akan masuk ke kelas Andini. Karena di dua hari ini pelajaran Matematika kompak di jam pelajaran pertama.
"Selamat pagi..."
Suara itu berhasil membuat Andini mendongak. Dia sempat beradu tatap beberapa saat dengan Pak Eza. Ada senyum tipis yang terlempar ke arahnya.
Andini buru-buru menundukkan kepalanya. Jangan sampai terjadi skandal antara guru dan murid.
"Oke, kita lanjutkan materi yang kemarin ya. Kita bahas bersama soal-soal yang ada di buku paket......."
__ADS_1
Entahlah Pak Eza menerangkan apa, yang jelas sekarang Andini hanya menatap bukunya. Sambil sesekali melihat Pak Eza yang menulis di white board. Tapi pandangannya terhenti saat melihat tulisan rapi Pak Eza. Rinci dan sangat detail saat dia menerangkan lewat tulisan.
"Ada yang mau melanjutkan cara disoal ini..." Pak Eza membalikkan badannya dan mendapati Andini sedang menatapnya. "Iya, kamu bisa lanjutkan ke depan." tunjuk Pak Eza pada Andini.
"Saya?" Andini menunjuk dirinya. Dia mengerjakan soal Matematika? Jelaslah tidak bisa. Baruan dia hanya menyimak punggung Pak Eza saja bukan pelajarannya.
"Iya, coba kamu kerjakan di depan."
"Hmm, saya..."
"Maju saja nanti saya bantu..."
Andini berdiri dan melangkah maju ke depan kelas lalu mengambil spidol board maker dari tangan Pak Eza. Entah kenapa dia begitu gerogi. Dia memang tidak bisa pelajaran Matematika tapi berhadapan dengan Pak Eza kali ini benar-benar terasa beda.
Andini mencoba mengerjakan soal yang ada di depan. Mencoba memakai cara sesuai contoh.
"Bukan begitu.." kata Pak Eza saat ada kesalahan yang Andini kerjaan. "Iya, dikali itu."
Tangan Andini rasanya semakin bergetar yang menimbulkan efek keriting pada tulisannya.
"Iya, hasil sudah ketemu. Silahkan kembali ke tempat duduk."
Andini membalikkan badannya, tak disangka Pak Eza justru mengambil spidol yang masih dia genggam hingga membuat kulit-kulit hangat itu saling bersentuhan.
Andini berkamuflase seolah tak terjadi apa-apa takut jika ada yang curiga dengannya. Dia duduk dengan kaku di bangkunya lalu kembali berpura-pura mendengar penjelasan Pak Eza dan melihat beberapa kali temannya juga maju ke depan untuk mengerjakan soal.
...***...
"Andini..." Irvan mengimbangi langkah Andini saat menuju ruang teater siang itu. Ya, di jam terakhir sekolah ada pelajaran Bahasa Indonesia dari Bu Isti. Mereka berkesempatan untuk memulai latihan drama di ruang teater.
"Iya?" Andini memelankan langkahnya sedangkan Rara kini justru meninggalkan Andini dan membiarkan mereka berjalan berdua.
"Lo masih tetap jadi cinderella kan?"
"I-iya."
"Syukurlah." Terdengar tawa kecil dari Irvan.
__ADS_1
Andini hanya menautkan alisnya. Peran itu memang sangat diincar oleh Clarissa sampai dia harus kena siram kemarin lusa. Tapi dia tetap tidak mau bertukar peran.
"Lo sebelumnya pernah main drama atau ikut ekskul teater?"
Andini menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak pernah berkecimpung di dunia drama karena baginya hidupnya sudah penuh dengan drama. Ditambah dia selalu direndahkan oleh teman-temannya sehingga dia merasa tidak pantas.
"Gak pernah. Kayaknya kali ini gue gak bisa acting."
"Tenang aja. Nanti gue bantu."
Tak jauh dari mereka terlihat Clarissa yang sangat geram melihat kedekatan mereka. "Awas ya. Upik abu bakalan habis sama ibu tiri!!"
"Ciee, upik abu udah jadi cinderella aja sekarang. Benar-benar menghayati peran. Gak nyangka wujud asli sicupu ternyata keren!!" Kata Roni yang kini ikut berjalan di dekat Irvan.
"Van, gercep banget lo. Ternyata Clarissa gak ada apa-apanya dibanding dia." bisik Roni sambil berlalu.
Mereka kini berkumpul di ruang teater. Ada sedikit penjelasan dari Bu Isti. Lalu mereka mengambil kertas naskah untuk dipelajari terlebih dahulu.
Ya, seperti cerita Cinderella yang sudah mendunia itu.
Alkisah, hiduplah seorang gadis cantik dan baik bernama Cinderella. Sejak ayahnya meninggal dunia, Cinderella hidup di sebuah rumah besar bersama ibu dan dua saudara tirinya.
Ibu tiri tidak pernah suka dengan Cinderella. Setiap hari dia akan memberikan banyak tugas rumah untuk Cinderella kerjakan. Pekerjaan ini termasuk membersihkan rumah dan melayani semua keperluan ibu dan dua saudara tirinya.
Kedua saudara tiri Cinderella tidak pernah mau bekerja membersihkan rumah. Keduanya suka hidup mewah dan selalu meledek penampilan Cinderella yang dianggap jelek.
Dan masih banyak lagi perlakuan buruk yang didapat Cinderella dari ibu tiri dan dua saudara tirinya.
Suatu hari, surat dari Raja datang ke rumah Cinderella. Di surat itu diberitahukan bahwa Raja akan mengadakan pesta dansa untuk mencari calon istri Pangeran. Setiap wanita di negara itu pun harus datang ke pesta.
Semua begitu senang menerima kabar ini. Kedua saudara tiri Cinderella tak sabar ingin memamerkan gaun mahalnya untuk menarik perhatian pangeran.
Mendengar undangan tersebut, Cinderella juga ingin datang ke pesta dansa. Sayangnya, ibu tiri justru melarangnya datang dan memintanya membersihkan seisi rumah saat pesta dansa itu berlangsung. Cinderella juga diminta untuk menyiapkan semua perlengkapan pesta dua saudara tirinya.
Andini tak membaca keseluruhan sinopsis cerita itu. Yang jelas dia tahu persis cerita Cinderella itu sangat mirip dengan kisah hidupnya. Dia yang selalu dihina dan direndahkan akan berubah menjadi seorang putri raja. Tentang seorang pangeran yang datang dan menawarkan cinta yang luar biasa dan bisa menerimanya apa adanya.
Tapi siapa pangeran Andini di dunia nyata. Irvan?? Atau jangan-jangan Pak Eza???
__ADS_1