Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Kapan Siap?


__ADS_3

"Andini, ayo." Irvan masih saja mengajak Andini untuk pulang bersamanya.


"Hmmm," beberapa saat kemudian ada panggilan masuk dari Eza ke ponsel Andini. Penyelamat keadaan saat ini. Andini tinggal berpura-pura jika tantenya sudah menunggunya. Dia mengangkat panggilan itu dan hanya menjawab iya, iya, oke.


"Van, sorry ya. Gue udah ditunggu sama tante. Lain kali aja. Gue duluan ya." Andini melangkahkan kakinya jenjang. Sebenarnya dia tidak langsung menuju gerbang tapi dia berbelok ke toilet dulu untuk menunggu Irvan berlalu.


Setelah dipastikan Irvan sudah meninggalkan sekolah. Dia berjalan keluar dari sekolah menuju mobil Eza yang sudah menunggunya di beberapa meter dekat sekolah.


Andini masuk ke dalam mobil lalu menghela napas panjang.


"Kenapa? Habis dikejar fans?" Eza mencibir sambil menatap Andini yang berkeringat karena panasnya hari itu. "Sampai keringetan gini." Eza mengambil tisu lalu mengusap pelipis Andini yang berkeringat.


Tindakan Eza yang sangat lembut dan seolah bergerak slow motion itu mampu menggetarkan dada Andini.


"Hmm, makasih." ucapnya setelah Eza menurunkan tangannya.


Eza tersenyum lalu dia membuka kaca matanya dan mengubah bentuk rambut aslinya. "Oke, kita jadi ke supermarket?"


"Terserah Mas Eza."


"Oke, kita makan dulu ya sebelum ke supermarket. Mau makan di McD, KFC, atau restoran lainnya?"


"Yang simple aja."


"Kalau gitu ke McD dekat supermarket aja." Kemudian mobil Eza mulai melaju. Kebetulan jalanan yang mereka lewati tidak begitu macet hingga mereka cepat sampai di restoran cepat saji itu.


Setelah menghentikan mobilnya di tempat parkir, Eza melepas blazernya lalu sedikit menggulung lengan kemeja ke atas. "Gerah, sama biar keliatan muda. Jangan sampai dibilang om-om hidung belang yang jalan sama gadis SMA."


Andini tertawa. Dia jadi teringat tuduhan Clarissa tadi di sekolah. Padahal Eza sama sekali tak terlihat seperti om-om hidung belang.


Sebelum keluar dari mobil, Andini memakai cardigannya terlebih dahulu.


"Ayo." Eza menggandeng tangan Andini setelah keluar dari mobil. Mereka berjalan beriringan memasuki restoran cepat saji.


Lagi-lagi jantung aku deg-degan banget gini. Tangan Mas Eza...


Andini menatap tangan Eza yang mengenggamnya dengan erat.


"Kamu duduk dulu, aku pesan sebentar."


"Iya." Andini duduk setelah Eza berlalu.


Dia menunggu Eza sambil memainkan ponselnya. Beberapa saat kemudian Eza sudah datang yang diikuti oleh waitress yang membantunya membawa nampan.


"Thanks." ucap Eza setelah waitress itu meletakkan nampan di meja.


"Sebentar aku mau cuci tangan dulu." kata Andini sambil berlalu. Tak butuh waktu lama dia sudah kembali dan duduk berhadapan dengan Eza.

__ADS_1


Eza justru menatapnya sambil tersenyum. "Kenapa? Dimakan jangan diliatin aja."


"Ih, Mas kalau pesan jangan banyak-banyak gini." Andini menggelengkan kepalanya. Menu double ayam, ditambah eskrim jumbo, dan minuman dingin. Menghabiskan satu ayam dan nasi saja pasti dia sudah kenyang.


"Gak papa. Biar kenyang."


"Mas, nanti gak habis?"


"Gak papa sebisanya." Eza mengulum senyum. "Aku gak pernah memaksa."


"Kan sayang kalau gak habis." Andini menyedot minuman dingin terlebih dahulu untuk membasahi tenggorokan yang telah kering.


"Kalau sama aku sayang gak?"


"Uhuk! Uhuk!" Seketika Andini tersedak dan terbatuk.


"Eh, maaf. Pelan-pelan dong." Eza membuka tutup botol air mineral lalu menyodorkannya. "Untung aku selalu beli air putih juga."


Andini segera meminumnya. Setelah napasnya lega, Andini kembali menutup botol itu dan meletakkannya di atas meja.


"Baru juga ditanya udah gerogi." goda Eza sambil mengulum senyumnya.


"Ih, Mas Eza apaan sih. Barusan cuma tersedak bukan gerogi."


Eza masih saja tersenyum lalu mulai makan sambil sesekali menatap Andini yang juga sedang menikmati makanannya.


Suara itu membuat Andini mendongak. "Eh, Reni." Reni adalah anak kelas sebelah yang pernah satu kelas dengannya waktu kelas XI.


"Lo sama siapa? Tumben?"


Kata tumben seolah merusak mood nya. Dia memang dulu tidak pernah makan di tempat itu, walau harga juga tidak terlalu mahal.


Andini tak menjawab dia hanya menatap Eza yang terlihat santai.


"Cowok lo?"


Baru kini Eza melihat Reni, dan menjawab pertanyaannya. "Aku saudara sepupunya Andini. Kenapa?"


"Oh, kirain. Tapi gak mungkin sih. Aku duluan ya." Kemudian Reni berlalu.


Andini hanya tersenyum hambar. Sindiran halus itu benar-benar merusak suasana hati Andini. Sebegitu tidak pantaskah dia?


"Udah, gak usah dipikirin. Mereka itu cuma iri sama kamu."


Andini mengangguk lemah. Dia juga tahu diri.


"Nanti kalau kamu udah lulus sekolah, kita publikasi hubungan kita ya."

__ADS_1


Andini tak berkomentar lagi. Dia hanya membalasnya dengan senyuman.


...***...


"Beli ini ya? Ini sekalian.. Ini pasti perlu kalau kamu mau masak. Oiya, ini juga."


Andini hanya melebarkan matanya saat melihat Eza memasukkan barang-barang ke dalam trolly tanpa melihat harga terlebih dahulu. Langsung ambil begitu saja.


Tidak seperti Andini yang selalu melihat harga dulu sebelum mengambil.


"Mas, ini gak terlalu banyak?"


"Gak papa sekalian. Kita beli buah juga ya. Kalau kamu ingin jus atau buat salad buah, tinggal buat aja."


Andini hanya menuruti apa kata Eza. Baru kali ini dia berbelanja sampai satu trolly hampir penuh.


"Belanja bareng keperluan rumah gini rasanya udah kayak suami istri beneran."


"Emang beneran kan Mas?"


"Belum sih."


"Belum beneran. Jadi kita cuma pura-pura?" Tiba-tiba Andini menghentikan gerakannya.


"Memang belum kan?" Eza justru membungkuk sambil menatap wajah bingung Andini.


"Aku.. Aku gak ngerti maksud Mas apa."


Eza justru tersenyum. "Gak ngerti? Andini sayang, aku menunggu sampai kamu siap loh baru kita akan benar-benar jadi pasangan suami-istri yang sebenarnya."


Barulah otak Andini terhubung dengan maksud Eza. Seketika pipinya terasa merona. "Oh, itu." Dia kini memegang trolly lalu mendorongnya untuk menutupi rasa geroginya.


Eza berjalan di samping Andini sambil ikut mendorong trolly. Dia setengah berbisik di telinga Andini. "Kapan siap?"


Andini semakin tidak bisa mengontrol detak jantungnya. Dia hanya mampu menelan salivanya beberapa kali. Lidahnya seolah kaku untuk menjawab.


Melihat ekspresi Andini, Eza menjadi sangat gemas. Dia mengacak rambut Andini sambil tertawa. "Jangan tegang, aku cuma tanya. Gak usah dipikirin ya. Hmm, kamu sekarang mau apa lagi. Ada yang ketinggalan gak?


"Kayaknya udah deh, Mas."


"Andini!!" Lagi-lagi ada seseorang yang memanggilnya.


Andini melebarkan matanya saat melihat Nova yang sedang berjalan mendekatinya. "Lo sama siapa?" Nova melihat Eza menyelidik lalu beralih pada trolly dan melihat barang-barang yang ada di dalamnya. Seolah sedang mengabsen barang apa saja itu.


"Bukan urusan lo!" jawab Andini sambil berjalan mendorong trolly.


Eza hanya diam sambil menyunggingkan sebelah bibirnya lalu mengikuti langkah Andini.

__ADS_1


"Wah, benar-benar sok kaya dia sekarang. Gue harus lapor sama Clarissa."


__ADS_2