
Andini berjalan di lorong kelas pagi hari itu. Lagi-lagi dia berpapasan dengan Irvan. Mereka bertatapan beberapa saat. Andini hanya menundukkan dirinya lalu segera melanjutkan langkah kakinya karena dia merasa takut. Bayangan Irvan kemarin masih terus terngiang di kepalanya.
"Andini, maaf." kata Irvan sambil mengikuti langkah Andini.
Andini hanya terdiam. Tidak mudah baginya memaafkan Irvan kali ini. Walau Eza sudah menghukumnya hingga membuat wajah Irvan memar lebam seperti sekarang. Tapi bagaimana jika Irvan tidak kapok.
"Andini, gue minta maaf. Bener-bener minta maaf."
Andini tak juga menjawabnya. Dia semakin mempercepat langkahnya.
"Ada apa?" Eza sengaja menghadang langkah mereka. Dia tidak akan membiarkan Irvan mendekati istri tercintanya itu sedikit pun.
Andini menatap Eza lalu dia melangkahkan kakinya untuk berdiri di belakang Eza. Sebenarnya dia memang masih trauma dengan Irvan.
"Saya mau minta maaf."
"Tidak perlu minta maaf, cukup jaga saja sikap kamu."
"Iya, permisi." Irvan pergi meninggalkan mereka berdua.
Eza kini beralih menatap menatap Andini yang sekarang sudah ada di sampingnya.
"Terima kasih Pak Eza."
"Sama-sama." kata Eza sambil tersenyum.
Sebelum berlanjut ke adegan-adegan berikutnya, Andini segera melangkahkan kakinya pergi untuk masuk ke dalam kelas.
...***...
Setelah kejadian kemarin yang menimpanya, Andini tidak berani menunggu Eza di pinggir jalan. Dia memilih menunggunya di dekat pos satpam, karena pasti Eza akan keluar setelah sekolah telah sepi.
"Nunggu lama?" tanya Eza setelah Andini masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tidak Pak Eza."
Satu usapan kini mendarat di puncak kepala Andini.
Beberapa saat kemudian mobil Eza sudah melaju meninggalkan sekolah. "Sayang, hari ini kita langsung ke rumah Mama saja ya. Soalnya tadi Mama telepon katanya kita suruh menginap di sana. Ingin lebih dekat sama kamu dan kebetulan Papa juga ada reoni di luar kota jadi kita nemeni Mama."
"Iya Mas. Tapi kan aku gak bawa baju ganti."
"Gampang, udah aku siapin baju kamu di rumah Mama."
"Memang istimewa." Andini tersenyum lalu dia menyandarkan kepalanya di jok mobil sambil terus menatap Eza.
"Sayang kenapa lihat aku kayak gitu? Lagi pengen?" tanya Eza sambil sesekali melirik Andini.
"Ih, Mas Eza bisa gak sih gak mesum terus."
Eza tertawa. "Hmm, emang kamu gak ketagihan?"
"Nanti nyoba yuk di rumah mama. Atau mau nyoba sekarang aja di mobil?"
Satu cubitan langsung mendarat di pinggang Eza. "Mas Eza, kita itu pasangan halal jangan kayak pasangan mesum yang ngelakuin sembunyi-sembunyi di mobil. Nanti kena tangkap."
Eza terkekeh saat mendapati tanggapan serius dari Andini. "Seriusnya? Padahal cuma bercanda. Otaknya udah travelling ya. Untung bentar lagi sampai rumah."
Andini hanya memutar bola matanya saat Eza membelokkan mobilnya memasuki kawasan rumah yang cukup besar dan mewah.
"Sudah sampai." Setelah menghentikan mobilnya. Eza justru meraup pipi Andini agar menatapnya. Dia mendekatkan dirinya. Menciumnya dengan mesra yang semakin lama semakin menuntut.
Satu gedoran di pintu mobil mengagetkan mereka berdua. Seketika Eza melepaskan dirinya dan melihat Bu Sonya tengah berdiri di sisi pintunya sambil mengintip ke dalam.
Eza membuka pintu mobilnya setelah Bu Sonya mundur beberapa langkah.
"Ciuman selamat datang nih ceritanya."
__ADS_1
Lagi-lagi Eza hanya meringis tanpa dosa.
"Kirain kenapa gak keluar-keluar dari mobil. Ternyata..."
"Mama kepo aja." Eza menggandeng tangan Andini saat dia sudah keluar dari mobil. "Ayo sayang."
"Eza, ini kawasan Mama." Bu Sonya mengambil alih tangan Andini lalu menggandengnya masuk ke dalam rumah. "Ini rumah Mama. Anggap rumah sendiri ya...."
Entahlah mereka terus mengobrol apa. Sampai malam, Eza hanya ditemani ponsel dan layar tv yang menyala. Dua perempuan kesayangannya itu masih saja asyik bercerita. Ya, mungkin karena sedari dulu Bu Sonya menginginkan anak perempuan jadi bisa langsung sayang sama Andini.
Andini kini duduk di samping Eza setelah Bu Sonya masuk ke dalam kamar.
"Aku jadi tersisihkan. Sini, saatnya sama aku." Eza menarik tubuh Andini dalam rengkuhannya.
"Ih, Mas Eza berlebihan."
"Aku kan maunya deket kamu terus." Eza menghirup dalam aroma rambut Andini yang membuat otaknya mengirim sinyal ke bagian tubuh Eza yang membuatnya langsung menegang.
Tangan Eza semakin mengeratkan rengkuhannya wajahnya sudah berpindah ke tengkuk leher Andini.
"Mas, nanti Mama lihat." Andini melepaskan dirinya dari Eza saat dia mulai merasakan cumbuan Eza di lehernya semakin liar.
"Ke kamar yuk." Ajak Eza tapi saat mereka akan berdiri tiba-tiba Bu Sonya datang.
"Sayang, kamu malam ini tidur di kamar Mama ya. Semalam aja ya..."
"Tapi Ma..."
"Eza, Mama pinjam semalam aja. Kamu masih punya malam-malam banyak sama Andini." Bu Sonya menarik tangan Andini agar mengikutinya. Permintaan Mamanya jelas tidak bisa ditolak oleh Eza.
Andini melambaikan tangannya kecil meninggalkan Eza.
Eza berdengus kesal. Dia kini duduk bersandar di Sofa. "Aduh, pening nih rasanya. Udah on gagal ngegas."
__ADS_1