
"Ih, Mas Eza buat tanda merah banyak sih di leher." Andini menatap dirinya di cermin. Ada beberapa tanda merah yang tergambar di sana.
Eza hanya terkekeh sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk di belakang Andini. "Kan kamu udah lulus jadi bisa buat kissmark banyak-banyak dong."
"Sama aja Mas. Nanti ada orang yang lihat."
"Udah biarin. Ntar kita pulang dari sini juga udah hilang. Tadi kamu juga keenakan kan?" Eza membungkukkan dirinya lalu menempelkan dagunya di bahu Andini. "Kita dinner yuk."
"Kemana?"
"Gak kemana-mana. Ya, di sini tapi di lantai atas. Romantic dinner kita."
Andini hanya mencibir.
"Bibirnya kok gitu sih. Ini romantic dinner beneran. Kamu pakai gaun yang kita beli kemarin ya, pasti cantik."
Andini kini memutar dirinya hingga berhadapan dengan Eza. "Kok tiba-tiba aku malas ya. Rasanya ngantuk ingin tidur."
Eza mengusap pipinya dengan lembut. "Sudah aku booking sayang. Kamu capek habis terbang barusan? Gak papa kalau memang mau tidur."
"Ya udah, tapi gantiin aku baju ya Mas."
__ADS_1
Eza tersenyum lalu sedetik kemudian dia mengambilkan pakaian lengkap untuk Andini. Setelah mandi mereka memang masih memakai bathrobe saja.
"Tumben manja banget gini." Eza melepas bathrobe Andini. Tubuhnya yang semakin menantang membuatnya ingin menjamah lagi, tapi cukup untuk saat ini karena jika dilanjutkan romantic dinner itu akan gagal.
Dengan gerak halus Eza memakaikan part demi part pakaian ke tubuh Andini, seperti seorang anak kecil yang sedang dipakaikan baju. "Kalau kayak gini jadi ingin cepat punya anak beneran." Eza terus mengulum senyumnya dengan tangan terus bergerak sampai gaun Andini terpasang dengan cantik di tubuhnya. "Tuh kan, cantik."
Andini kini berdiri sambil menatap dirinya di cermin. Gaun merah yang cantik dan sangat pas di tubuhnya. Gaun panjang yang menutupi kaki jenjangnya dengan lengan pendek dan hanya rendah di bagian dadanya saja.
"Iya, bagus gaunnya. Mas tahu aja kalau aku gak suka yang terlalu terbuka. Tapi ini terlalu rendah deh, hasil karya Mas Eza jadi kelihatan semua."
Eza yang tengah memakai kemejanya kini menghentikan gerakannya sesaat. Dia justru melihat apa yang ditunjuk istrinya. Bulatan itu terlihat menyembul dan seksi. "Menggoda banget. Pake syal aja ya. Bawa kan?"
Setelah itu, Andini kembali duduk di depan cermin untuk memoles wajahnya. Sedangkan Eza kembali berkutat dengan pakaiannya.
"Cantik." satu kecupan mendarat di pipi Andini setelah dia selesai dengan riasannya.
Andini beralih menatap suaminya yang saat itu terlihat segar dan tampan tentunya. "Cakep." satu kecupan juga mendarat di pipi Eza. Benar-benar pasangan bucin.
"Ayo sayang." Eza meraih tangan Andini dan mengajaknya keluar dari kamar. Mereka menaiki sebuah tangga untuk sampai di atas.
Andini melebarkan matanya melihat tempat dinner yang begitu indah. Meja yang sudah lengkap dengan sepasang kursi itu berada tepat di tengah taburan bunga berbentuk love dengan lampu yang menyerupai lilin yang berada di sekitar bunga.
__ADS_1
Mereka berjalan lalu duduk di kursi dengan meja yang sudah lengkap dengan berbagai makanan istimewa.
Senyum tak hentinya mengembang di bibir Andini. Dia merasa sangat spesial malam itu. Dia kini memandang langit yang cerah yang dipenuhi bintang-bintang bertaburan di langit yang seolah mengerti bagaimana perasaan sepasang suami istri itu.
"Makasih ya Mas."
Eza hanya tersenyum sambil mengusap tangan yang sedari tadi tak luput dari genggamannya. "Tujuan utama dalam hidup aku saat ini adalah membahagiakanmu. Tidak ada yang lain."
Mendengar kalimat Eza, mata Andini seketika dipenuhi kaca. Dia benar-benar beruntung telah memiliki Eza.
"Udah gak usah baper sayang. Makan yuk. Kamu gak lapar?"
"Lapar banget Mas." Setelah Eza melepaskan tangannya, Andini segera meraih piring lalu memakannya dengan lahap.
"Kalau mau nambah bilang ya." Eza tersenyum. Dia sangat senang melihat nafsu makan Andini yang meningkat akhir-akhir ini.
Mereka makan malam sambil sesekali saling berbalas senyum. Cukup lama mereka menikmati momen itu meski makanan telah tandas tapi mereka masih melanjutkan mengobrol sambil menikmati pemandangan yang semakin malam semakin indah.
Setelah selesai, mereka kembali ke kamar. Andini sudah sangat merasa mengantuk. Dia ke kamar mandi membersihkan dirinya sesaat dan berganti baju lalu segera merebahkan dirinya di atas ranjang. Tak butuh waktu lama dan tanpa ritual apa-apa lagi Andini sudah terbang dahulu ke alam mimpi.
Eza hanya tersenyum sambil mengusap pelan puncak kepala Andini. "Pasti hari ini kamu capek. Met tidur ya sayang." Eza kembali mengecup puncak kepala istrinya sebelum dia ikut menyusulnya ke alam mimpi.
__ADS_1