
Hampir semalam Eza tidak bisa tidur. Ternyata tidur bersama Andini sudah menjadi candu. Rasanya benar-benar ada yang kurang jika tidur tanpa memeluk istrinya itu.
Sampai dini hari, Eza hanya berguling ke kanan dan ke kiri. Berusaha memejamkan matanya.
Ceklek..
Ada bunyi seseorang membuka pintu lalu menutupnya kembali. Eza berpura-pura memejamkan matanya. Dan saat dia naik ke atas ranjang, dia langsung membenamkan diri di dada Eza.
"Akhirnya kamu kembali ke pelukanku." ucap Eza sambil mengeratkan pelukannya.
"Eh, Mas Eza gak tidur?"
"Gak bisa tidur kalau gak ada kamu. Emang kamu bisa tidur?"
"Bisa. Barusan kebangun mau ambil air putih, tiba-tiba kangen aja sama Mas Eza."
"Kangen? Ternyata kamu lebih bucin daripada aku." Eza mulai menyusuri punggung Andini, menciptakan gambar abstrak yang membuatnya geli.
"Ih, Mas Eza. Aku mau lanjut tidur."
"Tidur? Katanya kangen? Kangen sama dengan pengen."
"Sinonim dari mana itu."
"Dari Pak Eza." dengan gerak halus Eza mengubah posisi Andini hingga dia kini berada di atasnya. Menahan dirinya dengan siku agar berat badannya tidak bertumpu pada Andini.
"I love you..."
"I love you too.."
Rasa yang semakin hari semakin menjadi candu itu terus terulang, lagi dan lagi.
...***...
Saat matahari sudah bersinar terang, sepasang suami istri ini baru keluar dari kamar dengan wajah cerah dan senyum merekah. Eza menggandeng Andini menuju ruang makan, dimana sudah ada Bu Sonya yang tengah duduk.
Bu Sonya menatap mereka menyelidik, bahkan sampai mereka berdua duduk, pandangan Bu Sonya tetap pada anak dan menantunya itu.
"Andini pindah jam berapa ke kamar Eza?"
"Eh, hmm, tadi menjelang pagi Ma. Maaf Ma, jadi bangun kesiangan." kata Andini sambil tersenyum malu. Karena kecapekan setelah dibawa Eza terbang tinggi, Andini kembali tertidur.
"Gak papa. Mama ngerti. Karena ulah Eza kan jadi kesiangan?"
"Wah, Mama benar sekali." kata Eza lalu dia mengambil segelas susu dan meminumnya.
"Kamu tuh ya. Yah, sebenarnya Mama pengen cepat punya cucu tapi masih nunggu Andini lulus sekolah dulu ya? Kurang berapa bulan."
"Kurang 7 bulan. Sebentar lagi sudah semester dua."
Bu Sonya tersenyum dengan wajah berbinarnya. "Eza, setelah Andini lulus kamu honeymoon ya."
Mereka berdua kini menatap Bu Sonya.
"Kenapa? Kalian gak ada rencana buat honeymoon?"
__ADS_1
Eza tertawa kecil. Sebenarnya sih maunya sekarang kalau bisa. "Iya, gampang itu, Ma. Emang Mama mau kasih sponsor buat honeymoon?" tanya Eza yang memang terkadang suka menggoda Mamanya.
"Eza, isi rekening kamu itu nominalnya lebih gede dari punya Mama. Masih mau malak Mama?"
"Bercanda, Ma. Eh, Ma sepeda motor Eza masih bisa dipakai kan?"
"Bisa, masih bagus. Kadang dipakai sama putranya Pak Wawan. Kan kalau gak pernah dipakai nanti malah rusak." kata Bu Sonya yang kini mengambil piring. "Sayang, sarapan dulu. Biarin Eza mikir dulu.. Gak tahu tuh mikirin apa?"
"Iya, Ma." Andini justru mengambilkan nasi di piring Eza terlebih dahulu dan lengkap dengan lauknya yang membuat Bu Sonya tersenyum kecil. Hal kecil yang sangat manis.
"Sayang, bentar lagi jalan-jalan yuk naik motor. Mau?" tanya Eza.
Belum juga Andini menjawab, Bu Sonya langsung memangkas perkataan Eza.
"Yakin? Udah jadi bos besar mau naik sepeda motor?"
"Mama, bos besar itu masih tetap Papa. Eza sih masih anak bawang." Eza kembali bertanya pada istrinya. "Gimana? Mau sayang?"
Andini menganggukkan kepalanya. "Terserah Mas Eza saja."
"Alasannya naik motor, pasti mau modus." Cibir Bu Sonya.
Eza tertawa kecil. "Mama tahu aja."
"Hmm, dikira Mama gak pernah muda. Kamu itu kan titisannya Papa kamu."
Eza kembali tertawa.
"Udah, sarapan dulu baru nanti ngobrol lagi."
...***...
"Anak SMA mana, Mas?" goda Andini.
"SMA Kusuma Bangsa." Eza tertawa. "Gimana? Keliatan masih muda kan?"
"Iya, memang mau jalan kemana sih Mas?" tanya Andini sambil bergelayut di lengan Eza saat berjalan menuju sepeda motor yang sudah disiapkan oleh Pak Wawan, penjaga di rumah Eza.
"Ke taman, Mall, terus nonton bioskop ya. Kayak anak SMA kalau kencan gitu."
"Oke."
"Pakai dulu helmnya." Eza membantu Andini memakai helmnya. Setelah itu, baru dia memakai sendiri helmnya dan naik ke motor sport kesayangannya sewaktu SMA dulu.
"Ayo sayang."
Setelah Andini naik ke boncengan Eza, Eza melajukan motornya meninggalkan halaman rumahnya.
"Sayang pegangan dong."
"Eh, iya.." Andini melingkarkan tangannya di pinggang Eza. Ini memang pertama kalinya dia dibonceng oleh pria. Selama ini, dia hanya bisa membayangkan adegan ini dalam imajinasinya. Tak disangka, semua itu terwujud dan justru dengan suaminya.
Tangan kiri Eza yang sesekali mengusap lembut tangan Andini yang ada di perutnya benar-benar menambah getar-getar cinta di antara mereka.
Andini semakin mengeratkan pelukannya dan menempelkan dagunya di bahu Eza. "Dulu saat lihat temen-temen aku dibonceng pacarnya kayak gini, aku cuma bisa bayangin aja. Sekarang bisa lakuin sama Mas Eza dengan status suami lagi. Makasih ya, Mas."
__ADS_1
"Iya sayang."
Beberapa saat kemudian Eza menghentikan motornya di tempat parkir dekat taman. Setelah turun dari motor dan melepas helmnya, mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
"Beli es krim dulu yuk." ajak Eza saat ada penjual es krim.
Setelah membeli dua es krim cornetto, mereka duduk di bangku taman yang teduh.
"Udah lama banget aku gak jalan-jalan kayak gini." kata Eza sambil membuka es krimnya.
"Dulu Mas Eza pasti pernah jalan sama pacarnya kayak gini kan?" kata Andini lalu mulai menyomot es krimnya.
Eza tersenyum kecil. "Aku dulu sempat punya pacar sih emang. Sekali aja, habis gitu males punya pacar lagi. Udah posesif dan matre lagi."
"Ah, masa' sih orang kayak Mas Eza dulu gak punya banyak pacar?"
"Aku kan bukan player kayak si Rendi."
"Terus kenapa bisa tahu soal vcs juga?"
"Oo, itu ya gara-gara Rendi. Iseng aja sih sebenarnya. Tiba-tiba aku nemuin kamu terus penasaran, ya aku cari dong di dunia nyata yang ternyata beda banget dari kehidupan virtualnya." kata Eza sambil sedikit mencubit hidung Andini.
"Ih," Andini menghindari cubitan Eza.
"Nyobain es krim punya kamu dong, kayaknya enak."
"Mau?" Andini menyodorkan es krimnya ke bibir Eza.
Eza menyomot es krim Andini. Memang terasa berbeda. "Lebih enak, soalnya bekas bibir kamu sih."
"Ih, Mas Eza modus banget."
Eza tertawa. "Mau punya aku?"
"Mana?"
"Nih, yang bawah."
"Mas??"
"Bercanda, bercanda." Eza tertawa lalu menyodorkan es krimnya ke bibir Andini.
Setelah mencobanya Andini justru bilang, "Gak enak, Mas."
"Kenapa?"
"Gak ada bonus suara."
Eza tertawa sambil mencubit gemas pipi Andini, "Kalau mau yang bonus suara nanti ya di apartemen."
Andini kembali memakan es krimnya sampai habis sambil beberapa kali tertawa.
"Makasih ya Mas, udah buat hidup aku bahagia." Andini menyandarkan kepalanya di bahu Eza.
"Sama-sama." satu kecupan mendarat di puncak kepala Andini.
__ADS_1