Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Love Doesn't Need a Reason


__ADS_3

Eza terpaku beberapa saat tak juga menjawab Andini. Dia telan salivanya beberapa kali. Ada rasa yang langsung dihantarkan oleh mata menuju dada yang membuatnya berdesir seolah membakar diri. Punggung mulus seputih susu itu seolah ingin mematikan akal sehatnya.


No!! Not this time!


"Tolong ambilkan bathrobe di belakang pintu."


Butuh loading beberapa saat untuk membuat Eza bergerak setelah mendengar suara Andini. Setelah mengambil bathrobe, Eza segera menutup punggung Andini setelah itu dia membalikkan badannya. "Kamu pakai dulu."


Setelah memaki bathrobe, Andini mencari pegangan dan berusaha berdiri. "Aduh!"


Mendengar suara mengaduh Andini, Eza membalikkan badannya dan melihat Andini yang sedang berusaha berdiri sendiri. Memang Andini sedikit keras kepala. "Andini, kalau sudah bilang. Aku bantu." Eza menghampiri Andini dan segera meraih tubuhnya lalu menggendongnya lagi. Walau sebenarnya dia sudah sangat pening saat ini tapi dia berusaha mengumpulkan semua akal sehatnya.


Wajah Andini merah padam. Sebenarnya dia sangat malu saat itu.


Eza merebahkan tubuh Andini di atas ranjangnya. Dia melihat Andini yang tampak meringis kesakitan.


"Tambah sakit? Bentar lagi makan terus minum obat ya." Eza mengusap lembut kaki Andini. "Gak kena air kan?"


Andini menggelengkan kepalanya. "Cuma kegerak aja."


"Tuh kan. Kata dokter gak boleh digerakkan dulu. Nanti bisa lama sembuhnya. Besok gak usah mandi. Kalau mau mandi biar sama aku saja."


Andini menatap tajam Eza. "Mau cari kesempatan?!"


"Andini, aku gak akan lakuin hal diluar batas wajar kalau lawan mainnya tidak mengizinkan. Hmm, apa mau aku panggilin suster buat rawat kamu aja di sini. Eh, tapi gak perlu sih, aku kan bisa rawat kamu."


Andini hanya memutar bola matanya sambil mencibir.


"Kamu gak ganti baju? Aku ambilin ya?" Eza berdiri dan menuju sebuah almari yang tidak terlalu besar. "Yang mana?"


"Daster piyama aja. Itu yang di sebelah kiri nomer dua."


Eza segera mengambil apa yang diinginkan Andini. "Ini?"

__ADS_1


Setelah mengambil baju gantinya dari tangan Eza, Andini justru sedikit bergumam. "Duh, gimana ambil itu.."


"Hah? Apa?"


"Eh..." Andini hanya menatap Eza yang sedang diliputi tanda tanya.


"Oh, yes. I know. Dimana? Biar aku ambilkan."


Andini justru terdiam. Dia sangat malu jika harus membiarkan seorang pria memegang benda pribadinya.


"Andini? Oke, aku cari sendiri." Tangan Eza mulai bekerja mencari benda itu.


Wajah Andini semakin memerah. Dia kini merebahkan dirinya dan memunggungi Eza lagi. Menutup wajahnya dengan guling, berharap setelah ini dia tidak terjebak dalam keadaan yang dirasanya sangat memalukan.


Eza tersenyum simpul menemukan barang dicarinya. Hanya memegang kain penutupnya saja membuat dadanya berdebar tak karuan, apalagi melihat isinya. Oh, no! Otak Eza mulai traveling lagi kemana-mana. Sebelum terbawa semakin jauh, dia harus menghentikannya. Dia berjalan mendekat ke ranjang, lalu meletakkannya di dekat Andini.


"Aku taruh sini ya." Eza semakin terkekeh melihat kelakuan lugu Andini. "Sama calon suami aja malu."


"Bercanda? No, I'm seriously." Beberapa saat kemudian ponsel Eza berbunyi sepertinya pengantar gofood sudah sampai di tempat. "Aku ambil makanan, kamu ganti baju dulu ya." Eza keluar dari kamar lalu menutup kembali pintu itu.


Andini sedikit bernapas lega. Entahlah, setiap dekat dengan Eza selalu ada saja kejadian mengejutkan yang menimpanya.


Dia mulai berganti baju dengan perlahan. Setelah selesai, Andini berpikir sesaat. Mengapa sekarang hidupnya seolah tidak bisa lepas dari Eza. Apa Eza benar-benar serius dengan perkataannya.


"Andini sudah selesai? Aku masuk ya?"


"Iya Pak."


Eza masuk ke dalam kamar Andini. Tatapan mereka bersirobok beberapa saat.


"Kamu mau makan di luar atau di kamar?"


"Di luar saja, Pak."

__ADS_1


"Oke. Come on my princess." Eza segera meraih tubuh Andini dan kembali menggendongnya.


"Pak Eza, jangan terlalu berlebihan."


Eza hanya tersenyum sambil berjalan lalu dia menurunkan Andini di kursi ruang tamu. Sudah ada beberapa makanan yang tertata rapi di atas meja lengkap dengan minuman.


"Kamu makan ya? Mau aku suapin?"


Andini menggelengkan kepalanya.


Eza beberapa kali mengulum senyumnya. Meski hanya makan di rumah dan bukan makan di restoran mewah, tapi ini rasanya sangat bahagia.


"Hmm, Pak. Terima kasih Pak Eza sudah banyak membatu saya. Saya sebenarnya tidak mau banyak berhutang budi sama Pak Eza."


Eza hanya menatapnya lembut dengan senyum termanisnya. "Jangan merasa berhutang budi. Aku benar-benar ingin menikah sama kamu dan menjadi bagian dari hidup kamu. Secepatnya."


"Tapi Pak, saya masih sekolah."


"Tidak apa-apa. Kita bisa sembunyikan status kita. Kamu sudah 17 tahun ke atas kan?"


Andini hanya terdiam. Dia bisa menangkap keseriusan di wajah Eza.


"Aku pasti akan bahagiakan kamu. Kamu pikirkan ini ya. Aku tunggu jawaban kamu besok."


"Besok? Secepat itu."


"Niat baik harus disegerakan."


"Tapi apa alasan Pak Eza ingin menikahi saya? Karena kasihan? Atau hanya karena kebutuhan biologis?"


Pertanyaan Andini lagi-lagi berhasil membuat Eza tertawa. "Coz I love you and love doesn't need a reason..."


(Karena aku mencintaimu dan cinta tidak butuh alasan...)

__ADS_1


__ADS_2