Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Stalker Handal 2


__ADS_3

Setelah melihat kejadian di sekolah, Pak Eza memutuskan untuk mengikuti Andini sampai rumahnya. Dia hanya bisa menunggunya di dekat rumah seperti seorang penguntit demi mengetahui apa saja yang akan dilakukannya hari itu.


Tidak ada satu jam Andini kembali keluar dari rumah dan sudah memesan ojek online. Beberapa saat kemudian Andini sudah pergi dengan ojek onlinenya.


"Mau kemana dia?" Pak Eza mengikutinya tapi karena dia menggunakan mobil membuatnya kalah cepat karena beberapa kali gagal menyalip kendaraan di depannya. Untunglah jalanan yang dilalui tidak banyak berbelok. Hingga dia kini berhasil menangkap bayangan Andini yang sedang berlari mengejar seseorang.


Pak Eza segera memarkirkan mobilnya dan buru-buru keluar lalu menghampiri Andini yang sedang membungkukkan dirinya.


Kenapa?" Tanyanya


"Pak Eza? Tas saya dicopet."


"Kemana copetnya?"


"Ke sana."


Pak Eza segera berlari sesuai arah yang ditunjuk Andini. Dia melangkahkan kakinya jenjang dengan tempo yang sangat cepat persis seorang yang sedang berlomba lari maraton.


"Pasti itu orangnya!!" Pak Eza segera menarik kasar kaos seorang yang memegang tas perempuan. "Lo yang copet tas cewek di sana!!"


Pencopet itu berusaha melepaskan diri saat tangannya dikunci oleh Pak Eza. "Mana tas itu. Lo kasih gak!! Atau gue hajar lo!!"


"Iya, iya." Pencopet itu memberikan tas Andini. Setelahnya Pak Eza melepaskan pencopet itu lalu kembali ke tempat Andini


Terlihat Andini duduk di depan sebuah ruko yang telah tutup.


"Ini tas kamu." Pak Eza memberikan tas yang berhasil dia ambil.


Seketika Andini mendongak saat Pak Eza memberikan tasnya di hadapan Andini.


Andini tersenyum bahagia menyambut tas itu dari uluran tangan Pak Eza. Kemudian dia mengecek isi tasnya yang masih lengkap. Dia hapus sisa-sisa air matanya lalu berdiri dan memegang tangan kanan Pak Eza dengan kedua tangannya. "Makasih, Pak. Terima kasih banyak. Kalau tidak ada Pak Eza, entahlah bagaimana nasib hidup saya selanjutnya."


Kedua tangan yang memegang tangan kanannya berhasil membuat dadanya berdesir. Seperti inikah rasanya menyentuh seseorang yang dia kagumi di dunia maya. Lebih indah daripada apapun.


Pak Eza meletakkan tangan kirinya di atas tangan Andini dan mengeratkan genggamannya. "Sama-sama.."


Merasakan tangan Pak Eza seketika Andini melepaskan tangannya. "Eh, ma-maf..." Dia mengalihkan pandangannya. Dia sekarang justru bingung harus pulang atau tetap lanjut ke salon. Setelah kejadian pencopetan barusan mood-nya tiba-tiba sudah menguar.


"Kamu mau kemana?" tanya Pak Eza yang melihat Andini hanya berdiri terdiam.


"Saya mau.. Hmmm..." Andini hanya menggigit bibir bawahnya beberapa saat.

__ADS_1


"Kemana? Biar aku antar?"


"Saya mau ke salon itu, yang ada di dekat tempat ini. Mau potong rambut, iya mau potong rambut. Tapi sepertinya tidak jadi. Saya mau pulang saja. Sekali lagi terima kasih sudah menolong saya." jawab Andini sebisanya. Dia benar-benar tidak terlatih menangani keadaan canggung seperti ini. Terlebih seorang yang sekarang ada di hadapannya ini adalah seorang guru di sekolahnya.


Apa Pak Eza percaya begitu saja, tentu tidak. Dia kini justru menahan tangan Andini saat akan melangkah pergi. "Mau ke salon? Yuk, aku antar. Tapi tidak di salon ini. Ikut aku!"


"Ke-kemana? Tidak perlu repot-repot, Pak." Andini berusaha menolak. Ini tidak baik bukan, jika ada yang melihat dan tahu posisi mereka masing-masing pasti akan menjadi tranding topik seorang siswi sedang kencan dengan seorang guru muda.


"Anggap saja ini balasan kamu karena aku sudah menolong kamu."


What?? Apa tidak terbalik? Atau jangan-jangan Pak Eza mau meminta balasan lebih. Lagi-lagi pikiran kotor singgah di kepala Andini.


Andini berusaha melepaskan tangannya yang sempat tersimpan di genggaman Pak Eza. "Tapi Pak. Maaf, saya pulang saja."


Pak Eza melepaskan tangan Andini. Dia tidak akan memaksanya. "Benar tidak mau? Aku bisa bantu kamu." Pak Eza menatapnya sungguh-sungguh.


"Hmmm..." Andini masih saja berpikir.


"Jangan menolak kebaikan seseorang." Pak Eza mengerlingkan matanya di balik kacamatanya sambil tersenyum manis. Sangat manis sekali yang membuat Andini tertegun beberapa saat.


Dia??? Andini sempat mengira dia adalah seseorang yang menemaninya di hampir setiap malamnya.Tidak mungkin!! Bukan! Pasti hanya mirip! Lagi, lagi pikiran itu ditepis sendiri oleh Andini. Dia mengalihkan pandangannya agar tidak berlarut-larut menatap wajah yang sebenarnya tampan dibalik penampilan fatherly itu.


"So?" tanya Pak Eza lagi. "Aku punya rekomendasi salon yang cocok buat kamu. Dijamin kamu tidak akan kecewa."


Pak Eza tidak menjawab. Dia hanya mengulum senyumnya karena dia pasti akan menunggu Andini sampai selesai.


Pak Eza berjalan menuju mobilnya yang terparkir.


Lagi, lagi Andini dibuat ternganga. Dia menatap takjub pada mobil mewah Pak Eza. Setaraf guru Matematika bisa memiliki mobil semewah ini, pasti Pak Eza berasal dari keluarga konglomerat.


"Kenapa? Ayo masuk?" Pak Eza sudah membukakan pintu depan untuknya.


Andini menggelengkan kepalanya. "Saya duduk di belakang saja."


Tanpa memaksa, Pak Eza menutup kembali pintu itu dan beralih membuka pintu belakang. "Oke."


Setelah Andini masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Pak Eza melangkah cepat menuju kursi pengemudi. Dia masuk dan duduk sambil tetap mengulum senyum. Merasa sangat gemas dengan sikap jaim Andini.


Beberapa saat kemudian mobil Pak Eza melaju dengan kecepatan sedang. Andini masih saja terdiam sambil melihat jalanan yang tidak terlalu ramai sore itu.


Pak Eza hanya melirik sesekali lewat kaca depannya. Tak butuh waktu lama Pak Eza sudah membelokkan mobilnya di tempat parkir di sebuah salon yang cukup besar.

__ADS_1


Andini melebarkan matanya. Dia tahu jika itu salon untuk kelas atas. Dirinya mana mampu membayar jasa salon itu. "Hmm, Pak. Maaf ini salon mahal. Uang saya tidak cukup."


Pak Eza kini menengok ke belakang dan tetap dengan senyum manisnya. "It's free, for you.."


Andini semakin dibuat bingung dengan tingkah Pak Eza. "Pak, saya tidak mau menerima pemberian Bapak begitu saja. Jangan-jangan Pak Eza punya maksud tersembunyi." tuduh Andini secara langsung.


Pak Eza semakin terkekeh sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Ya udah, kamu bayar saja."


"Uang saya tidak cukup Pak kalau ke salon ini."


"Ya udah kamu cicil aja." jawab Pak Eza dengan entengnya. Sebenarnya itu hanyalah gurauannya saja yang ternyata langsung disetujui oleh Andini.


"Oke, saya akan cicil ke Pak Eza. Jatuh tempo sampai berapa bulan?"


Pak Eza justru semakin tertawa. Baru pertama kali ini dia bertemu dengan gadis seperti Andini. Keras kepala tapi sangat polos. "Seumur hidup kamu." Katanya sambil keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Andini yang masih terbengong.


Seberapa mahalnya sampai dia harus mencicilnya seumur hidup?


Pak Eza sampai membungkukkan badannya karena Andini tak juga keluar. "Ayo."


"Eh, iya."


Pak Eza kembali menegakkan tubuhnya. Dia memberi jalan pada Andini. Setelah Andini keluar, Pak Eza segera menutup pintu dan berjalan di sampingnya.


Mereka masuk ke dalam salon yang langsung disambut ramah oleh para pegawai salon.


"Sore Pak, ada yang bisa kami bantu?"


Pak Eza duduk sambil melihat selebaran dan beberapa buku katalog. "Paket perawatan lengkap dan kualitas terbaik. Yang ini saja."


Andini hanya melebarkan matanya. Pak Eza tidak main-main. Jika memang ini hutang, sepertinya dia memang harus mencicilnya seumur hidup.


💞💞💞


.


.


.


.

__ADS_1


Pengen nertawain Andini tapi takut disentil Pak Eza.. 😆😆


__ADS_2