
Eza menggeliat saat sayup-sayup terdengar langkah kaki yang cepat menuju toilet. Beberapa saat kemudian terdengar suara muntahan yang semakin lama semakin keras.
Seketika Eza bangun dan bergegas menyusul Andini ke dalam toilet. "Astaga, sayang." Eza menyibakkan rambut Andini menahannya ke atas, sedangkan tangan satunya memijit lembut punggungnya.
Setelah isi perutnya tuntas, dia beralih ke washtafel untuk berkumur dan membersihkan bibirnya.
"Kamu gak papa?" Eza kini menatap wajah pucat istrinya.
"Kayaknya Mas Eza benar. Aku gak boleh makan asam-asam dulu. Asam lambungnya langsung kambuh."
Pasti ini bukan karena asam lambung tapi karena hal lain, tebak Eza. Lalu dia merengkuh tubuh Andini dan kembali menuntunnya ke atas ranjang. "Aku buatkan minuman hangat ya. Mau teh atau susu?"
Andini tak menjawab, dia justru merebahkan dirinya dan menarik selimut lagi. Kepalanya terasa pusing. Rasa mual juga masih tertinggal di perutnya.
Eza tak bertanya lagi. Dia segera melangkah keluar kamar menuju dapur untuk membuat teh hangat dan mengambil roti yang dioles selai.
Tak butuh waktu lama Eza sudah kembali masuk ke dalam kamar. "Sayang, minum teh hangat dulu." Eza duduk di tepian ranjang. Meletakkan piring terlebih dahulu di atas nakas.
Andini duduk secara perlahan lalu bersandar di headboard. Dia mengambil cangkir dari tangan Eza lalu meminum teh yang terasa hangat melewati tenggorokannya.
"Hmm, Mas ada obat lambung?" tanya Andini yang merasa perutnya masih saja mual.
"Nggak ada. Jangan minum obat sembarangan, nanti kita periksa saja ke dokter." Lalu Eza mengambilkan roti agar segera dimakan oleh istrinya. "Makan ya, kamu dari semalam gak mau makan nasi."
Andini menganggukkan kepalanya lalu mulai memakan roti itu. Hanya memakannya separuh lalu dia mengembalikan sisanya di atas piring yang berada di nakas.
"Nggak dihabiskan?"
Andini menggeleng, dia kini melihat jam dinding yang masih pukul 4 pagi. Dia kembali merebahkan dirinya dan menarik selimut lagi.
Eza ikut naik ke atas ranjang. Merebahkan dirinya di samping tubuh istrinya lalu memeluknya sambil mengusap lembut punggungnya. "Kalau gak enak badan nanti gak usah kuliah ya."
"Aku nanti ada praktek Mas untuk penilaian. Kemarin juga udah beli bahannya kan."
"Ya sudah. Nanti kalau sudah selesai langsung telepon aku ya. Biar aku yang jemput, kita langsung periksa ke dokter."
__ADS_1
Andini mengangguk pelan. Badannya mulai terasa enak mendapat usapan lembut di punggungnya. Mulai menghangat hingga menciptakan sensasi tersendiri.
"Hmm, Mas aku mau itu.." ucap Andini sambil membentuk pola abstrak dengan jarinya di dada bidang suaminya.
"Mau apa? Aku ambilkan. Apa?" Eza mengendorkan pelukannya lalu menatap wajah istrinya. Dia sangat bahagia ketika harus menuruti keinginan istrinya yang mungkin tercipta karena hormon.
"Bukan diambil. Aku mau itu..."
Eza semakin menatap wajah Andini. Dia tidak mengerti dengan keinginannya kali ini. Bahkan ekspresi dan perasaannya begitu cepat berubah.
"Apa sayang? Aku gak ngerti."
Mendengar kalimat ketidak mengertian dari Eza saja, wajah Andini seketika cemberut. Dia kini membalikkan badannya memunggungi Eza.
Eza hanya menghela napas panjang. Apa memang perasaan Andini sekarang sangat sensitif seperti ini. Eza yang memang tipikal sabar tapi kali ini dia harus bisa semakin sabar. Dia kini memeluk Andini dari belakang dan mengusap perut Andini dengan lembut. "Kamu mau apa? Bilang aja, biar aku tahu."
Rasa nyaman diperutnya langsung melunakkan hati Andini. "Aku mau itu Mas."
"Apa?" Eza masih saja tidak mengerti karena Andini hanya menyebut itu itu saja. Atau jangan-jangan...
"Mau ini?" Eza kini berada di atas Andini, dengan cepat dia membuka kancing piyamanya.
Andini mengangguk malu.
Lucunya... Eza tidak pernah menyangka dengan perubahan sikap Andini sampai sedrastis ini.
Dia pandangi wajah cantik istrinya dengan tangan yang masih terus bergerak melepas semua pakaian yang melekat ditubuh mereka. "Mau ini aja, kenapa harus malu-malu bilangnya. Pake ngambek segala. Aku kan bisa langsung kasih dengan senang hati," tawa Eza di ujung kalimatnya.
Dia menyusuri lekuk tubuh Andini, memang lebih berisi dari sebelumnya dan rasa di bawah sana saat Eza mulai memasukinya, terasa lebih hangat dan lebih menggigit dari biasanya. Rasanya Eza sudah dibuat terlena, dia nikmati setiap gerakannya dengan lembut dan penuh perasaan. Tidak menggebu seperti biasanya. Dia sangat hati-hati takut menyakiti Andini.
Andini tersenyum menatap wajah suaminya yang berada di atasnya. Wajah yang diselimuti gairah itu sangat dia sukai. Dia semakin melingkarkan tangannya dengan erat saat gelombang kenikmatan mulai menerjangnya. Dia hanya bisa mengigit bibir bawahnya agar suara kenikmatan itu tidak lolos.
Eza menciumi seluruh wajah Andini, mulai dari kening, kelopak mata, pipi lalu berhenti di dekat telinganya. "Aku sayang sama kamu.." bisiknya lembut seiring tercapainya pelepasan itu.
Setelah melepaskan diri, Eza kini tidur di samping istrinya lalu memeluk tubuh polos itu dengan erat. "Udah? Atau mau lagi?"
__ADS_1
Andini hanya tersenyum sambil menggeleng.
"Kalau ngantuk, kamu tidur lagi aja. Nanti jam 6 aku bangunin," kata Eza sambil tangannya terus mengusap punggung istrinya.
Andini mengangguk pelan, beberapa saat kemudian dia mulai tertidur.
Eza terus menatap wajah pulas itu. Semakin hari rasanya dia semakin cinta dan sayang pada pemilik hatinya. Apalagi jika memang Andini hamil, Eza pasti akan menjaganya dengan maksimal. Dia tidak mau kejadian yang dulu terulang kembali.
Setelah dirasa tidur Andini nyenyak, Eza turun dari tempat tidur. Dia menuju kamar mandi dan membasuh dirinya.
Sudah jam 6 lebih, Andini belum juga bangun. Ingin Eza membiarkannya tapi dia juga tidak mau Andini sampai terlambat ke kampus. Lalu Eza mengusap lembut pipi Andini untuk membangunkannya.
"Ehmm, Mas jam berapa?" tanya Andini sambil
bergeliat.
"Sudah jam 6 lebih."
Seketika Andini terbangun dan turun dari ranjang.
Tindakan buru-buru Andini membuat Eza was-was. "Sayang, pelan-pelan."
Perkataan Eza sudah tak dia gubris. Andini segera masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh dirinya. Tak lama, dia sudah selesai, lalu berganti baju, menyisir rambut dan memoles wajahnya sesaat.
"Udah jangan buru-buru. Barang-barang kamu sudah aku siapin semua sesuai ceklist kamu."
Andini kini menatap suami tercintanya dengan mata berbinarnya. "Makasih ya, Mas."
"Iya, ya udah kita sarapan dulu yuk. Kamu makan yang banyak."
Mendengar kata makan, perutnya kembali seperti di aduk. Mereka kini duduk di meja makan. Andini hanya menatap makanan yang diambilkan Eza di atas piringnya. Dia mulai memakannya sampai tiga suapan, gerakannya mulai melambat.
"Kenapa? Mau disuapin?"
Pertanyaan Eza membuat Pak Handoko dan Bu Sonya menatap mereka....
__ADS_1