
"Sayang, aku mohon, kamu bertahan..." Eza terus menekan tombol emergency itu.
Beberapa saat kemudian Dokter yang menangani Andini beserta kedua suster masuk.
"Suster pasang oksigennya!" perintah Dokter itu cukup panik.
Suster segera bertindak cepat memasang selang oksigen di hidung Andini. Napas Andini berangsur normal.
Dokter memeriksa detak jantung Andini sambil menggelengkan kepalanya. "Suster, ambil kantong darah. Pasien harus segera mendapatkan transfusi darah."
Eza melebarkan bola matanya. "Transfusi darah? Istri saya kenapa Dok?"
Sambil terus mengecek kondisi Andini, Dokter menjawab pertanyaan Eza. "Dari hasil tes darah barusan, hb istri Anda sangat rendah hanya 6,3. Sebenarnya jika tidak terjadi penurunan kesadaran dan sesak napas kita tidak perlu melakukan ini tapi istri bapak sudah sesak napas itu tandanya jantung sudah tidak bisa bekerja secara maksimal karena kekurangan darah yang mengantar oksigen ke seluruh tubuh. Dan hal ini bisa menyebabkan gagal jantung, melemahnya sistem kerja otak atau hal buruk lainnya."
Seketika lutut Eza terasa lemas, pikirannya kacau dengan bayangan yang tidak-tidak. Walau pengetahuannya di ilmu medis sangat minim tapi dia cukup tahu tentang hal ini. Bayangkan saja, hb yang normalnya di atas 12g/dL sedangkan hb Andini hanya ada separuhnya. Sudah pasti tubuh Andini dalam bahaya. "Bagaimana bisa Dok? Istri saya tidak mengalami pendarahan?"
"Sebentar." Dokter tidak menjawab karena dia kini fokus memasang jarum untuk transfusi darah. Sampai tiga kali tusukan baru ditemukan titik nadi yang pas.
Melihat itu, Eza merasa sangat tidak tega. Jantungnya bagai terhimpit sesuatu yang membuat badannya lemas seperti tanpa tulang.
"Suster agak cepat saja karena tubuh pasien sudah dalam keadaan gawat."
"Iya Dok."
Eza kini duduk di atas sofa. Dia acak rambutnya sendiri. Matanya mulai memerah, dia benar-benar tidak sanggup melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Kenapa ini semua bisa terjadi? Seketika dia merasa gagal menjadi seorang suami. Dia merasa tidak bisa menjaganya. Padahal semua vitamin, booster ASI dan makanan sehat lainnya sudah dia beri yang terbaik untuk istrinya, tapi mengapa masih bisa drop seperti ini.
Andai saja aku bisa mengganti posisi kamu, biar aku saja yang menggantikan sakitmu. Rayn dan Ryan butuh kamu.
Setetes air mata berhasil melewati pelupuk matanya.
"Pak Eza."
"Iya Dok." seketika Eza berdiri dan menghampiri Dokter.
"Setelah kantong darah hampir habis segera panggil suster ya."
"Sampai berapa kantong Dok?"
__ADS_1
"Antara 2-3 kantong."
"Bagaimana bisa istri saya mengalami anemia akut seperti ini Dok?"
"Sepertinya ini efek pasca operasi. Istri Anda juga mengalami dehidrasi dan kelelahan karena kurang tidur. Apa selama hamil tekanan darahnya sering rendah?"
"Iya, Dok."
"Itu juga bisa menjadi salah satu pemicunya."
Eza menghela napas panjang.
"Semoga setelah dilakukan transfusi darah keadaannya mulai membaik. Dan tidak apa-apa ASI nya di pompa saja karena sudah terlihat keras. Kalau tidak dikeluarkan justru akan menyebabkan mastitis."
"Iya Dok."
Setelah Dokter dan suster keluar, Eza kembali duduk dengan lemas di sofa. Dia menatap nanar Andini yang masih terbaring dengan lemas. Kini dua jarum telah terpasang di kedua tangannya. Hatinya terasa kelu. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya saja dia terlambat membawa Andini ke rumah sakit.
"Aku, Rayn, dan Ryan butuh kamu sayang. Kamu harus kuat ya. Kamu harus bisa bertahan." gumamnya disela isak tangisnya. Dirinya sangat lemah saat melihat wanitanya sakit tak berdaya seperti ini.
Beberapa saat kemudian ponsel Eza berdering, ada panggilan video dari Mamanya. Dia mengangkatnya.
"Za, kamu kenapa nangis? Andini kenapa, Za?" terdengar suara panik dari Bu Sonya saat melihat wajah sedih Eza.
"Tadi Andini sempat sesak napas Ma. Hb Andini sangat rendah jadi harus dilakukan transfusi darah." Eza berdiri dan mengubah panggilan videonya menjadi kamera belakang. Dia mendekati Andini dan menyorot keadaan Andini saat ini.
"Kenapa sampai bisa seperti ini Za?"
"Eza juga gak tahu Ma."
"Pantas Rayn dan Ryan dari tadi rewel terus sampai sekarang, Za. Mereka pasti bisa rasakan apa yang bundanya rasakan."
Eza mengganti panggilannya menjadi kamera depan. "Dekatkan sama si kembar Ma, Eza mau bicara."
Terdengar suara si kembar yang masih menangis. Ryan sedang digendong Bi Sum dan Rayn ada di atas bouncher sambil sedikit di goyang.
"Hei, dua jagoan Ayah, jangan rewel ya. Do'akan Bunda cepat sembuh, biar kita bisa sama-sama lagi. Jangan sedih ya, sayang. Yang pintar sama Oma. Minum ASIP dulu ya sementara." Seolah mengerti, kedua bayi itu seketika terdiam. Air mata itu kembali menetes di pipi Eza. Kedua putranya benar-benar sedang membutuhkan Andini saat ini.
__ADS_1
"Za, kamu jangan sedih gitu. Kamu yang tenang ya. Andini pasti sebentar lagi sembuh."
"Ma, Pak Wawan suruh ke rumah sakit secepatnya ya. Bawa pompa ASI sama coller bagnya."
"Barusan sudah meluncur, Za. Sudah Mama bawakan juga pompa sama coller bag nya. Baju kamu sama makanan kamu juga. Kamu harus makan ya. Jangan sampai kamu sakit juga, kalau kamu sakit, siapa yang akan jagain Andini."
"Iya, Ma."
"Ya sudah. Nanti kalau ada apa-apa telepon lagi. Mama doa kan semoga Andini cepat sadar dan kembali sehat."
"Iya, Ma." Eza mematikan panggilan videonya. Dia kini duduk di sisi brangkar. Mengusap pelan rambut Andini. Sepertinya suhu tubuhnya sudah mulai menurun.
"Sayang, we need you so much."
Eza terus menatap Andini dan mengusap lembut rambut Andini. Dia tidak ingin meninggalkan Andini walau hanya sebentar saja.
Sampai Pak Wawan tiba dan menyerahkan semua barang yang dibutuhkan termasuk makanan Eza.
"Makasih ya, Pak. Pak Wawan tunggu sebentar diluar, bawa sekalian ASIP nya."
"Iya, Pak."
Setelah Pak Wawan keluar, hal yang pertama dilakukan Eza adalah memompa ASI Andini yang memang sudah mengeras.
"Maaf ya sayang." Antara tega dan tidak tega Eza melakukannya, dia membuka dada Andini, tidak ada rasa nafsu kali ini yang ada hatinya merasa iba. Biasanya si kembar sangat senang menyesap sumber kehidupannya secara langsung, sekarang justru Eza yang membantunya memompa di saat dia tak sadarkan diri.
Dia menunggu sampai botol yang terpasang di pompa otomatis itu penuh sambil terus menggenggam tangan istrinya.
Setelah dirasanya kedua payu dara itu telah kosong, Eza meletakkan tiga botol yang penuh dalam coller bag dan segera memberikannya pada Pak Wawan agar diantar pulang.
Eza kini melihat kantong darah yang sudah hampir kosong, dia langsung memanggil suster untuk mengganti kantong darah dengan yang penuh.
Eza kembali duduk dengan lemas. Ingin dia makan tapi hanya beberapa suapan tenggorokannya sudah berat menelan makanannya itu.
Sayang cepat bangun. Aku gak bisa tanpa kamu....
💞💞💞
__ADS_1
Hai, terima kasih yang sudah mengikuti cerita Andini dan Eza sampai sejauh ini. Beberapa bab lagi akan tamat ya.. Huaa... gak rela sih. Tapi tenang nanti akan ada sequelnya dari si kembar dan spin of nya Arjuna. Tetap stay di sini ya...
Yuk, mampir ke cerita author lainnya. Langsung ke profil author ya. Sudah pasti kawasan, bucin, baper, dan basyah.. ðŸ¤