Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Sold Out


__ADS_3

"Seragam kamu basah?" Arka melepas jas almamaternya. "Nih, kamu pakai dulu. Bentar lagi kita keliling kampus. Nanti kalau sudah kering kamu kembalikan."


Andini tak juga mengambil jas almamater Arka. Dia masih berpikir beberapa saat untuk menimbang keuntungan dan kerugiannya.


"Kamu pakai. Gak mungkin kamu jalan dengan seragam basah kayak gitu." Arka meletakkan jas almamaternya di punggung Andini setelah itu dia berlalu tanpa lagi mau mendengar penolakan dari Andini.


"Din? Waduh, gawat! Kak Arka ngasih perhatian lebih ke lo."


Andini mengambil jas almamater yang menutupi punggungnya. Jika saja Andini masih single dan baru diawal cerita, mungkin ini bisa menjadi moment yang spesial untuk memulai sebuah hubungan. Tapi hal itu jelas tidak mungkin terjadi.


"Gue kembaliin aja ya jasnya. Kayak makan buah simalakama aja."


"Kalau lo balikin terus lo mau gimana?"


"Tapi gak papa kah?"


"Gak papa. Emergency. Nanti kalau baju lo udah kering langsung balikin."


Meski ragu, akhirnya Andini memakai jas almamater milik Arka. Kemudian mereka segera bergabung dengan teman lainnya untuk memakan bekal yang mereka bawa. Beberapa mata kini tertuju pada Andini yang tengah memakai jas yang berwarna biru tua itu.


"Wih, keren baru sehari masuk lo udah bisa dapat perhatian dari ketua BEM." kata Reva, teman satu fakultas Andini.


"Kebetulan aja, soalnya seragam gue basah habis ketumpahan es."


Reva memelankan suaranya. "Tapi tatapannya ke lo itu beda loh dari tadi. Lo hati-hati aja. Banyak senior kita yang ngejar-ngejar Kak Arka. Gue takut lo kena bully mereka."


Andini tersenyum enteng. "Biarin. Gue juga gak tertarik sama Arka. Gue kan udah punya suami."


Reva yang sedang mengunyah makanannya saat itu langsung menelan makanannya. "Serius lo? Gak percaya gue. Kita kan baru aja lulus SMA, masak sih lo udah nikah."


Andini menganggukkan kepalanya.


Reva masih saja tidak percaya. "Masak sih?"


"Lo gak percaya banget. Nih, gue saksinya sebagai sahabat Andini. Suami Andini itu pengusaha sukses. Dia pemilik dari Hans Group."


Bibir Reva semakin menganga. Dia benar-benar tidak percaya jika sekarang dia berteman dengan istri sultan. "Wah, hebat. Gue gak nyangka banget. Pantaslah, kalau kayak gitu sih Kak Arka lewat."


Mereka bertiga kembali mengobrol sambil menghabiskan bekal mereka.


Setelah istirahat selesai. Mereka segera berkumpul membentuk kelompok dari fakultas masing-masing. Mereka berjalan keliling kampus lengkap dengan berbagai aksesoris dan slogan-slogan yang mereka bawa persis seperti sedang melakukan unjuk rasa.


Setiap melewati fakultas mereka melakukan yel-yel dengan visi misi yang mereka ucapkan dari kelompok masing-masing.


Mengitari kampus yang lumayan luas membuat Andini merasa lelah. Dia usap keringat yang membanjiri pelipisnya. Dia melepas jas almamater milik Arka dari tubuhnya saat kegiatan hari itu telah usai. Inginnya dia bawa pulang lalu dia cuci karena jas itu pasti telah bercampur dengan keringatnya setengah harian itu. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan karena hal itu bisa saja membuat Eza salah paham.


Andini melipatnya. Dia mencari Arka di deretan senior yang telah bubar tapi sosok itu tidak ada di sana.

__ADS_1


"Ra, ini gimana cara kembaliin ke Kak Arka?" tanya Andini dengan pandangan yang masih mencari sosok itu.


"Gue temani cari orangnya ya, kalau gak ada titipin ke temannya saja."


Rara dan Andini berjalan menuju ruang BEM. Ya, mungkin saja Arka sedang berada di sana. Mereka melangkah ragu, apalagi saat beberapa senior cowok menggoda mereka.


Mereka menghentikan langkahnya di depan ruang BEM. "Hmm, maaf Kak. Ini tolong kasih ke Kak Arka. Aku..." Sebenarnya Andini ingin menitipkan jas itu pada temannya saja tanpa harus bertemu langsung dengan orangnya tapi temannya justru memanggil Arka tanpa mengambil jas dari tangan Andini.


"Oo, Arka. Arka lo dicari nih!" panggilnya cukup keras sambil berlalu.


Beberapa saat kemudian Arka keluar sambil tersenyum.


"Kak, terima kasih." Andini memberikan jas almamater itu pada pemiliknya.


Arka menerimanya sambil tetap tersenyum. "Iya, sama-sama. Selamat bergabung di kampus kita ya."


Andini hanya mengangguk sambil tersenyum kecil lalu dia segera mengajak Rara untuk pergi dari tempat itu.


Seiring kepergian mereka berdua, Arka menghirup dalam aroma jas almamaternya. Wangi Andini, tentunya.


"Woy, udah jasnya gak usah dicuci sampai ntar." satu tepukan dari temannya berhasil menyadarkan Arka.


Arka hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali masuk ke ruang BEM.


Sedangkan Andini semakin mempercepat langkahnya.


"Nanti Pak Eza suruh buat stempel Din."


"Buat stempel dahi lo dengan tulisan sold out biar gak ada yang deketin."


Andini tertawa mendengar candaan Rara. Apa perlu seperti itu?


"Lo bisa aja. Habis ini juga gak bakal ketemu dengan senior kan. Lagi pula kita beda jurusan. Setelah ini gue juga mau jadi jenis mahasiswa kuliah pulang kuliah pulang aja."


Mereka masih mengobrol sampai keluar dari gerbang kampus.


"Eh, suami lo jemput tuh." tunjuk Rara pada mobil Eza yang berhenti tak jauh dari kampus.


"Loh, Mas Eza. Kirain Kak Rendi yang jemput. Bareng yuk, Ra."


"Gak usah Din. Gue bisa pulang sendiri kok udah pesan gojek barusan. Lo duluan aja gak papa."


Andini segera berjalan menuju suaminya yang sedang menunggunya di sisi mobil. Dia tersenyum menyambut kedatangan Andini.


"Rara gak mau bareng?"


"Gak mau Mas. Kayaknya udah pesan gojek."

__ADS_1


"Oiya, lupa ada Rendi."


"Kak Rendi?"


"Iya tuh, lagi nyamar jadi gojek."


Andini menoleh Rara yang sekarang sedang naik ke atas motor seseorang yang berjaket gojek.


"Ya ampun ada-ada aja Kak Rendi."


"Namanya juga usaha. Ya udah yuk pulang."


Mereka masuk ke dalam mobil lalu beberapa saat kemudian mobil Eza melaju meninggalkan kampus.


"Mas Eza tumben udah pulang?"


"Iya, semua kerjaan udah selesai. Dan ini juga udah sore waktunya pulang kantor. Gimana kegiatannya hari ini?"


Andini menyandarkan dirinya di jok mobil. Dia nampak begitu lelah. "Capek Mas. Kegiatannya padat banget."


"Duh, kasian sampai keringetan gini." Tangan kiri Eza terulur untuk mengusap titik-titik keringat yang muncul di pelipis Andini. "Tapi besok sudah kuliah seperti biasa kan?"


"Iya Mas besok ada kuliah pagi aja." Andini memejamkan matanya merasakan lembutnya usapan dari tangan Eza.


Eza hanya tersenyum. Dia fokus menyetir dengan sebelah tangannya karena jalanan siang itu terpantau cukup lancar.


Andini semakin terlelap. Napasnya sudah teratur.


"Udah tidur." Eza menyudahi usapannya. Dia kembali fokus pada jalanan sore itu. Beberapa saat kemudian dia sudah menghentikan mobilnya di halaman rumahnya.


Satu kecupan mendarat di pipi Andini yang membuat pemilik pipi putih itu bergeliat.


"Udah sampai. Mau aku gendong?"


"Gak usah Mas. Biar aku jalan sendiri aja." Andini berusaha membuka matanya.


"Sini, biar melek." Eza mendekatkan dirinya menempelkan bibirnya dan mulai bermain menyusuri bibir Andini yang tanpa persiapan itu. Dia gigit kecil bibir bawahnya lalu dengan hisapan cukup dalam dia lepas pagutannya.


Hal itu sukses membuat mata Andini terbuka lebar. Dia pegang bibirnya yang terasa berdenyut nikmat karena ulah suaminya barusan.


"Udah yuk, sayang banget belum bisa lanjut ke next adegan."


Mereka keluar dari mobil sambil tersenyum lalu berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam rumah.


💞💞💞


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya.. 😘


__ADS_2