
Yang sedang menjalankan puasa, harap dibaca malam hari ya.. Atau skip skip next aja.. ðŸ¤
...✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨...
Andini tersenyum kecil. Dia kembali memandang dirinya di depan cermin. Lalu membuka setelan kimononya hingga kini terlihatlah lekuk tubuh indahnya yang hanya terbalut dengan gaun tidur berwarna merah yang minim.
Belum juga 5 menit, pintu kamar mandi sudah kembali terbuka. "Loh, Mas cepat banget mandinya." Andini kini menatap suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya memakai bathrobe.
Eza berjalan mendekati Andini dengan sorot mata yang telah diliputi gelora. Melihat gaun tidur warna merah yang sangat kontras dengan kulit putih Andini itu, semakin membakar gairah Eza.
"Kamu makin cantik sih." Eza mendekapnya dari belakang lalu mengangkat tubuh Andini. Dia naik ke atas ranjang dan bersandar di headboard dengan Andini yang telah berada di pangkuannya.
Eza semakin mendekap Andini dengan bibir yang telah singgah di leher jenjangnya. Mengusapnya lalu menyesapnya, memberi tanda kepemilikannya di belakang leher istrinya.
"Hmm, Mas." Andini semakin meremang saat tangan Eza telah menyingkap gaun minimnya itu ke atas. Jari tangannya telah beroperasi dengan gerak melingkar kemudian keluar masuk yang semakin lama terasa semakin licin.
Tangan Eza satunya telah berhasil meloloskan gaun tidur itu hingga tubuh Andini sudah terekspos sempurna. Benda sintal itu secara bergantian Eza re mas dengan tangan kirinya. Sedangkan bibirnya masih dengan asyik menyusuri punggung mulus Andini.
Tubuh Andini semakin melengking ke belakang saat jemari Eza memainkan sumber kenikmatan yang berada di bawah sana. Dia gigit bibirnya merasakan kenikmatan yang semakin lama semakin menjalar ke seluruh tubuh.
"Udah siap sayang? Malam ini akan jadi malam yang panjang buat kita." bisik Eza di telinga Andini yang membuat bulu kuduk Andini berdiri. Merinding karena membayangkan kenikmatan.
Eza melepas bathrobe nya tanpa menurunkan Andini dari pangkuannya.
"Udah siap nih di bawah kamu. Kamu masukin aja."
Wajah Andini memerah. Bagian tubuh Eza yang telah membuatnya mabuk kepayang itu memang sudah stand by. Andini memegangnya, mengusapnya sesaat lalu mengarahkannya pada miliknya.
"Euhmm, sayang. Setelah sekian lama akhirnya..." Eza memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang tiada tara. Kedua tangannya kini menangkup kedua benda sintal yang ikut bergerak seiring gerakan Andini di atas pangkuannya.
Tangan kanan Eza turun ke bawah, dengan jari telunjuknya kini dia mengusap sebuah benda kecil yang akan semakin membuat Andini melambung tinggi.
"Hah, Mas." Andini semakin mende sah. Dia semakin mempercepat gerak tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang jangan keras-keras suaranya. Kita di rumah Mama." Tangan kiri Eza kini sedikit membekap bibir Andini.
Napas Andini semakin tersenggal, sensasi yang diberikan suaminya benar-benar luar biasa. "Mas Eza sih, jarinya jangan di situ Mas aku jadi gak tahan."
Bukannya berhenti Eza semakin menjadi. Dia kini semakin beradu gerakan dari bawah.
Tubuh Andini menggelinjang sesaat dengan bibir yang kini menggigit jari Eza karena hampir saja suara kenikmatannya lolos dengan keras.
Dengan gerak cepat Eza kini membalik tubuh Andini dan berada dalam kendalinya. Mereka saling bertatapan. Sedetik kemudian Eza mencium bibir Andini dengan liar. Menyesapnya dan menemukan indera pengecap mereka untuk saling bertukar saliva.
Eza kembali memasukinya. Miliknya masih menegang dengan semangat juang. Dia lepas pagutannya lalu tangan kanannya menyatukan kedua tangan Andini dan dikuncinya di atas kepala.
Pemandangan yang sangat indah saat dada itu ikut bergerak seiring hujamannya. Sangat menantang yang selalu berhasil memanggil bibir Eza untuk singgah.
Eza kembali menyusuri leher putih Andini. Memberinya tanda merah yang semakin lama semakin turun ke bawah dan berhenti di tempat favoritnya. Menyesapnya dan memberi gigitan-gigitan kecil pada puncak yang menegang itu.
Andini hanya menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara kenikmatan yang hampir lolos dari bibirnya.
Eza terus menghujamnya seperti seekor singa yang sedang kelaparan. Dengan tempo yang cukup cepat dan sangat dalam.
Eza melepaskan tangan Andini yang kini langsung melingkar di lehernya. Rema san yang cukup kuat dan diiringi kedutan di bawah sana pertanda Andini sudah mencapai puncak untuk kedua kalinya.
Tidak ada tanda-tanda dari Eza untuk menyudahinya. Eza semakin menggencarkan serangannya. Tenaganya masih penuh di atas tubuh Andini yang sudah lemas untuk kedua kalinya.
"Tumben cepat keluarnya? Pasti kamu udah pengen banget ya," kata Eza yang masih saja aktif bergerak di atas Andini.
"Mas Eza nih yang kayaknya lama."
"Kan aku udah bilang, kita akan menghabiskan malam yang panjang. Kamu rasakan ya, nanti bakalan luber-luber di dalam sana."
"Ih, Mas Eza."
"I love you..."
__ADS_1
"I love you too.."
Mereka kembali menyatukan bibir mereka dengan lembut yang semakin lama semakin menuntut. Keringat yang telah membasahi kulit mereka kini menjadi satu. Udara terasa semakin memanas di dalam kamar yang luas dan ber-ac itu yang dihiasi dengan lenguhan tertahan dari dua sejoli yang sedang memadu cinta.
Andini sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia akan mencapai puncak kenikmatannya untuk yang ketiga kalinya.
Eza tersenyum, dia tatap istrinya yang sudah terlihat lelah di bawah kendalinya. Apa dia akan segera mengakhirinya? Tentu saja tidak. Dia semakin mempercepat tempo gerakannya. Benar-benar menggebu seolah tenaganya tak akan habis.
Eza mengerang tertahan saat dia menumpahkan hasratnya. Berkedut beberapa kali hingga rasa hangat itu terasa memenuhi perut bawah Andini.
Eza tersenyum lalu mengecup kening istrinya sebagai tanda cinta. Dia kini melepas penyatuannya dan beralih ke sisi Andini.
"Berenang yang kuat ya, biar cepat jadi pemenang," ucap Eza sambil mengusap perut rata Andini.
Andini tertawa kecil mendengar celoteh Eza, lalu dia menenggelamkan dirinya di dada Eza dan mulai memejamkan mata.
"Sayang, ngantuk?"
"Iya Mas, capek."
"Yah, satu kali lagi ya..."
"Hemm..." Andini tak menyahutinya. Tubuhnya sudah terasa lelah tapi kali ini Eza sepertinya tidak akan membiarkan Andini tidur terlebih dahulu. Dengan tetap dalam posisi miring, Eza membuka kaki Andini dan mulai memasukinya lagi.
"Mas, gak ada capeknya ya." Andini mulai berpegangan leher Eza saat lagi-lagi suaminya itu mengguncang dirinya.
"Masih full sayang. Sekali ini lagi, setelah itu lanjut besok."
"Ih, masih ada besok lagi."
"Iya dong, besok kan hari Minggu kita habiskan seharian di apartemen ya. Biar suaranya gak tertahan kayak gini lama-lama jari aku bisa putus kamu gigit," Eza tersenyum kecil karena saat ini dia harus sesekali mempersiapkan jarinya untuk digigit Andini saat akan berteriak nikmat.
"Mas Eza." Andini mencubit kecil bahu Eza.
__ADS_1
Bibir boleh berkata capek, tapi tubuh Andini begitu merespon setiap pergerakan Eza bahkan dia sudah dibuat meletup berkali-kali malam itu.