
"Sore Pak, ada yang bisa kami bantu?"
Pak Eza duduk sambil melihat selebaran dan beberapa buku katalog. "Paket perawatan lengkap dan kualitas terbaik. Yang ini saja."
Andini hanya melebarkan matanya. Pak Eza tidak main-main. Jika memang ini hutang, sepertinya dia memang harus mencicilnya seumur hidup.
"Eh, tidak usah. Saya cuma mau facial saja."
Pak Eza tak menggubris cicitan Andini.
"Baik Pak." seorang supervisor itu langsung memanggil seseorang agar segera melayani Andini dengan penjelasan singkat yang langsung dimengerti.
"Mari mbak, ikut saya."
Dengan terpaksa Andini menurut. Dia tidak mau berdebat lagi. Apa yang menjadi mau Pak Eza benar-benar sangat sulit dia tolak.
Pak Eza masih saja mengobrol dengan supervisor salon itu.
"Ini paket ms glow lengkap, Pak. Dengan harga segini sudah sepaket ini, ini, ini, dan ini."
"Baik, saya ambil itu."
"Iya Pak. Mau cash atau pakai kartu?"
"Pakai kartu kredit saja."
Setelah melakukan pembayaran, Pak Eza kembali duduk di sofa. Dia memang sudah berniat menunggu Andini walau sampai beberapa jam sekali pun.
Dia memainkan ponselnya lalu mengirim
pesan pada asisten pribadinya.
Menunggu balasan yang ternyata tak juga muncul akhirnya Eza menghubunginya. "Rendi, lo baca pesan gue... Iya, sekarang mau kapan lagi.... Ya sudah, setelah semua lo beli segera ke salon cantika gue ada di sini...." Masih saja terdengar suara tawa di ujung sana. "Eh, breng sek lo, cepat kerjakan!!"
Eza memutus panggilannya dengan Rendi. Rendi memang asisten pribadinya sekaligus sahabat karibnya sejak kuliah. Dia sudah biasa mengatasi pekerjaan dan masalah pribadi Eza, seperti saat ini.
Setelah hampir satu jam, Rendi tiba di salon yang disebutkan Eza dengan membawa beberapa paper bag. Dia masuk dan mengedarkan pandangannya tapi sosok yang sering memberi tugas tak terduga itu tak terlihat. Dia akhirnya menghubunginya. "Bos dimana?"
"Heh! Di belakang lo!"
__ADS_1
Seketika Rendi menoleh. Dia tidak mengenali penampilan bosnya kali ini. "Kirain bapak-bapak yang lagi nunggu istrinya tadi. Haha.. Ngapain sih bos pake nyamar segala." Rendi kini duduk di sebelah Eza sambil menyerahkan pesanan sesuai yang diminta.
"Ssstt, diem. Ini strategi."
"Yaelah bos. Deketin cewek langsung aja to the point gak usah pakai strategi samar-samar."
Eza tak menggubris. Dia justru mengecek hasil pembelian Rendi termasuk baju gantinya. "Bagus kan ini?"
"Baguslah. Jangan di ragukan lagi selera seorang Rendi penakluk wanita."
"Ya udah lo balik aja sekarang."
"Oiya lupa. Bos kapan ke kantor? Di tanyain terus sama Bapak."
"Bilang aja gue belum datang. Kamu handle semua dulu untuk beberapa hari ini. Selanjutnya biar gue datang siang ke kantor. Mama sama Papa kan masih lama di luar negri."
Rendi menggaruk kepalanya mendengar perintah bosnya yang kadang suka berlebihan memberi tugas untuknya. "Waduh, bos gue jadi gak bisa kencan dong. Beberapa hari ini ada meeting penting berturut-turut. Belum lagi besok Pak Satya akan ke kantor untuk membahas proyek barunya."
"Udah, lo tangani aja. Lo kan bisa. Nanti gue kasih tips buat liburan sama pacar lo."
Rendi berdengus kesal. Selalu bilang liburan-liburan tapi ujung-ujungnya tidak jadi libur. "Bos lebih suka jadi guru kan sekarang biar ketemu cewek SMA yang seger-seger. Jadi mending biar gue aja yang jadi CEO."
Eza menatap tajam Rendi walau dia tahu Rendi sedang bercanda. "Berani lo. Besok biar langsung gue deportasi lo ke pelosok Afrika."
Eza menggelengkan kepalanya lalu dia menuju toilet sambil membawa baju gantinya. Dia berniat membersihkan dirinya terlebih dahulu karena dia ingin mengajak Andini ke suatu tempat sebelum pulang.
Setelah selesai, Eza memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil termasuk skin care yang telah di beli untuk Andini, kecuali satu paper bag yang sengaja dia tinggal di salon yang berisi baju ganti untuk dipakai Andini.
Eza masih setia menunggu Andini. Dia kini menyibukkan dirinya dengan ponsel untuk mengecek beberapa e-mail yang masuk. Entahlah harus butuh waktu berapa jam sampai Andini selesai.
"Pak Eza masih nungguin di sini?"
Suara itu berhasil membuat pandangannya mendongak. Dia hampir tidak percaya dengan seseorang yang sekarang sedang berdiri di depannya adalah Andini. Dengan penampilan yang baru, Andini sudah berubah menjadi gadis yang sangat cantik dengan rambut panjang lurus yang tergerai. So beautifull.
Eza berdiri lalu perlahan dia melepas kacamata Andini. "Perfect."
"Hmm, Pak..."
"No, seperti ini baru sempurna. Ini kacamata minus? Kalau gitu kamu bisa pakai lensa."
__ADS_1
"Tapi Pak?" Andini masih belum percaya diri dengan penampilannya saat ini.
"Mau ngalahin Clarissa kan? Kamu jauh di atas Clarissa."
Pipi Andini bersemu merah. Dia kini hanya terdiam tak ingin menatap netra Eza yang terus menatapnya.
"Kamu pakai ini ya? Aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Eza mengulurkan satu paper bag pada Andini.
Andini hanya mengernyitkan dahinya. Apalagi mau Pak Eza? "Tapi..."
"Jangan menolak..."
Akhirnya Andini menurutinya. Dia menuju toilet dan berganti baju dengan baju pilihan Eza, ralat baju pilihan asisten Eza, si Rendi.
Beberapa saat kemudian Andini keluar dari toilet dan berjalan mendekati Pak Eza. Dia masih saja menundukkan pandangannya, tidak percaya diri.
Senyuman semakin mengembang di bibir Eza. Gaun floral selutut yang dipadu dengan cardigan warna senada sangat pas di tubuh Andini. Tidak salah dia menyuruh asisten playernya itu.
"Cantik.." gumam Eza sambil menatap lekat Andini yang masih saja menunduk malu. "Ikut aku ya..."
"Ke-kemana?" Andini hanya meremas paper bag yang masih dia pegang saat tangan kanannya di tarik oleh Eza.
"Kamu duduk di depan saja ya. Di belakang ada barang." kata Pak Eza yang telah membukakan pintu depan. Sebenarnya itu hanyalah alasan. Toh, barang di belakang hanya ada tiga paper bag yang akan diberikan pada Andini.
Andini menjadi salah tingkah. Dia merasa diperlakukan spesial oleh seseorang yang baru dia kenal. Bahkan dia adalah gurunya, dia hanya menggelengkan kepalanya sambil menepis pikiran kotor yang lagi-lagi singgah di kepalanya.
"Antar saya pulang saja ya Pak." kata Andini saat Eza tengah duduk di kursi pengemudi.
Eza hanya tersenyum penuh arti. Benar-benar dia seorang lelaki tanpa penolakan walau caranya begitu halus seolah tanpa pemaksaan.
Sedetik kemudian, mobil Eza sudah melaju meninggalkan tempat parkir. Tak butuh waktu lama karena di daerah itu memang ada restoran mewah. Eza membelokkan mobilnya ke tempat parkir.
Lagi, Andini dibuat bertanya-tanya. Apa maksud Pak Eza melakukan semua ini untuknya?
"Yuk?" Eza memberinya kode agar bersiap untuk turun. "Kita dinner dulu."
"Hmm, maaf. Ini terlalu berlebihan. Apa makan malam ini juga termasuk dalam cicilan?"
Eza hanya tersenyum.
__ADS_1
"Sebenarnya Bapak siapa? Kita baru saja kenal, tidak mungkin Pak Eza memberi ini semua secara cuma-cuma. Dan lagi pula saya tidak pantas makan di restoran mahal seperti ini..."
Eza hanya tersenyum sambil menatap lekat netra Andini yang nampak ragu-ragu menatapnya. "Aku....."