
Eza menghentikan obrolannya saat melihat Andini tiba-tiba menutup mulutnya dan berlari menuju toilet.
"Sayang, kenapa?" pertanyaan Eza sudah tidak dijawab Andini.
"Maaf, saya permisi dulu." Eza bangun dari duduknya lalu segera melangkahkan kakinya cepat menuju toilet.
Dia menghentikan langkahnya di depan toilet karena ada Stefi dan temannya sedang mengobrol di ambang pintu.
Mendengar Stefi yang terus menghina Andini, Eza tak tinggal diam. Dia masuk ke dalam toilet dan langsung merengkuh tubuh istrinya.
"Kamu gak papa kan sayang? Udah yuk, lebih baik sekarang kita pulang aja." Eza mengajak Andini berjalan keluar dari toilet meninggalkan Stefi.
"Eza, Eza, bisa-bisanya ya kamu bucin sama cewek kayak dia."
Eza menghentikan langkahnya sesaat. "Setidaknya istri aku jauh lebih baik daripada kamu." Lalu mereka berdua pergi meninggalkan Stefi yang semakin geram.
Mereka langsung berjalan keluar dari restoran tanpa kembali lagi ke meja makan.
Setelah sampai di tempat parkir, mereka segera masuk ke dalam mobil.
"Sayang, kamu pucat gini? Kamu gak papa?" tanya Eza saat sudah duduk di dalam mobilnya. Dia usap rambut Andini yang sedikit berkeringat.
"Cuma mual aja Mas. Kayaknya gak cocok sama makanannya."
"Kamu minum dulu ya." Eza membukakan air mineral yang selalu tersedia di mobilnya.
Andini mengambil botol itu dan segera meminumnya. Setelah itu dia mengambil permen karena rasa mual itu masih saja tersisa.
Tangan Eza masih setia mengusap punggung Andini berharap rasa mual itu segera hilang.
"Maaf ya Mas. Aku udah buat Mas Eza malu."
"Malu? Kenapa harus malu. Udah gak usah dipikirkan. Acara kayak gini itu gak penting."
Tiba-tiba saja Andini menangis terisak. Entahlah, mengapa tiba-tiba hatinya sangat sensitif. "Tapi aku merasa gak pantas sama Mas Eza."
"Sayang, kok nangis? Udah jangan dipikirkan omongan mereka. Kamu itu jauh lebih baik dari pada mereka. Kamu lihat kan, percuma mereka kaya tapi tidak punya sopan santun." Eza menghapus beberapa bulir air mata yang berhasil lolos di pipinya. "Jangan nangis lagi ya. Kamu punya aku." tangan itu kini menangkup kedua pipi Andini. "Kamu istri dari Eza yang jelas lebih kaya dari mereka semua."
"Kok sombong sih Mas." perasaan Andini mulai menghangat, dia kini bisa sedikit tersenyum kecil.
"Ya, terkadang untuk membangun rasa percaya diri itu harus sombong." Eza tertawa kecil dengan ucapannya yang memang asal. "Kamu sekarang mau makan apa?" tangan Eza beralih menggenggam tangan Andini.
"Mau sate." jawab Andini secara spontan. Seolah sedari tadi dia sudah menginginkan makanan itu.
"Sate? Ya udah kita mampir ke depot barokah ya."
Andini menggelengkan kepalanya. "Gak mau. Aku mau sate yang ada di pinggir jalan mau ke apartemen itu."
"Oo, sate madura itu? Ya udah nanti kita bungkus ya."
"Gak mau. Aku maunya makan di sana Mas Eza yang suapin."
__ADS_1
Eza justru tersenyum. "Serius? Biasanya kamu malu nunjukin kemesraan di tempat umum."
"Aku lagi pengen gitu. Ya? Apa Mas Eza yang malu makan di pinggir jalan?
"Malu? Ngapain? Aku juga udah biasa makan dipinggir jalan. Tapi aku mau ini dulu.."
"Mau apa?"
Eza mendekatkan dirinya mencium bibir Andini dengan lembut lalu menyesapnya sesaat. Setelah itu dia kembali menegakkan duduknya dan mulai melajukan mobilnya.
Jalanan yang tidak terlalu macet malam itu membuat mobil Eza segera sampai di penjual sate yang berada di pinggir jalan dekat apartemen mereka.
Setelah mobil mereka berhenti, mereka segera keluar dan berjalan menuju tukang jual sate yang berada di dekat trotoar dengan bangunan semi yang sebagian besarnya ditutup dengan terpal.
"Pak, sate dua porsi pakai lontong ya. Makan di sini. Sama teh hangat dua."
"Iya, Pak. Silahkan ditunggu dulu Pak." Penjual sate itu segera membakar sate pesanan Eza. "Bapak sama Ibu darimana ganteng dan cantik begini?" penjual sate itu mengajak Eza berbicara.
"Dari acara pertemuan Pak." jawab Eza, sedangkan Andini pandangannya terus tertuju pada sate yang tengah dibakar seolah dia sudah tidak sabar memakannya.
"Bapak yang tinggal di apartemen mewah itu ya? Saya sering lihat mobil Bapak lewat sini."
"Iya, Pak."
"Jarang-jarang ada orang kaya mampir ke tempat saya. Ternyata bapak ramah juga. Bapak sudah punya anak?"
"Belum, Pak. Masih proses." jawab Eza sambil tersenyum kecil. Iya, tiap hari sudah dia proses tinggal menunggu hasilnya.
"Iya, amin. Terima kasih Pak."
Beberapa saat kemudian pesanan mereka telah siap.
Sate beserta lontong sudah ada di hadapan Andini. Matanya berbinar senang. "Mas suapin.." rengek Andini yang memang tidak seperti biasanya.
"Iya," Eza menuruti keinginan Andini. Dia menyuapinya dengan senang hati, apalagi saat Andini memakannya dengan lahap. Sesekali dia juga memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.
"Enak? Mau nambah lagi?"
Andini menganggukkan kepalanya. "Tapi dibungkus ya Mas."
Eza tersenyum lalu memesan lagi sate 30 tusuk untuk dibungkus, tidak lupa juga lontongnya.
Setelah menghabiskan teh hangat, kini perut Andini merasa kenyang. Rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya.
Eza segera membayarnya setelah pesanan mereka siap. "Berapa Pak?
"Jadi total seratus ribu Pak."
Eza mengeluarkan dua lembar uang kertas warna merah.
"Maaf Pak, uangnya kebanyakan."
__ADS_1
"Gak papa. Buat Bapak saja."
"Terima kasih ya, Pak. Semoga selalu berbahagia bersama istrinya."
"Iya Pak. Amin."
Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil dan mobil mulai melaju menuju apartemen.
Hanya satu menit, mobil itu sudah berhenti di tempat parkir.
Andini sudah menguap beberapa kali sambil berjalan dalam rengkuhan Eza.
"Udah ngantuk banget kelihatannya."
"Iya Mas. Ngantuk banget."
Setelah masuk ke dalam apartemennya, Andini langsung berjalan menuju kamar. Dia kini justru duduk di tepi ranjang sambil terus menguap.
"Ganti baju dulu ya. Aku ambilin."
"Sebentar Mas, mau ke kamar mandi dulu cuci muka." Andini berjalan gontai menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian Andini keluar. Wajahnya sudah terlihat segar dengan memakai bathrobe saja.
Eza menatap Andini heran. Tadi dia sangat mengantuk sekarang sudah segar. Apa karena terkena air rasa kantuknya langsung hilang. "Sudah gak ngantuk?"
"Iya Mas, kena air ngantuknya tiba-tiba hilang."
"Ya udah pakai baju dulu. Nih, udah aku ambilin."
Tiba-tiba saja Andini memeluk tubuh Eza yang sudah bertelanjang dada itu. "Makasih ya, Mas Eza selalu ngertiin aku."
Eza mengeratkan pelukannya. "Sama-sama sayang."
"I love you." Andini kini mendongak sambil menatap kedua bola mata Eza yang sangat menentramkan hati itu.
"I love you too."
Mereka sama-sama mendekat. Mulai memagut semakin dalam dan menuntut.
Tangan Eza sudah berhasil melepas tali bathrobe Andini.
Mereka melepas ciuman mereka dengan napas yang sudah sama berat.
"Mas, aku mau di atas."
Bisikan Andini berhasil meningkatkan adrenalin Eza....
.
.
.
__ADS_1
🤭🤭🤭