Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Harus Pakai Bodyguard?


__ADS_3

"Arka, apa yang terjadi?"


"Andini hampir saja terjatuh, Pak." jawab Arka dengan segenap rasa takutnya.


"Astaga." Eza membuang napas kasar. Pantaslah istrinya sampai menangis dan ketakutan seperti ini, pasti rasa traumanya kembali muncul lagi. "Kenapa bisa hampir jatuh?" tanya Eza karena dia bisa menangkap rasa takut beberapa orang yang berdiri di tempat itu. "Arka?"


Lagi-lagi Arka yang menjadi sasaran Eza.


Tapi belum juga Arka menjawab, Vita unjuk suaranya. "Maaf Pak, itu kesalahan saya. Saya sudah salah paham dengan istri bapak. Saya kira istri bapak punya hubungan spesial sama Arka."


"Jadi karena masalah hati kamu sampai mau mencelakai seseorang. Kalian ini sudah kuliah kenapa masih belum bisa dewasa?!"


"I-iya Pak maaf." Vita menggigit bibir bawahnya. Melihat kemarahan Eza kali ini dia merasa benar-benar takut. Satu kebodohannya yang hampir saja berakibat fatal. Pantaslah Arka tidak pernah mau menerimanya.


"Sayang, ada yang sakit gak?"


Andini menggelengkan kepalanya yang membuat hati Eza sedikit lega. "Istri aku sebelumnya pernah keguguran makanya dia sampai trauma seperti ini. Kalian bisa bayangkan, bagaimana rasanya kalau seandainya hal itu terulang lagi! Kalian sama-sama perempuan harusnya mengerti."


Perkataan Eza membuat ketiga hati perempuan ini mencelos.


"Kita periksa saja ya. Kamu bisa jalan? Atau mau aku gendong?" tanya Eza pada Andini yang masih terisak.


"Bisa Mas."


Eza membantu Andini berdiri, dengan rengkuhannya Eza menuntunnya menuju mobil.


"Sayang, sudah jangan nangis. Jangan stress gak baik." kata Eza sambil menghapus air mata Andini yang kini sudah berada di dalam mobil.


"Aku takut kejadian itu terulang lagi Mas. Aku merasa gagal jagain calon anak kita."


"Jangan bilang kayak gitu. Itu salah mereka, bukan salah kamu." tangan Eza kini beralih mengusap lembut perut Andini. "Sayang, bilang sama bunda, jangan sedih lagi ya kita di dalam sini baik-baik saja."


Terukir senyum tipis di bibir Andini meski masih berderai air mata.


"Beneran gak sakit kan?"


"Gak sih Mas. Cuma kayak kaku aja. Mungkin karena kaget barusan."

__ADS_1


"Ya sudah kita periksa saja ya biar aman. Semoga tidak terjadi apa-apa." Satu kecupan mendarat di pipi Andini. "Udah, jangan nangis lagi."


Beberapa saat kemudian mobil Eza sudah melaju meninggalkan kampus. Dia segera menuju RSIA Melati Husada. Kebetulan saat itu tidak terlalu ramai pengunjung jadi Andini segera ditangani. Serentetan pemerikasaan dilakukan dan hasilnya baik-baik saja. Hanya tekanan darah Andini yang masih cukup rendah.


"Syukurlah, semua baik-baik saja. Kamu banyak istirahat ya biar gak darah rendah lagi." kata Eza sambil mengendarai mobil menuju rumahnya.


Andini menganggukkan kepalanya. Dia sendiri tak hentinya mengusap perutnya.


"Kamu gak usah kuliah dulu ya, aku jadi khawatir sama kamu." kata Eza dengan pandangan yang masih lurus ke depan.


Seketika Andini menatap Eza. Dia hentikan gerak tangannya. "Gak kuliah? Dulu kan Mas Eza yang nyuruh aku kuliah, sekarang nyuruh aku berhenti."


"Gak berhenti, tapi ditunda dulu sampai kamu melahirkan baru lanjut kuliah lagi."


Andini mengerutkan dahinya. "Terus kalau gak kuliah aku mau ngapain Mas di rumah. Gak ngapa-ngapain, cuma tiduran aja gitu?"


"Terus kamu maunya gimana?"


"Tetap kuliah."


"Ya sudah, pakai bodyguard aja ya."


"Kenapa? Gak mau?" Eza melirik Andini yang sedang bermuram diri.


"Iya aku ngerti Mas. Aku memang gak bisa jaga diri."


Mendengar kalimat merajuk seperti itu, Eza memilih untuk diam sampai Eza menghentikan mobilnya di depan rumah.


"Sayang marah?" tanya Eza dengan tangan yang sudah terulur untuk mengusap rambut Andini.


"Marah pada diri sendiri aja," ucapnya sambil turun dari mobil. Dia kini meninggalkan Eza lalu masuk ke dalam rumah. Kebetulan Bu Sonya dan Pak Handoko sedang tidak ada di rumah sehingga tidak ada pertanyaan-pertanyaan untuk mereka berdua.


Andini meletakkan tasnya. Lalu dia duduk di tepi ranjang. Pikirannya kembali kacau lagi. Mengapa juga mood nya bisa berubah dengan cepat.


"Sayang, maaf kalau aku salah bicara." Eza kini duduk di sebelah istrinya. Merengkuh tubuhnya sambil mengusap pelan bahu istrinya.


"Nggak Mas. Aku ngerti kalau Mas Eza gak mau terjadi apa-apa sama kandungan aku. Aku aja yang gak bisa jaga diri. Selalu teledor." Andini menundukkan pandangannya. Matanya sudah dipenuhi kaca.

__ADS_1


"Sayang bukan kayak gitu. Ya sudah, gak usah dipikirkan soal omongan aku tadi."


Andini hanya terdiam.


"Seorang wanita itu istimewa apalagi saat mengandung. Jika terjadi apa-apa sama kamu justru semua itu salah aku. Aku yang teledor, aku yang gak bisa jagain kamu." Tangan Eza kini memeluk tubuh Andini. "Aku sayang sama kamu dan kedua calon anak kita. Aku akan selalu lakukan yang terbaik untuk kalian."


Perasaan Andini mulai menghangat.


"Kamu mau seperti apa? Aku akan turuti kemauan kamu, senyaman kamu. Apa perlu aku jadi dosen di kampus?"


Andini kini sudah bisa tertawa kecil. "Kayak biasanya aja Mas. Mereka semua sekarang sudah tahu, kalau aku istrinya Mas Eza. Gak akan terjadi apa-apa lagi."


"Ya sudah. Kalau itu mau kamu. Tetap hati-hati ya." beberapa kecupan kini mendarat di pipi Andini.


"Iya Mas."


...***...


"Arka!!" Vita masih saja mengikuti langkah Arka. "Arka tunggu."


"Mau apalagi sih Vit?" Arka menghentikan langkahnya di depan ruang BEM.


"Gue mau minta maaf."


"Minta maaf itu sama Andini, bukan sama gue."


"Iya, gue mau maaf sama Andini. Gue menyesal Ka."


Arka menghela napas panjang. "Jadikan ini pengalaman buat lo. Lain kali jangan asal tuduh sembarangan." tanpa menunggu jawaban dari Vita, Arka masuk ke dalam ruang BEM. Dia kini duduk sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Pusing?" satu tepukan keras membuat Arka kini menatap temannya yang duduk di sampingnya. "Gak nyangka kisah cinta lo tragis kayak gini."


"Udah deh Do. Gak usah bahas soal itu. Gue udah gak mau mikirin perasaan gue.


"Iya, gue tahu. Gak boleh mencintai istri orang tapi kenapa lo gak terima aja salah satu dari fans lo itu."


Arka menyandarkan dirinya sambil melipat tangannya. "Kalau kayak gitu, gak ada tantangannya."

__ADS_1


Aldi hanya mencebikkan bibirnya. "Halah, jangan sok jaim deh. Mau sesuatu yang sangat menantang ya jadi pebinor aja." Aldo tertawa keras di ujung kalimatnya.


Satu tabokan mendarat di lengan Aldo. "Gila lo!! Gue masih waras. Masih tahu dosa!!"


__ADS_2