Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Di dalam


__ADS_3

Harap dibaca malam hari ya... 🤭


...✨✨✨✨✨✨✨...


Hari-hari yang dilalui Andini semakin indah. Sudah tidak ada lagi yang mengganggu ketenangan hidupnya untuk saat ini.


Cintanya pada Eza, semakin hari juga terasa semakin besar. Hubungan mereka semakin terasa harmonis. Perlakuan istimewa Eza semakin hari juga semakin bertambah. Tidak ada kata bosan dalam hubungan mereka, ya semoga terus seperti ini.


Sampai bulan berganti bulan, kini satu minggu lagi Andini akan mengikuti UNBK. Dia semakin giat belajar sambil ditemani Eza sebagai guru privat nya. Privat dalam segala hal pastinya.


"Udah paham?" tanya Eza setelah menjelaskan panjang lebar walau pasti dijawab anggukan ragu dari Andini sambil sedikit menggaruk lehernya.


Hal itu yang semakin membuat Eza gemas dengan istrinya yang sebentar lagi sudah selesai pendidikannya di SMA.


"Sudah ya. Kita belajar yang lain aja yuk?!" Eza tersenyum menggoda sambil merengkuh tubuh Andini.


"Belajar yang lain?" Andini mengernyitkan dahinya.


Eza tertawa penuh arti. "Belajar buat anak." satu usapan lembut di perutnya berhasil membuat gelenyar aneh di tubuhnya.


"Hmm, udah sering belajar itu Mas."


"Yang ini beda." Eza semakin mengeratkan pelukannya pada Andini lalu menciumnya dengan mesra. "Kamu kan bentar lagi sudah lulus. Hmm, aku lepasin di dalam aja ya..." Eza melepaskan pelukannya lalu mengemasi buku-buku yang ada di atas meja dan meminggirkannya. Setelah itu, Eza mengangkat tubuh Andini dan mendudukannya di atas meja.


"Gimana sayang?" tanya Eza lagi yang kini duduk di kursi yang lebih rendah dari Andini.


"Terserah Mas Eza. Aku nurut aja."


"Tapi apa kamu udah siap kalau seandainya jadi di sini?" tanya Eza sambil menenggelamkan dirinya di perut rata Andini.

__ADS_1


Andini tersenyum seraya mengusap rambut Eza. "Ya, siap Mas. Kan ada bapaknya."


Eza tersenyum mendengar jawaban Andini. Dia semakin mengendus perut Andini. Beberapa detik kemudian, tangannya sudah berhasil melorotkan celana Andini. Bibirnya kini berpindah pada sesuatu yang mempunyai aroma khas dan setiap kali Eza menyentuhkan bibirnya pasti akan membuat Andini mencerca tak karuan.


"Hmm, Mas.." Andini menahan tubuhnya dengan tangan agar tidak jatuh ke belakang sedangkan kakinya kini semakin terbuka, ingin merasakan permainan dari bibir Eza lebih dalam walau sebenarnya dia tidak ingin.


"Mas, nanti aku bisa keluar." Andini tak berhentinya mende sah. Rasanya semakin nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya.


Mendengar suara indah Andini, Eza semakin bersemangat. Dia tidak akan berhenti sebelum Andini mencapai puncaknya. Dia tahu persis setiap kali dia melakukan ini, Andini tidak akan tahan lama.


"Mas.." Napasnya semakin tersenggal. Tubuhnya mengejang beberapa saat lalu sedetik kemudian melemas.


Eza tersenyum bangga. Dia kini berdiri lalu mencium kening Andini.


"Ih, Mas Eza." terlihat wajah merah Andini yang sedikit cemberut.


"Kenapa sayang?"


"Memang mau apa? Barusan menikmati banget kan." tanya Eza. Kini tangannya mulai membuka kancing piyama Andini satu per satu.


Andini tersenyum malu. Tangannya juga ikut tergerak membuka kancing piyama suaminya. "Aku mau nyoba di atas, lagi."


Eza semakin tersenyum, kini dia berhasil meloloskan semua benang yang menempel di tubuh Andini. "Kita coba dulu di atas sini."


"Mas, ini kan meja belajar bukan meja buat ..." Eza membungkam bibir Andini dengan mulutnya. Mulai menjelajah dan menyusuri manisnya madu. Lalu melepasnya sesaat.


"Kan aku tadi bilang mau belajar yang lain. Kemarin kan udah di atas meja dapur."


Wajah Andini merona saat mengingat kemarin Eza bilang mau makan yang lain, ternyata Eza mau makan dirinya di atas meja dapur.

__ADS_1


Eza kembali menyatukan dirinya. Memagutnya dengan lembut yang selalu berhasil membuat Andini terbuai. Tangan kirinya menahan punggung Andini sedangkan tangan kanannya mulai memberi sensasi lebih di area favorit Eza.


Tangan Andini melingkar di leher Eza dan meremat ujung rambutnya.


Napas mereka terasa semakin berat. Eza melepas tautannya dan kini dia menatap paras cantik istrinya yang sedang dipenuhi gelora. Mengusap pipinya dengan lembut sambil mengucap kata cinta yang tak pernah bosan dia nyatakan.


Setelah melepas semua benang yang menempel di tubuhnya. Eza mulai memposisikan dirinya.


Tangan Andini sudah setia melingkar di leher Eza, karena jika tidak, Andini akan kelabakan dengan tubuhnya yang terguncang.


Andini sedikit melenguh saat benda yang telah mengeras berhasil memasuki dirinya. Bergerak secara berirama yang menimbulkan rasa nikmat keduanya.


Eza terus memberikan sensasi yang berbeda tidak monoton man on top. Bervariasi dan dimanapun yang membuat mereka selalu ingin melakukannya lagi, dan lagi. Ya, seperti di sofa ruang tamu, di balik pintu, di dapur, di dekat jendela, sampai di kamar mandi. Rasanya hampir setiap sudut apartemen sudah pernah mereka jadikan tempat penyatuan mereka.


Eza menenggelamkan dirinya di leher Andini. Memberi hisapan-hisapan kecil tanpa bekas merah.


"Hhmmm, Mas." Napas Andini semakin tersenggal. Gelombang-gelombang cinta itu benar-benar dahsyat menerpa dirinya. Andini semakin mengeratkan tangannya saat merasakan dirinya mencapai kenikmatannya.


Rema san dan rasa hangat di bawah sana membuat Eza ingin segera menuntaskannya. Dia semakin mendayung, menikmati setiap gesekan yang dia buat semakin cepat.


"I love you.." ucapnya yang diiringi era ngan kenikmatan saat miliknya berkedut di dalam sana dan menciptakan kehangatan yang baru pertama kali Andini rasakan.


Mereka sama-sama mengatur napas sambil saling menatap dan tersenyum. "Beda kan? Lebih enak pastinya."


Andini mengangguk malu.


Eza tak juga melepas dirinya. Dia kini menggendong Andini dan berjalan menuju ranjang lalu menjatuhkan tubuh mereka berdua di tengah ranjang.


"Lagi??" tanya Andini yang kini telah berada di bawah kendali Eza.

__ADS_1


"Yes, once again." Eza tersenyum karena miliknya sudah kembali menegang dan siap membawa Andini berpetualang tanpa jeda.


__ADS_2