Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Hal Manis


__ADS_3

"Enak banget nasi goreng buatan kamu." puji Eza setelah mencoba masakan Andini.


"Serius? Gak bohong kan?" tanya Andini lagi untuk memastikan. Karena biasanya Eza selalu berkata manis mungkin saja pujiannya kali ini hanya untuk menyenangkan hati Andini semata.


"Iya. Beneran. Sejujurnya aku itu lebih suka masakan rumah daripada restoran. Jadi kangen masakan Mama. Udah lama gak pernah makan masakan Mama sejak aku bisa mandiri dan Mama sering ikut keluar negeri." Setelah sedikit curhat, Eza segera makan dengan lahap.


Andini tersenyum. Dia sangat senang jika Eza menyukai masakannya. "Kalau gitu tiap hari aku masakin ya?"


"Tapi kalau capek jangan dipaksa. Sebisa kamu aja. Aku mau kamu tinggal sama aku bukan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tapi untuk menemani hidup aku." Tangan kiri Eza kini menggenggam tangan kiri Andini yang berada di atas meja dengan usapan kecil dari jempolnya. "Makasih."


"Sama-sama." Andini menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia melihat tangan Eza yang masih saja mengenggam tangannya sedangkan tangan kanannya beroperasi menggerakkan sendok ke dalam mulut. Hal sama yang dilakukan Andini. Meski sebenarnya makanan itu sulit sekali dia kunyah karena tindakan manis Eza ini membuatnya grogi untuk kesekian kalinya di pagi hari itu.


...***...


Andini berjalan di lorong kelas sambil menyembunyikan senyum bahagianya mengingat semua perlakuan Eza pagi itu. Entahlah, mengapa dia bisa sebahagia ini sekarang jika menerima perlakuan manis dari Eza.


"Wih, yang habis dapat pelanggan mukanya cerah bener."

__ADS_1


Andini hanya melirik jengah Clarissa yang mulai mengoloknya lagi. Dia tetap melangkahkan kakinya menuju kelas.


"Dasar gak tahu malu! Gak usah sekolah aja sekalian. Open BO seharian kan dapat banyak!"


Itulah Clarissa, kalau dibiarkan semakin menjadi. Andini menghentikan langkahnya dan menantang Clarissa. "Jaga ya mulut lo! Lo gak ada bukti! Gak usah nyebar berita yang gak bener!"


Clarissa mendecih, "Nova kemarin lihat lo jalan sama cowok kaya, pasti dia om-om hidung belang pelanggan lo kan!"


Perkataan Clarissa cukup keras yang menarik perhatian teman lainnya.


"Andini, gak nyangka dia kayak gitu."


"Mirisnya.."


"Kalau lo gak punya bukti! Lo gak usah fitnah gue!" Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Clarissa. "Gue masih bisa terima lo hina gue jelek! Miskin! Tapi kalau soal ini! Gue akan lawan lo!"


"Kurang ajar lo!! Berani tampar gue lagi!" Clarissa menjambak rambut Andini hingga terjadilah pertengkaran sengit mereka.

__ADS_1


"Ada apa ini ribut-ribut!!" teriak Bu Isti yang membuat mereka menghentikan pertengkarannya. "Hampir tiap hari kalian ribut seperti ini!"


"Ini Bu, Clarissa yang mulai duluan. Dia sudah mencemarkan nama baik saya."


"Loh, emang bener kan lo cewek BO."


"Clarissa, kamu jangan menuduh yang bukan-bukan sebelum ada bukti."


"Memang benar kok Bu. Kemarin Nova lihat sendiri dia jalan sama cowok kaya."


"Oo, yang kemarin itu, gue juga ketemu Andini kok di McD." kata Reni yang ikut bergerombol karena mendengar keributan itu. "Dia sama cowok masih muda dan ganteng juga. Kemarin dia juga bilang kalau dia sepupunya Andini."


"Clarissa? Kamu dengar kan kesaksian Reni. Jadi di sini kamu yang salah. Kamu minta maaf sama Andini karena sudah mencemarkan nama baik dia."


"Minta maaf sama dia Bu? Saya tidak salah. Baik, saya akan cari bukti kalau tuduhan saya itu memang benar." Tanpa diperintah Clarissa membalikkan badannya dan keluar dari kerumunan.


"Ya sudah, semua bubar! Segera masuk ke kelas karena pelajaran akan segera dimulai."

__ADS_1


Mereka semua bubar dan segera masuk ke dalam kelas. Tak terkecuali Andini. Dia sebenarnya kepikiran dengan ancaman Clarissa. Dia memang bukan wanita seperti itu, tapi jika ada yang mengetahui statusnya dengan Eza pasti semua akan mengira bahwa dia adalah seorang istri simpanan.


__ADS_2