Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Semakin Cinta


__ADS_3

Setelah selesai sarapan mereka memang langsung berangkat ke apartemen. Mereka seolah sedang berbulan madu saja. Apalagi Eza, sampainya di apartemen dia langsung tancap gas lagi seolah dia pengantin baru yang baru saja merasakan kenikmatan. Selalu mau lagi dan lagi.


Eza mengusap lembut rambut Andini dalam dekapannya. Andini masih saja tidur dengan nyenyak, sedangkan Eza sudah terbangun dan tidak bisa tidur lagi.


Dia pandangi paras cantik istrinya. Begitu terlihat menggemaskan saat tidur. Apalagi bibir yang sedikit terbuka itu seolah ingin menarik dirinya untuk mendekat.


Andini bergeliat sesaat merasakan hangat napas yang meniup-niup wajahnya. "Hmm, Mas ini jam berapa?" tanya Andini dengan mata yang masih terpejam.


"Sudah jam 4 sore." Eza memeluk tubuh polos istrinya semakin erat.


"Mau mandi, tapi mager banget."


"Gak papa, kamu tidur aja lagi."


Andini semakin menenggelamkan wajahnya di dada Eza. Kali ini dia hanya bermalasan, tidak benar-benar tertidur.


"Kuliah kamu gimana sayang?" tanya Eza.


"Ya gitulah, Mas. Nothing special."


"Ada cowok yang naksir kamu?"


Pertanyaan Eza membuat mata Andini terbuka dengan sempurna. Dia teringat kembali dengan Arka.


"Ada sih Mas, cowok yang gak jelas banget. Dia sering nungguin aku di dekat kelas."


Eza tertawa kecil. Istrinya sekarang memang cantik, sudah jelaslah pasti ada mahasiswa di sana yang mengejarnya. Terlebih dari fisik Andini yang sama sekali tidak nampak kalau dia sudah menikah. "Siapa?"


"Namanya Arka. Dia senior."


"Arka?" Eza mengingat-ingat nama itu yang seolah tidak asing di telinganya. "Kayaknya aku pernah kenal nama itu."

__ADS_1


"Emang Mas Eza kenal?" Andini mendongak menatap wajah suaminya.


"Kayaknya sih."


"Mas gak cemburu?"


"Ngapain cemburu sama anak kuliahan. Gak selevel." Eza tertawa renyah.


"Ih, Mas Eza." Sedetik kemudian Andini kembali menenggelamkan dirinya.


"Kita mandi yuk. Terus pulang."


"Katanya mau menginap di sini?"


"Gak jadi deh. Capek juga ternyata. Barusan kan kita sudah mengekspresikan semua rasa. Hmm, tapi satu kali lagi ya di kamar mandi."


Andini hanya mencibir. "Katanya capek tapi mau satu kali lagi."


"Nanti aku beliin sate madura deh, terus aku suapin."


Tersadar akan perubahan ekspresi dari Andini seketika Eza mengendorkan pelukannya dan menatap wajah Andini. "Maaf sayang, aku gak ada maksud buat ngingetin kamu."


Andini hanya menggelengkan kepalanya. "Gak papa Mas." Dia kini melepas pelukannya lalu berbaring menatap langit-langit.


"Maaf ya." Eza mengusap lembut pipi Andini.


"Kenapa aku masih belum bisa lupain kejadian itu ya Mas?"


"Iya sama sayang. Tapi kita harus ikhlas, sebentar lagi kita pasti akan dapat gantinya."


Andini mengangguk pelan.

__ADS_1


Eza kini mengusap perut rata Andini. "Hei, berenang yang kuat ya. Tuh, Bunda udah gak sabar ada kamu dalam sini." Satu kecupan lalu mendarat di atas perut Andini.


Andini hanya tertawa geli mendengar suaminya yang terkadang absurd itu. "Mandi yuk Mas."


"Yuk. Ya udah nanti kita makan ke McD aja ya." Eza beranjak dari tempatnya lalu mengangkat tubuh Andini dan berjalan menuju kamar mandi.


"Terserah Mas Eza aja." Andini mendekatkan dirinya lalu mencium bibir suaminya dengan tangan yang mengalung di lehernya.


Setelah sampai di dalam kamar mandi, mereka melepas ciumannya lalu Eza menurunkan Andini di bawah shower.


"Nggak berendam?" tanya Andini karena biasanya Eza akan menurunkannya di dalam bathtub.


Eza menggelengkan kepalanya. Lalu dia menghidupkan shower hingga air hangat membasahi tubuh mereka berdua.


"I love you.." kata cinta yang tak pernah bosan Eza ucapkan sampai saat ini dan akan terus dia ucapkan sampai nanti. Bahkan rasanya semakin hari dia semakin cinta.


Kedua tangannya kini meraih tubuh yang selalu dia damba. Memeluknya dengan erat, merasakan kehangatan yang tidak hanya berasal dari shower tapi juga dari kulit yang saling bersentuhan.


Tangan Eza mulai bergerak naik turun menyusuri punggung mulus istrinya. Bibirnya kini telah tenggelam di leher Andini. Menjejaki dan menyesapnya beberapa kali yang membuat lenguhan kecil muncul dari bibir Andini.


Eza mendorong pelan tubuh Andini hingga bersandar di tembok. Dia sudah siap menghujamnya lagi. Tapi kali ini dengan lembut dan penuh perasaan. Menikmati setiap gesekan yang tercipta. Mendayung bersama menuju pelepasan sempurna.


💞💞💞


.


.


.


.

__ADS_1


Like dan komentar ya..


Jangan diam-diam membaca.. 🤭


__ADS_2