Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Posesif 2


__ADS_3

Andini sebenarnya merasa risih menerima perlakuan Irvan yang terlalu intens. Padahal harusnya cukup acting biasa saja dan dansa ala kadarnya. Sentuhan mesra tangan Irvan di pinggangnya benar-benar membuatnya ingin mengelak kalau saja saat itu dia tidak berada di atas panggung sedang melakoni sebuah drama.


"I love you..." Bisik Irvan di dekat telinga Andini.


Andini melebarkan matanya. Dia speechless bahkan dia tidak mengira hal apa yang akan dilakukan Irvan selanjutnya. Tiba-tiba Irvan menciumnya tepat di bibirnya.


Mungkin saja sekarang hampir semua penonton melihat tindakan Irvan karena dia melakukannya di beberapa detik sebelum tirai panggung tertutup.


"Irvan! Lepasin!" Setelah tirai tertutup Andini berusaha melepas tangan Irvan dan mengelak ciumannya.


"Gue cinta sama lo. Lo mau gak..."


"Andini!!" Suara itu membuat Andini menoleh ke pemiliknya. Ada sebuah tatapan tajam dengan kilatan marah yang membuat Andini merasa takut. "Pulang!!" Eza menarik tangan Andini hingga membuat Irvan melepaskan dirinya.


Andini panik. Eza berani menggenggam tangannya bahkan menariknya cukup kasar agar mengikuti langkahnya di saat sekolah masih penuh dengan murid lain. Meskipun jalan yang Eza pilih adalah jalan pintas yang berada di samping teater menuju gerbang, tapi tetap saja masih ada beberapa teman Andini yang melihatnya.


"Hmm, Pak saya mau ambil barang-barang dulu..." Andini berusaha menghentikan langkah Eza tapi tak berhasil. Bahkan dia cukup kelabakan mengikuti langkah panjang Eza.


"Tidak usah! Biar nanti aku titipkan sama Bu Isti."


Setelah sampai di tempat parkir, Eza membuka pintu mobil. "Masuk!" perintahnya.


Andini hanya menurutinya. Dia tahu, pasti Eza salah paham dengan Irvan.


Eza masuk ke kursi pengemudi dan beberapa saat kemudian mobil melaju meninggalkan sekolah.


"Mas, jangan marah. Aku juga gak tahu kenapa Irvan berani lakuin itu."


Eza tak menyahutinya. Dia fokus ke depan dan masih tetap dengan kilatan marah.

__ADS_1


Andini merasa sangat takut. Baru kali ini dia melihat Eza marah. "Mas, maaf." Hanya itu yang bisa dia katakan. Sebelum akhirnya dia hanya memilih untuk diam selama perjalanan pulang.


Setelah keluar dari mobil, Eza kembali menarik tangan Andini agar mengikuti langkah jenjangnya.


"Mas, sakit." Andini berusaha melepas genggaman kuat tangan Eza yang berada di pergelangan tangannya.


Eza tak menggubrisnya. Dia hanya berdiri tegak sambil menunggu pintu lift terbuka.


Setelah pintu lift terbuka, Eza kembali menarik Andini. Dia berjalan cepat menuju apartemennya.


Dengan sekali gesek kartu akses, pintu terbuka.


Setelah menutup kembali pintu apartemennya, Eza kini mengungkung tubuh Andini dengan kedua tangannya di balik pintu.


"Mas,"


Eza menatap Andini masih dengan kilatan marah yang berkobar. Dadanya naik turun tidak teratur.


"Aku bisa lakukan lebih dari apa yang dilakukan Irvan!"


"Mas! Udah cukup!"


"Kenapa? Karena kamu cinta kan sama Irvan!"


"Mas, semua gak seperti apa yang Mas Eza pikirkan."


"Lalu, aku harus berpikir seperti apa?! Membiarkan kamu disentuh dan dicium sama orang lain!"


"Mas!"

__ADS_1


Eza kembali menyerang Andini. Dia seolah ingin melakukan lebih. Dia cium Andini dengan kasar bahkan tangannya mulai menjamah bagian tubuh lain Andini.


"Mas, lepasin!! Gak kayak gini caranya!" Andini mulai menangis. Dia berusaha melepaskan diri hingga akhirnya dia berhasil terlepas lalu berlari masuk ke dalam kamarnya dan segera mengunci pintunya.


Eza mengacak rambutnya frustasi. Dia atur napasnya agar akal sehatnya kembali bekerja dengan sempurna. "Apa yang udah aku lakuin. Kenapa aku bisa kebawa emosi hanya karena ulah bocah SMA."


Eza mendekati kamar Andini yang tertutup rapat. "Andini, maafin aku. Aku gak bermaksud kasar sama kamu. Aku cuma gak mau kamu dekat dengan pria lain."


Tidak ada jawaban dari kamar Andini.


"Andini, maafin aku." kata Eza sekali lagi sambil mengetuk pelan pintu kamar Andini tapi tetap tidak ada sahutan.


"Ya sudah, kalau kamu mau sendiri dulu." Eza menyerah. Mungkin saja Andini memang butuh waktu untuk sendiri.


Sampai sore hari berlalu bahkan sampai malam larut, Andini tak juga membuka pintunya.


Eza kembali mengetuk pintu kamar Andini. "Andini kamu mulai tadi pagi belum makan, belum minum. Ayo, buka dulu."


Masih sama, tetap tidak ada jawaban.


"Andini kalau kamu marah sama aku, kamu hukum aku jangan hukum diri kamu sendiri. Andini..."


Eza semakin khawatir dan sangat merasa bersalah. Tindakannya tadi siang memang sudah keterlaluan dengan Andini.


"Andini kalau kamu gak mau buka, aku dobrak pintunya."


"Andini..." Eza akhirnya mendobrak pintu kamar Andini. Sampai dobrakan ketiga akhirnya pintu berhasil terbuka. Eza segera masuk ke dalam kamar Andini dan melihat tubuh Andini meringkuk di atas ranjang dengan wajah piasnya.


"Andini, kamu kenapa? Maafin aku ya..." Eza meraih tubuh Andini lalu mengusap keringat dingin yang ada di pelipisnya.

__ADS_1


Andini hanya memejamkan matanya sambil merintih. "Andini kamu kenapa? Sayang maafin aku..."


💞💞💞


__ADS_2