
Andini bergeliat pelan. Tenggorokannya kini terasa kering kerontang. "Haus banget. Lupa tadi gak ambil air dulu."
Dia bangun secara perlahan sambil menyingkirkan tangan suaminya dari perutnya dengan gerak halus. Dia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 3 pagi. Sepertinya dia baru tidur hampir 3 jam saja mengingat pertempuran panas semalam yang tak kunjung usai sampai tengah malam.
Dia turun dari ranjang mengambil kimononya lalu dia pakai. Dia sempat berkaca sebelum mengikat tali kimononya. "Astaga, Mas Eza buat tanda merah banyak banget gini." Dia menatap dirinya di cermin yang sudah seperti macan tutul. Di leher, dada sampai ke perut banyak tanda merah hasil karya Eza.
Andini segera mengaitkan tali kimononya. Dia berjalan perlahan keluar dari kamar menuju dapur. Tanpa menghidupkan lampu agar tidak mengganggu yang lain.
"Pengen yang dingin-dingin. Mungkin ada es krim di kulkas." gumam Andini sambil membuka lemari pendingin yang ada di sisi dapur. Dia mengambil sekotak es krim walls yang memang tinggal separuh itu lalu membukanya dan memakannya di tempat tanpa menutup pintu kulkas terlebih dahulu.
"Ngapain?"
Suara itu berhasil membuat Andini terkejut seketika dia membalikkan badannya dan tanpa sengaja menumpahkan es krim yang ada di sendoknya ke dada bidang Eza yang tanpa penutup apapun itu. Dia hanya memakai celana pendek selutut saja.
"Ih, Mas Eza ngagetin aja. Tuh kan jadi kena." Andini kembali menutup es krim itu lalu mengembalikan ke dalam freezer. "Sebentar Mas, aku bersihkan dulu." Tangan Andini mengambil botol air minum dulu sebelum menutup pintu kulkas.
"Eh, Mas sebentar aku ambilin tisu dulu."
Eza justru menahan bahu Andini saat akan melangkah.
"Pakai lidah kamu aja. Kayak kamu makan es krim tadi."
Di dalam kegelapan dapur, suaminya ini bertambah sangat nakal. Tapi bagi Andini hal itu tidak masalah. Dia menyapu lembut bekas es krim yang menempel di dada Eza yang seketika meningkatkan gejolak yang baru saja mereda.
Eza mendorong tubuh Andini hingga tersandar di pintu kulkas. Serangan Eza membuat Andini menjatuhkan botol minumannya. Lagi-lagi dia dibuat mabuk kepayang dengan ciuman Eza yang tanpa jeda itu.
"Mas, botolnya tadi menggelinding kemana?" Setelah Eza melepas ciumannya, Andini berjongkok dan mencari botolnya yang menggelinding.
"Ke bawah meja kayaknya."
Andini menggeser tubuhnya ke bawah meja dapur yang cukup besar. Dia berhasil meraih botol itu tapi Eza yang telah ikut berjongkok di dekatnya justru mengunci tubuhnya. Mulai meloloskan serangan yang membuat Andini melenguh kecil.
"Ssshh, Mas.." lirih Andini saat tangan Eza terus menjamah area sensitifnya.
"Astaga suara apa itu? Ada ular?"
Andini menutup mulutnya sedangkan Eza langsung menghentikan gerakannya saat mendengar suara terkejut dari Bi Sum. "Harus panggil Pak Wawan, jangan-jangan ada ular beneran."
Setelah Bi Sum pergi, Eza mengambil botol minuman lalu menarik tangan Andini agar segera keluar dari dapur. "Kita lanjut di kamar saja sayang." Sepasang suami istri itu berjalan cepat menuju kamar seperti takut akan kena grebek warga.
Mereka berdua tertawa saat sampai di dalam kamar dan telah menutup pintunya kembali.
"Nih, ularnya emang nakal banget." Andini mengambil botol yang dipegang Eza lalu segera meminumnya untuk melepas haus dahaganya.
Eza masih saja terkekeh. "Ularnya minta dijinakin nih."
__ADS_1
Mendengar kode itu, Andini segera meletakkan botol minum di atas nakas lalu merebahkan dirinya dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Sayang, nanti digigit ular loh." Eza mengikuti Andini masuk ke dalam selimut.
"Mas, aku mau tidur lagi."
"Nanggung sayang, next adegan barusan lah."
"Mas, ih. Gak capek apa?"
"Ya, nggak dong. Enak malah."
Eza mengulang lagi pergulatan panasnya di hari yang sudah menjelang pagi itu. Masih menggebu dan tanpa jeda.
...***...
Andini membuka matanya saat sinar matahari dengan teriknya sudah menerobos tirai yang masih tertutup itu.
Dia menguap dan berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa sangat pegal, apalagi kedua pahanya terasa ngilu seperti telah mengikuti lari maraton berkilo-kilo meter.
"Udah jam 9!" Andini berusaha menyingkirkan tangan yang menindih dirinya. "Mas, udah siang nih."
"Hemm." Eza hanya bergeliat. "Ini hari Minggu. Lanjut tidur aja gak papa."
"Mas, gak enak sama Mama."
"Aku mandi sendiri aja Mas. Nanti Mas Eza mau lagi. Badan aku sakit semua apalagi paha aku sakit nih Mas." Andini bangun secara perlahan. Badannya terasa remuk seperti ayam geprek tanpa tulang.
Eza membuka matanya lalu menatap Andini. "Nggak." Tangannya kini terulur mengusap puncak kepala Andini. "Aku bantuin mandi ya. Gak akan ulangi adegan kok." Eza kini bangun lalu turun dari ranjang dan dengan gerak cepat dia mengangkat tubuh Andini. Dia berjalan menuju kamar mandi lalu menurunkannya di dalam bathtup. Kemudian mengisi bathtup dengan air hangat sampai setengahnya.
Eza ikut bergabung di belakang Andini. Dia ambil sabun dan melumuri punggung Andini sambil memijatnya perlahan. Untuk kali ini, Eza tidak akan mengulangi adegan. Cukup dengan mandi saja. Setelah selesai mereka segera berganti baju lalu merapikan rambutnya.
Andini berkaca sambil melihat lehernya yang ada beberapa tanda merah. "Mas, lihat nih hasil karyanya, terpampang jelas dan nyata." Andini berusaha menutupi tanda itu dengan rambutnya.
Eza hanya tersenyum tanpa dosa. "Gak papa kan udah punya suami."
"Ih." Andini berdiri lalu menggandeng tangan Eza untuk keluar dari kamar. "Sarapan yuk Mas. Aku lapar banget."
"Sarapan siang ya." Eza terkekeh sambil mengeratkan genggaman tangan Andini. Mereka menuju meja makan yang masih ada Mama sedang mengupas jeruk.
"Akhirnya bangun juga pengantin baru tapi lama ini. Kirain gak ingat sarapan?"
Eza dan Andini tersenyum tipis. Sarapan masih tersaji di meja makan.
Andini mengambilkan nasi untuk suaminya terlebih dahulu yang lengkap dengan lauknya, baru kemudian dia mengisi piringnya.
__ADS_1
"Mama udah sarapan?" tanya Eza.
"Udah, nungguin kalian ya bisa kelaparan Mama."
Bu Sonya tersenyum tipis melihat Andini. Rupanya mahakarya Eza bisa ditangkap mata jelinya. "Bi, ularnya udah ketemu?"
"Belum Nyonya." Bi Sum kini berjalan mendekat.
"Ada apa Ma?" tanya Eza pura-pura tidak tahu.
"Itu, kata Bi Sum tadi Subuh ada suara ular di dapur."
"Iya, suara desisannya keras banget. Pasti ularnya gede."
Andini hanya menunduk sambil menahan senyum. Ularnya gak terlalu gede sih tapi memabukkan.
"Udah Bi gak usah dicari, ularnya udah jinak sekarang."
"Loh, ular jinak itu kayak gimana Nya?" tanya Bi Sum tidak mengerti.
"Iya, habis gigit orang ularnya langsung mengecil." Bu Sonya semakin menjadi menggoda dua suami istri yang sekarang sedang makan dengan pipi yang bersemu merah.
"Siapa yang kena gigit? Memang ada ya ular yang setelah gigit langsung mengecil."
"Ada, ular kasur."
"Ular kasur? Baru dengar namanya. Kayak gimana Nya?" Bi Sum yang memang terlalu polos tidak mengerti sama sekali dengan omongan Nyonya besarnya itu.
"Tuh tanya aja sama Eza."
Seketika Andini hampir saja tersedak. Dia terbatuk-batuk untuk mengeluarkan makanan yang hampir tersesat di tenggorokannya.
"Eh, sayang minum dulu." Eza mengambilkan segelas air putih yang langsung diminum oleh Andini.
"Ya sudah saya lanjut cuci piring saja di dapur." Bu Sum berjalan kembali menuju dapur.
"Ma, kita lagi sarapan." Protes Eza agar Mamanya berhenti menggoda mereka.
Bu Sonya justru tersenyum kecil. "Makanya tahu tempat Za, iya kalau di apartemen kalian hanya berdua."
"Ya udah bentar lagi kita mau ke apartemen. Mau menginap semalam di sana."
"Ngapain menginap di apartemen?"
"Ya mau jinakin ular lah Ma."
__ADS_1
Satu tatapan tajam kini dilayangkan Andini sedangkan Bu Sonya hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Ularnya dijinakin berkali-kali juga nanti kembali liar lagi.