
"Sudah baca naskah dramanya? Kalian bisa mulai latihan sekarang. Persiapan untuk scene pertama. Cinderella, ibu tiri, dan dua saudara tirinya."
Clarissa tersenyum miring. Dia seperti merencanakan sesuatu. Mungkin saja sosok ibu tiri itu benar-benar telah merasuki jiwa Clarissa. Dia naik ke atas panggung yang diikuti Sasa dan Indah, sebagai saudara tiri Cinderella.
Di adegan pertama, Cinderella harus mengerjakan perkerjaan rumah dan terus dibentak-bentak oleh ibu tiri. Sepertinya kali ini Clarissa tidak hanya acting. Tapi dengan sengaja mendorong, memukul bahkan sampai menjambak rambut Andini hingga dia merasa kesakitan.
"Clarissa, apaan sih lo!!" Andini merasa kesal dengan perilaku Clarissa. Setelah scene pertama selesai, mereka turun dari panggung dan justru melanjutkan perdebatan mereka. "Ini tuh cuma acting kenapa lo ngelakuinnya beneran."
"Eh upik abu lo keberatan. Itu kan memang peran lo yang selalu ditindas. Biar terlihat lebih nyata."
Andini kini menatap tajam Clarissa dengan semua kekesalannya. "Lo memang sengaja ngelakuin itu sama gue!!"
"Lo benar-benar berani ya sekarang!" Clarissa mencengkeram bahu Andini.
__ADS_1
"Lepasin!!" Andini berusaha untuk memberontak hingga terjadi aksi dorong mendorong.
"Itu yang di sana!! Jangan bertengkar!!" teriak Bu Isti saat mengatur scene kedua, dimana ada Raja dan Pangeran di atas panggung.
Clarissa tak menggubris teriakan Bu Isti. Dia merasa semakin geram dengan Andini.
"Jangan mentang-mentang dapat perhatian dari Irvan jadi belagu! Lo itu gak pantes dandan kayak gini! Lo itu gak pantes deket sama Irvan! Sekali cupu tetap cupu."
Mereka masih terus bertengkar dan saling dorong. Hingga tangan Clarissa yang berada di pundak Andini berhasil merobek lengan Andini hingga terlihatlah bahu mulus Andini.
Dia berusaha menutupi bahunya lalu berlari keluar dari ruang teater sambil menangis. Dia merasa malu dengan dirinya sendiri. Dia merasa kesal karena selalu kalah melawan Clarissa.
"Clarissa!! Lo keterlaluan!!" Setelah turun dari panggung Irvan segera berlari untuk menyusul Andini.
__ADS_1
Andini terus berlari. Entah kemana dia akan pergi. Yang jelas untuk hari ini dia tidak ingin bertemu dengan siapa pun dulu. Walau baru saja dia merasa menyenggol bahu seseorang tapi dia tetap melanjutkan langkah cepatnya.
"Andini kamu kenapa?" pertanyaan Pak Eza sudah tidak Andini dengar. Pak Eza tahu persis Andini sedang menangis. Ingin dia mengejar Andini tapi dia urungkan karena beberapa saat kemudian dia melihat Irvan yang sedang berlari mengejarnya.
Pak Eza menghentikan langkah Irvan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. "Ada masalah apa? Sepertinya ada keributan."
"Iya, Clarissa berbuat ulah lagi di ruang teater. Permisi, Pak." Irvan kembali berlari untuk mengejar Andini.
Pak Eza berharap Irvan tidak menemukan Andini. Dia ingin dirinyalah yang ada saat Andini membutuhkan. Tapi sebagai lelaki dewasa dia harus lebih dulu menyelesaikan pokok permasalahannya. Dia kini berjalan menuju ruang teater.
Andini masih saja berlari. Melewati lorong-lorong kelas. Lalu ke belakang sekolah dan dia menemukan sebuah gudang yang sepertinya sudah tidak digunakan lagi. Dia masuk ke dalam gudang itu karena pintu memang telah usang dan rusak. Tak peduli dengan debu dan suasana horor yang menyelimuti. Dia kini duduk di sebuah kursi lusuh yang sudah tidak terpakai dan kembali menangis tergugu.
"Apa emang gue gak pantas berpenampilan seperti ini? Apa selamanya gue akan dihina dan ditindas seperti ini? Ayolah Andini, lo harus bisa lawan Clarissa. Harus bisa!!"
__ADS_1
Selalu, hanya diri sendiri yang menguatkannya. Sejujurnya dia ingin ada seseorang yang memberinya kekuatan atau bahu untuk bersandar saat dia merasa lemah. Tapi itu hanyalah angannya. Dia hanya sendiri.
I'm alone here... Just alone...