Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Keindahan


__ADS_3

Harap baca malam hari. 🤭


...✨✨✨✨✨✨✨...


"Sudah sore masih tidur aja." Eza mengecup singkat kening Andini yang masih terlelap di dalam pelukannya. Setelah makan siang, mereka langsung merebahkan diri di ranjang dan terlelap tidur. Tanpa melakukan ritual apapun, Andini langsung tertidur dengan nyenyak.


"Sayang, udah sore." kata Eza sambil mengusap pipi itu dengan lembut.


"Iya Mas." Andini mengerjapkan matanya sambil bergeliat. "Udaranya sejuk jadi betah buat tidur."


Eza mengendorkan pelukannya lalu menangkup pipi istrinya yang masih saja ingin bermalasan. "Jauh-jauh ke sini mau pindah tidur ceritanya."


Andini tertawa keras saat tangan Eza kini beralih ke pinggangnya dan menggelitik.


"Mas, geli.." Andini mendorong tangan Eza agar berhenti menggelitikinya. "Udah Mas." Andini akhirnya duduk dan bersandar di headboard. Dia kini menatap langit yang sudah hampir berubah jingga.


"Lihat matahari tenggelam di bathtub aja yuk. Kan ada jendela yang gede di sana." Eza beranjak dari tidurnya lalu mengangkat tubuh Andini tanpa menunggu persetujuannya lagi.


Andini melingkarkan tangannya di leher Eza. Dia kini justru mencium bibir yang menjadi favoritnya itu.

__ADS_1


Mendapat permulaan dari Andini, gelora Eza seketika terpancing. Dia membalas tautan bibir Andini dengan liar dan tanpa jeda.


Sampai di dekat bathtub, Eza melepas tautannya dan menurunkan Andini lalu segera membuka semua pakaian Andini dengan gerak cepat.


Andini kini menatap bathtub yang sudah terisi air dengan hiasan bunga di atasnya. Sangat cantik. Sepertinya sayang jika harus di rusak. Di dekat bathtup ada jendela persegi yang lumayan besar dengan pemandangan hutan yang sangat indah ditambah awan jingga yang mulai menghiasi.


Eza memeluk Andini dari belakang yang membuat lamunannya buyar karena punggungnya telah bersentuhan secara langsung dengan kulit Eza.


"Indah kan?" satu kecupan mendarat di pipi Andini.


Andini menganggukkan kepalanya. Dia mulai meremang saat Eza mulai membuat gambaran-gambaran abstrak dari dada sampai perutnya dengan ujung jarinya. Suara indah itu berhasil lolos ketika Eza menghentikan ujung jarinya yang dibantu dengan jempol untuk melakukan gerak memutar di puncak sensitif yang telah menegang itu.


Bibir Eza terus menjejaki leher mulus Andini bahkan kini dia sudah berani memberi tanda merah di sekitaran sana. Tangan kanannya mulai turun menyusuri lembah yang telah basah dengan gerakan halus dan memutar yang membuat gelenyar nikmat semakin menjalar ke seluruh tubuh.


"Mas, nanti ada yang lihat."


"Gak ada sayang, kacanya gak keliatan dari luar."


Eza masih setia berdiri di belakang Andini. Dia menangkup kedua benda yang menggantung bebas itu. Terasa semakin padat dan menggemaskan.

__ADS_1


"Sayang, kakinya agak dibuka."


Andini kini menoleh untuk menatap Eza, "Mas, mau ngapain?"


"Ajak kamu terbang." Eza memposisikan dirinya dan membuat Andini sedikit membungkuk.


Andini menahan tubuhnya dengan kedua telapak tangannya di kaca. "Hmm, Mas." Ini memang baru pertama kalinya Eza melakukannya dari belakang. Ada sedikit rasa ngilu di bawah sana.


"Sebentar sayang, tahan dulu." Eza berusaha menerobos kembali dengan memposisikan tubuh Andini agar lebih nyaman. "Sakit?"


Andini mengangguk pelan. "Dikit Mas."


Setelah membenamkan diri, Eza mulai menggerakkannya dengan perlahan. Kedua tangannya kini mulai menangkup kembali kedua benda yang menggantung itu yang ikut bergerak sesuai irama dari Eza.


Suara Eza begitu mendominasi, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bagian tubuhnya yang terus dia gesekkan semakin terasa terjepit dan dipijit-pijit di dalam sana.


"Sayang, nikmat sekali." Lalu Eza menyecapi punggung mulus Andini yang membuat Andini semakin membalas suara desa han Eza.


"Hmm, Mas.." Tubuh Andini menggelinjang sesaat. Gelombang dahsyat itu telah menerjang dirinya saat Eza semakin mempercepat tempo gerakannya.

__ADS_1


"Sayang, sampai.." Eza menuntaskan hasratnya dengan era ngan yang cukup keras. Tubuhnya terasa melemas. Mereka kini sama-sama beringsut ke dalam bathtub.


Eza mendekap tubuh Andini yang masih bergetar dengan napas tersenggalnya. Mereka kini menatap langit jingga yang semakin indah. Tanpa bersuara apapun lagi, hanya deru napas yang terdengar.


__ADS_2