Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Rendi?


__ADS_3

Rara menunggu gojek yang dia pesan. Tak berapa lama sudah ada pengendara gojek yang mendekatinya. Tanpa melihat plat nomor lagi, Rara langsung menaikinya setelah memakai helm yang diberikan tukang gojek itu. Dia juga tak sadar jika sedari tadi pengemudi itu hanya diam saja.


Beberapa saat kemudian ada panggilan masuk di ponsel Rara. Sampai beberapa kali akhirnya Rara mengangkatnya.


"Iya hallo... Loh, saya sudah naik Pak... Kalau begitu saya salah orang... Sebentar Pak."


Rara menepuk pundak orang itu. "Mas, maaf saya salah naik. Bisa kembali ke tempat tadi?"


Pengemudi itu tak menjawabnya.


"Mas?"


"Tidak. Aku tidak salah jemput. Beneran. Aku mau jemput Rara."


Suara itu berhasil membuat mata Rara membulat. "Kak Rendi!!"


Rendi membuka penutup helmnya yang gelap itu lalu sedikit menoleh ke Rara sambil tersenyum tapi dia masih tetap melanjutkan laju motornya dan tidak berputar arah lagi.


"Kak, aku ditungguin sama gojek yang asli."


"Sudah kamu bayar kan? Suruh selesaikan aja orderannya."


"Kak?" Rendi tetap saja tidak berhenti. Akhirnya Rara melakukan apa yang dikatakan Rendi.


"Ngapain sih Kak Rendi pakai nyamar kayak gini?"

__ADS_1


"Karena kalau aku jemput langsung kamu gak bakal mau. Aku udah dua kali ke rumah kamu juga gak kamu temui. Ya, aku jadi ngobrol sama orang tua kamu. Mereka senang banget loh dan mereka juga udah merestui hubungan kita."


"Hubungan apa sih Kak? Kita itu gak ada hubungan apa-apa." Rara menimpali pembicaraan Rendi dengan cukup kesal. Apa Rendi benar-benar ingin menaklukkan hatinya karena penasaran lalu setelah dia dapatkan akan ditinggalkan? Dia harus berhati-hati pada seorang player.


"Ra, harus pakai cara apa biar kamu percaya sama aku?"


"Kalau sekali playboy ya tetap aja playboy."


"Ra, aku udah tobat. Udah lama aku gak dekat sama cewek lain. Udah hampir satu tahun, sebelum bertemu dengan kamu waktu pertama kali dulu. Sejak Bos nikah sama Andini, aku jadi berpikir untuk merubah mindset aku soal cewek."


"Apa aku harus percaya sama Kak Rendi?"


Rendi terdiam beberapa saat dengan pandangan yang terus fokus ke jalanan.


"Aku akan buktiin kalau aku serius sama kamu," kata Rendi dengan kemantapan hatinya. "Kalau perlu aku akan langsung lamar kamu. Biar orang tua aku datang ke rumah kamu."


Beberapa saat kemudian Rendi menghentikan motornya di depan rumah Rara. Setelah Rara turun dari motor dan melepas helmnya, dia segera masuk ke dalam pagar rumahnya.


Rendi masih saja mengikutinya bahkan sampai depan pintu rumah Rara.


Kedatangan mereka langsung di sambut oleh Mamanya Rara. "Rara sama siapa?"


Rara mencium punggung tangan Mamanya. "Gojek." jawab Rara sambil berlalu tanpa menyuruh Rendi masuk terlebih dahulu bahkan untuk sekedar basa-basi.


"Loh, ini kan Rendi."

__ADS_1


Rendi tersenyum lalu bersalaman dengan sopan pada calon mertuanya itu. Iya, calon mertua.


"Kamu kok pakai jaket gojek gini?"


"Iya tante, soalnya Rara cuma mau dibonceng sama gojek," kata Rendi sambil tersenyum.


"Rara memang sedikit keras kepala. Masuk dulu gih. Ngobrol di dalam."


Rendi mengangguk lalu masuk ke dalam rumah Rara. Dia memang berniat untuk berbicara dengan orang tua Rara.


"Om Galih belum pulang?" tanya Rendi. Om Galih adalah Papanya Rara.


"Belum, kebetulan hari ini pulangnya agak malam. Oiya, tante buatkan minum dulu ya, mau minum apa?"


"Tidak perlu repot-repot tante. Saya cuma sebentar. Hmm, tante kalau seandainya orang tua saya bertamu ke sini boleh?"


"Orang tua kamu?" Bu Eni menghentikan perkataannya sesaat. "Maksud kamu mau melamar?"


Rendi menganggukkan kepalanya.


"Tapi semua keputusan ada di Rara."


"Iya tidak apa-apa tante. Saya akan tetap bawa orang tua saya ke sini apapun keputusan Rara," ucap Rendi tanpa keraguan lagi.


Bu Eni hanya tersenyum. Dia bisa menangkap keseriusan di wajah Rendi.

__ADS_1


Sedangkan di dalam sana, rupanya Rara sengaja menguping pembicaraan mereka. Dadanya kembali berdebar-debar tak menentu. Bagaimana kalau Rendi serius dengan ucapannya. Apa dia harus menerima lamaran Rendi?


__ADS_2